Stok Beras Nasional Capai Rekor Tertinggi, Antisipasi Kemarau Ditingkatkan
Suara Pecari | Pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa stok beras nasional telah mencapai 5,37 juta ton per 18 Mei 2026, mencatatkan angka tertinggi dalam sejarah negara ini. Hal ini diungkapkan oleh Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI di Jakarta pada 19 Mei 2026.
Serapan beras nasional juga menunjukkan kemajuan, dengan jumlah mencapai 2,8 juta ton, atau sekitar 70 persen dari target serapan tahun ini yang ditetapkan sebesar 4 juta ton. Sudaryono menegaskan bahwa ketahanan pangan nasional semakin kuat, terutama di tengah tantangan yang dihadapi di tingkat global.
“Serapan beras dari Januari hingga Mei mencapai 2,8 juta ton, dan stok nasional mencapai 5,37 juta ton. Ini adalah stok tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia,” ucap Sudaryono. Ia menambahkan bahwa pemerintah berkomitmen untuk memperkuat kemandirian pangan melalui penyerapan gabah dan penguatan cadangan beras pemerintah.
Produksi beras nasional tahun 2025 tercatat mencapai 34,69 juta ton, meningkat 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun demikian, pemerintah tetap mewaspadai kemungkinan terjadinya musim kemarau panjang pada tahun ini, terutama dengan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika yang menyebutkan bahwa puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
Untuk meminimalisir dampak dari musim kemarau terhadap produksi pangan, pemerintah telah memperkuat cadangan beras nasional. Selain itu, Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Gabah Beras Dalam Negeri telah diterbitkan sebagai langkah strategis dalam menjaga ketersediaan pangan.
Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Hariyadi, memberikan apresiasi terhadap langkah pemerintah dalam memperkuat cadangan pangan. Ia menyatakan bahwa stok cadangan beras pemerintah telah melampaui 5 juta ton, yang merupakan angka tertinggi yang pernah dicapai.
Meskipun stok beras nasional menunjukkan kinerja yang positif, DPR RI mengingatkan agar pemerintah tetap waspada terhadap potensi krisis pangan global yang bisa dipicu oleh perubahan iklim dan gangguan dalam perdagangan internasional. Langkah-langkah proaktif diperlukan untuk memastikan ketahanan pangan tetap terjaga.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.
















