MBG Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Jatim, Sekda UMKM Jadi Penggerak Rantai Pasok
Suara Pecari, Surabaya – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah pusat tidak hanya berdampak pada perbaikan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi katalis pertumbuhan ekonomi di daerah. Di Jawa Timur, program ini telah mendorong pertumbuhan ekonomi triwulan I 2026 mencapai 5,96 persen, dengan peran signifikan dari sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sebagai penggerak rantai pasok.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, saat menghadiri Temu Ilmiah Nasional (TIN) II Tahun 2026 Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) di Surabaya, Jumat, 3 Juli 2026. Menurut Adhy, pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu tidak terlepas dari kontribusi UMKM yang menjadi bagian integral dari ekosistem MBG.
Peran UMKM dalam Rantai Pasok MBG
UMKM di Jawa Timur terlibat dalam berbagai aspek penyediaan bahan pangan untuk program MBG. Mulai dari petani sayur, peternak ayam, nelayan, hingga pengolah makanan lokal. Mereka memasok bahan baku ke dapur-dapur MBG yang tersebar di 38 kabupaten/kota. Keterlibatan ini memberikan kepastian pasar bagi produk UMKM, yang sebelumnya sering kesulitan menembus rantai pasok modern.
Data dari Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur menunjukkan, hingga Juni 2026, lebih dari 5.000 UMKM telah bermitra dengan program MBG. Jumlah ini diperkirakan akan terus bertambah seiring perluasan jangkauan program ke daerah-daerah terpencil.
| Jenis UMKM | Jumlah Mitra | Komoditas Utama |
|---|---|---|
| Petani Sayur | 1.200 | Bayam, Kangkung, Wortel |
| Peternak Ayam | 800 | Telur, Daging Ayam |
| Nelayan | 500 | Ikan Laut |
| Pengolah Makanan | 2.500 | Nasi, Lauk, Camilan |
Dampak Berganda pada Penyerapan Tenaga Kerja
Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, MBG juga membuka lapangan kerja baru. Kebutuhan tenaga kerja muncul mulai dari pengelola dapur, juru masak, pelayan, hingga petugas kebersihan. Adhy menegaskan, “Program ini melahirkan kesempatan pekerjaan yang luar biasa, sehingga pada akhirnya pendapatan masyarakat juga meningkat.”
Diperkirakan, setiap dapur MBG mempekerjakan rata-rata 15-20 orang. Dengan jumlah dapur yang saat ini mencapai 1.500 unit di seluruh Jatim, maka total tenaga kerja yang terserap sekitar 22.500-30.000 orang. Angka ini belum termasuk tenaga kerja di sektor hulu seperti petani dan peternak.
Sinergi dan Kolaborasi Semua Pihak
Adhy menekankan bahwa keberhasilan MBG membutuhkan sinergi seluruh pemangku kepentingan. “Ini program yang besar sehingga harus bersinergi dengan semua pihak. Ekosistem tidak akan bergerak kalau tidak ada kolaborasi,” ujarnya. Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah membentuk Satuan Tugas MBG yang diketuai Wakil Gubernur Jawa Timur. Satgas ini bertugas memantau pelaksanaan program setiap hari, mulai dari kualitas makanan bergizi, keamanan pangan, hingga distribusi bahan baku.
Mekanisme Pengawasan
- Pemantauan harian oleh Satgas MBG di setiap dapur.
- Pemeriksaan sampel makanan secara acak oleh Dinas Kesehatan.
- Audit keuangan dan logistik oleh Inspektorat Provinsi.
- Pelaporan real-time melalui aplikasi SI-MBG (Sistem Informasi Makanan Bergizi Gratis).
“Kami konsen menjaga agar setiap dapur menjalankan perannya dengan baik, tidak ada penyimpangan, serta memenuhi standar kesehatan, higiene, dan sanitasi,” tegas Adhy.
Dampak dan Implikasi ke Depan
Keberhasilan MBG di Jawa Timur memberikan implikasi positif bagi daerah lain. Model integrasi UMKM dalam rantai pasok program pemerintah dapat direplikasi di provinsi lain. Selain itu, peningkatan pendapatan masyarakat melalui program ini diharapkan dapat mendorong konsumsi domestik dan memperkuat ketahanan ekonomi daerah.
Namun, tantangan tetap ada. Beberapa UMKM masih menghadapi kendala dalam memenuhi standar kualitas dan kuantitas pasokan. Oleh karena itu, pendampingan dan pelatihan dari dinas terkait menjadi krusial. Adhy berharap masukan dari para ahli gizi dalam TIN Persagi dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan MBG.
Penutup
Program Makan Bergizi Gratis telah membuktikan diri bukan sekadar program sosial, melainkan juga motor penggerak ekonomi kerakyatan. Dengan melibatkan UMKM secara masif, Jawa Timur berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi yang impresif sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan akademisi menjadi kunci keberlanjutan program ini. Jika terus dijaga, bukan tidak mungkin Jawa Timur akan menjadi contoh nasional dalam mengintegrasikan program gizi dengan pemberdayaan ekonomi lokal.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










