Sineas Muda Jambi Didorong Perkuat Kolaborasi untuk Tembus Industri Film Nasional

Sineas Muda Jambi Didorong Perkuat Kolaborasi untuk Tembus Industri Film Nasional

Suara Pecari, Jambi – Dunia perfilman Indonesia terus menunjukkan perkembangan pesat, namun tantangan bagi sineas daerah masih terasa berat. Di tengah dominasi produksi dari Pulau Jawa, para kreator muda di daerah seperti Jambi berjuang untuk mendapatkan tempat. Namun, semangat kolaborasi mulai digaungkan sebagai kunci utama untuk menembus industri film nasional. Hal ini disampaikan oleh Fikri Nuril Huda, sutradara dan produser dari Tanpatah Film, dalam dialog di program Mozaik Indonesia RRI Jambi pada 18 Juli 2026.

Kolaborasi: Kunci Bertahan di Era Kompetisi

Fikri menekankan bahwa saat ini bukan lagi zamannya menganggap sesama sineas sebagai pesaing. Sebaliknya, dengan membangun jejaring dan kerja sama, potensi daerah seperti pariwisata dan ekonomi kreatif dapat diangkat ke layar lebar melalui produk visual yang berkualitas. “Zaman sekarang adalah zaman kolaborasi. Kita bisa saling mengisi kekurangan dan membangun kekuatan untuk menembus industri film nasional,” ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan pergeseran paradigma dari kompetisi ke kolaborasi yang semakin relevan di era digital.

Menurut data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDB nasional mencapai 7,44% pada tahun 2025, dengan subsektor film, animasi, dan video menyumbang sekitar 1,2%. Namun, distribusi produksi masih timpang: lebih dari 70% produksi film nasional berasal dari Jakarta dan sekitarnya. Hal ini menunjukkan perlunya penguatan ekosistem perfilman di daerah.

Potensi Jambi yang Belum Tergarap Maksimal

Provinsi Jambi memiliki kekayaan alam dan budaya yang melimpah, mulai dari Taman Nasional Bukit Duabelas, Candi Muaro Jambi, hingga tradisi masyarakat adat Suku Anak Dalam. Sayangnya, potensi ini belum banyak diangkat dalam produksi film. Fikri optimistis bahwa dengan kolaborasi, sineas muda Jambi bisa menciptakan karya yang tidak hanya menghibur tetapi juga mempromosikan destinasi wisata dan kearifan lokal.

Potensi DaerahPeluang dalam FilmContoh Implementasi
Candi Muaro JambiLatar sejarah dan petualanganFilm dokumenter atau fiksi sejarah
Taman Nasional Bukit DuabelasEksplorasi alam dan konservasiFilm tentang keanekaragaman hayati
Kuliner khas (pempek, tempoyak)Kuliner sebagai daya tarikFilm bertema food travel
Budaya Melayu JambiCerita rakyat dan tradisiFilm animasi atau drama budaya

Langkah Strategis Menuju Industri Nasional

Fikri tidak hanya berbicara, tetapi juga telah mempraktikkan semangat kolaborasi melalui Tanpatah Film, rumah produksi yang ia dirikan. Beberapa langkah konkret yang didorong antara lain:

  • Workshop dan Pelatihan: Mengadakan pelatihan penulisan skenario, sinematografi, dan penyutradaraan bagi pemuda Jambi secara gratis atau berbiaya rendah.
  • Jaringan Produksi: Membangun kemitraan dengan komunitas film di kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung untuk pertukaran sumber daya dan distribusi.
  • Pemanfaatan Platform Digital: Mengoptimalkan platform streaming lokal dan nasional untuk memasarkan karya, seperti Vidio, GoPlay, dan KlikFilm.
  • Pendanaan Kreatif: Menggalang dana melalui crowdfunding dan program CSR perusahaan daerah untuk mendukung produksi film independen.

Menurut Fikri, kolaborasi juga harus melibatkan pemerintah daerah. Dukungan berupa kebijakan yang memudahkan perizinan, penyediaan lokasi syuting, dan insentif pajak bagi produksi film akan sangat membantu. Ia berharap Pemerintah Provinsi Jambi dapat membentuk forum atau badan khusus yang menaungi ekosistem perfilman lokal.

Dampak bagi Masyarakat dan Ekonomi Daerah

Jika ekosistem perfilman di Jambi tumbuh, dampaknya akan terasa luas. Tidak hanya bagi sineas, tetapi juga bagi sektor pariwisata, UMKM, dan tenaga kerja lokal. Produksi film membutuhkan kru, aktor, katering, transportasi, dan akomodasi, yang semuanya bisa disuplai oleh pelaku usaha setempat. Sebuah studi dari British Film Institute menunjukkan bahwa setiap £1 yang diinvestasikan dalam produksi film menghasilkan £4,20 untuk ekonomi lokal melalui multiplier effect.

Selain itu, film yang mengangkat budaya Jambi dapat meningkatkan minat wisatawan untuk berkunjung. Contoh sukses dari daerah lain adalah film “Laskar Pelangi” yang mempopulerkan Belitung, atau “Ada Apa dengan Cinta?” yang menghidupkan kembali kawasan Kota Tua Jakarta. Jambi memiliki potensi serupa jika dikelola dengan baik.

Harapan untuk Generasi Muda

Fikri berharap anak muda di Jambi tidak hanya menjadi penonton, tetapi mulai aktif memproduksi karya yang mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional. “Jangan takut memulai. Mulailah dengan kamera ponsel, buat film pendek, dan bagikan ke media sosial. Setiap karya adalah batu loncatan,” ujarnya. Ia mencontohkan sineas muda seperti Joko Anwar yang memulai dari film pendek, atau Kamila Andini yang mengangkat budaya lokal ke panggung internasional.

Untuk memudahkan pemula, berikut adalah langkah-langkah awal yang bisa diambil:

  1. Bergabung dengan komunitas film di Jambi, seperti Komunitas Film Jambi atau Forum Sineas Jambi.
  2. Ikuti workshop online gratis dari platform seperti Kineforum atau Kelas Film.
  3. Buat film pendek dengan tema lokal dan ikut serta dalam festival film daerah.
  4. Jalin kerja sama dengan sineas dari daerah lain untuk produksi bersama.
  5. Manfaatkan program pemerintah seperti Dana Indonesiana dari Kemendikbudristek.

Semangat kolaborasi yang diusung Fikri dan Tanpatah Film sejalan dengan visi besar untuk memperkuat posisi Jambi di peta industri perfilman Indonesia. Langkah kecil yang dimulai dari dialog di RRI Jambi ini diharapkan menjadi awal dari gerakan yang lebih masif. Dengan sinergi antara kreator, pemerintah, dan masyarakat, bukan tidak mungkin Jambi akan melahirkan sineas-sineas berbakat yang tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga di kancah global.

Di tengah arus informasi dan hiburan yang semakin deras, film tetap menjadi medium yang kuat untuk menyampaikan cerita, nilai, dan identitas. Sineas muda Jambi memiliki kesempatan untuk menulis ulang narasi daerahnya sendiri, bukan hanya sebagai konsumen, tetapi sebagai pencipta. Kolaborasi adalah jembatan menuju mimpi itu.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *