Elektrifikasi Kereta Api Mendorong Peningkatan Perjalanan Urban Hingga 401 Juta
Suara Pecari | Jumlah pengguna Kereta Rel Listrik (KRL) diprediksi akan meningkat signifikan, mencapai 401 juta perjalanan pada tahun 2025. Ini merupakan tambahan 140 juta perjalanan dalam dekade terakhir, dengan total mobilitas harian kereta api perkotaan meningkat dari 881 menjadi 1.063 perjalanan per hari.
Anne Purba, Vice President Corporate Communication PT Kereta Api Indonesia (KAI), menekankan pentingnya sistem elektrifikasi untuk menjaga stabilitas operasional dalam menghadapi trafik yang semakin padat. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan daya listrik akan terus bertambah seiring dengan peningkatan frekuensi perjalanan kereta.
“Ketika jumlah perjalanan KRL terus meningkat, kebutuhan daya listrik juga ikut bertambah. Penguatan elektrifikasi menjadi penting untuk menjaga kestabilan operasional, mendukung sistem persinyalan, serta memastikan perjalanan KRL tetap aman dan andal,” ungkap Anne.
Lintas Bogor menjadi yang tertinggi dengan 299 perjalanan kereta api setiap harinya, diikuti jalur Bekasi dan Serpong yang masing-masing mencatat 232 dan 204 perjalanan rutin. Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) mendominasi pergerakan urban, mencatat total 349,3 juta perjalanan, sedangkan Surabaya hanya mencapai 16 juta pengguna.
Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan terus mendorong transformasi layanan melalui integrasi antarmoda. Revitalisasi stasiun serta penguatan konektivitas di kawasan strategis juga menjadi bagian dari upaya ini. Rencana pengembangan infrastruktur kelistrikan, seperti di Stasiun Jatake, bertujuan untuk mengantisipasi pertumbuhan frekuensi perjalanan kereta di masa depan.
Wisnu Pramudya, Executive Vice President Corporate Secretary KAI, menegaskan bahwa transportasi rel merupakan tulang punggung mobilitas. Ia menyatakan bahwa pembangunan sistem elektrifikasi adalah investasi jangka panjang untuk efisiensi perjalanan masyarakat.
“Transportasi berbasis rel saat ini berkembang menjadi tulang punggung mobilitas perkotaan. Oleh karena itu, pembangunan elektrifikasi perlu dipandang sebagai penguatan sistem transportasi jangka panjang untuk menjaga kapasitas layanan dan meningkatkan kualitas konektivitas kawasan urban,” jelas Wisnu.
Optimalisasi waktu tunggu antarkereta juga menjadi fokus utama dalam menghadapi perkembangan kawasan hunian terpadu baru. Selain itu, transformasi layanan digital diharapkan dapat meningkatkan pengalaman perjalanan para pelanggan setia kereta api.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.
















