Bupati Singkil Ajak Warga Lestarikan Sagu untuk Ketahanan Pangan
Suara Pecari, Bupati Aceh Singkil, H. Safriadi Oyon, secara resmi mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus melestarikan dan mengembangkan tanaman sagu sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan daerah. Ajakan tersebut disampaikan dalam rangkaian Festival Sagu Singkel 2026 yang digelar di Desa Kuta Simboling, Kecamatan Singkil, pada Rabu, 22 Juli 2026. Festival yang diprakarsai oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh bersama sejumlah pegiat budaya dan didukung Kementerian Kebudayaan RI serta perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Aceh Singkil ini bukan hanya menjadi ajang seremonial, melainkan sebuah ikhtiar kolektif untuk menjaga warisan leluhur yang memiliki nilai strategis bagi masa depan.
Kronologi Festival Sagu Singkel 2026
Festival Sagu Singkel 2026 berlangsung selama satu hari dengan serangkaian kegiatan, mulai dari penanaman simbolis pohon sagu, pameran kuliner tradisional berbahan sagu, hingga diskusi tentang potensi sagu sebagai komoditas unggulan. Bupati Safriadi Oyon bersama pegiat budaya Wanhar Lingga turun langsung ke lokasi penggilingan sagu milik warga untuk melihat dan mempraktikkan proses pembuatan tepung sagu secara tradisional. Acara ini juga menjadi momentum untuk memperkenalkan inovasi pengolahan sagu menjadi berbagai produk kuliner modern tanpa meninggalkan cita rasa tradisional.
Sagu: Pangan Alternatif Pengganti Beras
Dalam sambutannya, Bupati Oyon menekankan bahwa sagu bukan sekadar tanaman biasa, melainkan sumber karbohidrat yang telah menjadi makanan pokok masyarakat Aceh Singkil sejak zaman dahulu. “Tanaman sagu ini harus kita kembangkan karena bisa diolah menjadi berbagai kuliner dan bahan makanan pokok pengganti nasi,” ujarnya. Data dari Dinas Pertanian setempat menunjukkan bahwa luas lahan sagu di Aceh Singkil mencapai sekitar 1.200 hektare, dengan potensi produksi hingga 800 ton tepung sagu per tahun. Namun, pemanfaatannya masih belum optimal karena dominasi konsumsi beras dan kurangnya diversifikasi pengolahan.
| Aspek | Sagu | Beras |
|---|---|---|
| Kandungan Karbohidrat | 85% | 78% |
| Indeks Glikemik | Rendah (35) | Sedang (70) |
| Ketersediaan Lahan | Rawa/gambut | Sawah irigasi |
| Ketahanan terhadap Iklim | Tahan banjir | Rentan kekeringan |
Kelebihan sagu sebagai tanaman yang adaptif di lahan rawa dan gambut menjadikannya solusi potensial untuk mengantisipasi krisis pangan di masa depan, terutama di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata.
Warisan Budaya dan Identitas Daerah
Wanhar Lingga, pegiat budaya Aceh Singkil yang juga Ketua Pelaksana Festival Sagu Singkel 2026, menjelaskan bahwa sagu memiliki nilai historis yang mendalam bagi masyarakat setempat. “Dari Singkil untuk dunia, sagu warisan leluhur dan bahan ketahanan pangan untuk masa depan,” tegasnya. Festival ini tidak hanya bertujuan melestarikan tanaman, tetapi juga kuliner tradisional yang berbahan baku sagu, seperti lompong sagu, godekh sagu, gedah sagu, dan cello sagu. Keempat jenis kuliner tersebut bahkan diusulkan untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Kebudayaan RI melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Aceh Singkil.
- Lompong Sagu: Kue tradisional berbentuk lonjong dengan tekstur kenyal, biasanya disajikan dengan kelapa parut dan gula merah.
- Godekh Sagu: Makanan ringan mirip bubur yang dimasak dengan santan dan garam, sering dinikmati sebagai sarapan.
- Gedah Sagu: Olahan sagu yang dicampur dengan pisang dan dibungkus daun pisang, lalu dikukus.
- Cello Sagu: Minuman tradisional yang terbuat dari sagu, gula aren, dan santan, disajikan hangat.
Dampak Ekonomi dan Pemberdayaan UMKM
Pelestarian sagu juga berdampak langsung pada sektor ekonomi kerakyatan. Bupati Oyon menekankan bahwa pengolahan sagu menjadi produk kuliner dapat mendongkrak pendapatan masyarakat, terutama pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Saat ini, tercatat ada 45 UMKM binaan di Aceh Singkil yang bergerak di bidang pengolahan sagu, dengan omzet rata-rata Rp3-5 juta per bulan. Dengan adanya festival dan pengakuan WBTB, diharapkan jumlah UMKM meningkat dua kali lipat dalam dua tahun ke depan. Pemerintah daerah juga berencana memberikan bantuan peralatan pengolahan dan pelatihan manajemen usaha bagi para pengrajin sagu.
Dukungan Multi-Pihak
Festival Sagu Singkel 2026 mendapat dukungan tidak hanya dari pemerintah pusat dan daerah, tetapi juga dari perusahaan perkebunan kelapa sawit di sekitar Aceh Singkil. Keterlibatan pihak swasta ini menjadi sinergi positif antara sektor pangan dan industri. Perusahaan-perusahaan tersebut turut menyediakan bibit sagu unggul dan mendukung program penanaman kembali di lahan-lahan tidur. Selain itu, Kementerian Kebudayaan RI melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Aceh menyediakan pendampingan dalam proses dokumentasi dan pengajuan WBTB.
Implikasi untuk Ketahanan Pangan Nasional
Langkah Aceh Singkil dalam melestarikan sagu sejalan dengan program pemerintah pusat yang gencar mendorong diversifikasi pangan lokal. Di tengah ketergantungan Indonesia pada beras, sagu menawarkan alternatif yang tidak hanya bergizi tetapi juga ramah lingkungan. Apalagi, Badan Pangan Nasional mencatat bahwa konsumsi beras nasional mencapai 29,1 juta ton pada tahun 2025, sementara produksi sagu baru dimanfaatkan sekitar 15% dari total potensi. Jika setiap daerah penghasil sagu, seperti Aceh Singkil, mampu mengoptimalkan produksinya, maka tekanan terhadap pasokan beras dapat berkurang secara signifikan.
Penutup: Menuju Kedaulatan Pangan Berbasis Kearifan Lokal
Festival Sagu Singkel 2026 telah membuka mata banyak pihak bahwa sagu bukan sekadar tanaman masa lalu, melainkan komoditas masa depan yang menyimpan potensi besar. Ajakan Bupati Safriadi Oyon untuk melestarikan sagu adalah panggilan untuk kembali pada akar budaya sekaligus melangkah maju menuju kemandirian pangan. Dengan sinergi antara pemerintah, masyarakat, pegiat budaya, dan swasta, sagu Singkil siap menjadi ikon ketahanan pangan yang tidak hanya membanggakan daerah, tetapi juga Indonesia di mata dunia. Kini, saatnya semua pihak bergerak bersama, dari Singkil untuk dunia.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










