Babinsa Jegu Laksanakan Pengamanan Terpadu Upacara Ngaben: Sinergi TNI-Polri-Adat Jaga Kelancaran Prosesi

Babinsa Jegu Laksanakan Pengamanan Terpadu Upacara Ngaben: Sinergi TNI-Polri-Adat Jaga Kelancaran Prosesi

Suara Pecari, Upacara Ngaben merupakan ritual sakral dalam tradisi Hindu Bali yang tidak hanya memiliki makna spiritual mendalam, tetapi juga melibatkan aspek sosial dan keamanan yang kompleks. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, sinergi antara aparat keamanan dan tokoh adat menjadi kunci suksesnya setiap prosesi adat. Hal ini terlihat jelas dalam pengamanan upacara Ngaben dan Perabuan almarhum Ipda Purn. I Gusti Ngurah Tantra di Desa Jegu, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, pada Senin, 27 Juli 2026.

Babinsa Desa Jegu, Serma I Made Duduk dari Koramil 1619-08/Penebel, bersama dengan Bhabinkamtibmas dan Pecalang Adat, bersinergi mengamankan jalannya upacara yang dihadiri oleh ratusan warga dan keluarga. Prosesi dimulai dari rumah duka di Banjar Dinas Cepag, melewati sejumlah ruas jalan utama, hingga menuju Setra (kuburan) Puri Oka yang menjadi lokasi kremasi. Kehadiran aparat keamanan tidak hanya untuk memastikan ketertiban, tetapi juga memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum yang merupakan purnawirawan Polri dengan pengabdian panjang.

Latar Belakang Upacara Ngaben dan Perabuan

Ngaben adalah upacara pembakaran jenazah dalam agama Hindu Bali yang bertujuan untuk menyucikan roh orang yang meninggal dan membebaskannya dari ikatan duniawi. Sementara itu, Perabuan merupakan prosesi pengumpulan abu jenazah untuk kemudian dilarung ke laut atau tempat suci lainnya. Almarhum Ipda Purn. I Gusti Ngurah Tantra meninggal dunia karena faktor usia dan sakit, sehingga upacara ini menjadi momen penghormatan terakhir yang sangat penting bagi keluarga besar dan institusi Polri.

Di Desa Jegu, tradisi Ngaben masih dijalankan secara turun-temurun dengan tata cara yang ketat. Masyarakat setempat sangat menghormati prosesi ini, sehingga partisipasi dari berbagai elemen, termasuk TNI dan Polri, sangat dihargai. Menurut I Wayan Sudiarta, seorang tetua adat setempat, upacara Ngaben tidak hanya membutuhkan dukungan spiritual, tetapi juga keamanan mengingat jumlah peserta yang besar dan rute iring-iringan yang melintasi jalan umum.

Sinergi TNI-Polri dan Pecalang Adat

Pengamanan terpadu yang dilakukan oleh Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan Pecalang Adat merupakan wujud nyata dari konsep kemanunggalan TNI dengan rakyat dan sinergi lintas sektor. Serma I Made Duduk menyatakan bahwa tugas ini adalah bagian dari pembinaan teritorial yang melekat pada setiap anggota TNI AD. “Kami hadir untuk memastikan seluruh rangkaian upacara berjalan aman, tertib, dan lancar. Melalui koordinasi yang baik antara TNI, Polri, dan Pecalang Adat, diharapkan masyarakat dapat melaksanakan prosesi dengan khusyuk sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada almarhum. Sinergi seperti ini menjadi kekuatan utama dalam menjaga keamanan dan keharmonisan di wilayah,” ujarnya.

Peran Pecalang Adat sebagai pengaman tradisional sangat penting karena mereka memahami tata cara adat dan medan setempat. Mereka bekerja bahu-membahu dengan TNI dan Polri mengatur lalu lintas, mengarahkan iring-iringan, dan mengantisipasi potensi gangguan. Tabel di bawah ini menunjukkan peran masing-masing elemen dalam pengamanan upacara:

ElemenTugas Pokok
Babinsa (TNI AD)Pengamanan area sekitar rumah duka dan Setra, koordinasi dengan pihak adat
Bhabinkamtibmas (Polri)Pengaturan lalu lintas dan pengamanan iring-iringan
Pecalang AdatPengamanan jalur adat, pelaksanaan protokol upacara

Kronologi Pengamanan

Berikut adalah rangkaian waktu pelaksanaan pengamanan upacara Ngaben dan Perabuan di Desa Jegu:

  • Pukul 07.00 WITA: Seluruh personel pengamanan berkumpul di Posko Gabungan yang berlokasi di Wantilan Desa Jegu. Briefing dipimpin oleh Serma I Made Duduk bersama Kepala Desa dan Pemangku Adat.
  • Pukul 08.30 WITA: Pengamanan dimulai di rumah duka. Personel memastikan akses jalan tidak terhalang kendaraan dan massa yang berlebihan.
  • Pukul 09.15 WITA: Iring-iringan jenazah meninggalkan rumah duka menuju Setra Puri Oka. Rute melewati Jalan Raya Penebel yang cukup padat. Personel melakukan pengalihan arus lalu lintas secara bergilir.
  • Pukul 10.00 WITA: Rombongan tiba di Setra Puri Oka. Prosesi kremasi dimulai. Pengamanan diperketat untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, termasuk kebakaran atau kericuhan.
  • Pukul 13.30 WITA: Prosesi Perabuan selesai. Personel membantu penguraian massa dan mengembalikan arus lalu lintas seperti semula.

Seluruh rangkaian berlangsung aman, tertib, dan lancar tanpa kendala berarti. Kehadiran Babinsa bersama unsur pengamanan lainnya mencerminkan komitmen TNI AD dalam menjaga kondusivitas wilayah sekaligus memperkuat sinergi dengan Polri dan unsur adat.

Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat

Pengamanan terpadu semacam ini memberikan dampak positif yang luas. Pertama, masyarakat merasa tenang dan dapat menjalankan ibadah dengan khusyuk tanpa rasa khawatir akan gangguan keamanan. Kedua, sinergi antara TNI, Polri, dan Pecalang Adat memperkuat hubungan institusi militer dengan masyarakat adat, yang pada gilirannya meningkatkan kepercayaan publik terhadap aparat. Ketiga, kelancaran arus lalu lintas selama prosesi menunjukkan bahwa koordinasi yang matang dapat meminimalkan dampak terhadap aktivitas warga lain.

Menurut Dr. I Wayan Sudarsana, seorang antropolog dari Universitas Udayana, keterlibatan TNI dalam upacara adat seperti Ngaben merupakan bentuk nyata dari pembinaan teritorial yang adaptif terhadap budaya lokal. “Ini bukan sekadar pengamanan fisik, tetapi juga pengakuan bahwa tradisi adalah bagian integral dari kehidupan masyarakat. TNI hadir sebagai pelindung, bukan sekadar pengawas,” ujarnya.

Implikasinya, model sinergi ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Bali maupun di seluruh Indonesia dalam mengamankan event budaya berskala besar. Ke depan, perlu ada standarisasi prosedur pengamanan yang melibatkan unsur adat agar setiap upacara adat mendapatkan perlindungan yang maksimal.

Penutup

Di tengah derasnya arus modernisasi dan globalisasi, tradisi Ngaben tetap menjadi pilar identitas masyarakat Bali. Kehadiran Babinsa Jegu bersama Bhabinkamtibmas dan Pecalang Adat dalam upacara ini bukan hanya sekadar tugas formal, melainkan perwujudan dari semangat gotong royong dan toleransi. Mereka tidak hanya melindungi prosesi, tetapi juga merawat keharmonisan sosial yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa. Seperti asap kremasi yang membumbung ke langit, semangat sinergi itu pun akan terus hidup dan memberikan teladan bagi generasi mendatang.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *