Rupiah Melemah Akhir Pekan, Analis Pasar: Inflasi AS Tetap Tinggi

Rupiah Melemah Akhir Pekan, Analis Pasar: Inflasi AS Tetap Tinggi

Suara Pecari | Rupiah melemah akhir pekan ini, dengan nilai tukar rupiah turun 0,20 persen atau 35 poin menjadi Rp17.880 per dolar AS. Menurut Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, sentimen pasar sebenarnya membaik karena laporan perpanjangan gencatan senjata AS-Iran. Namun, beberapa usulan masih harus mendapat persetujuan Presiden Trump.

Informasi tersebut masih membuat harga minyak berfuktuatif di pasar dunia. Di sisi lain, pelaku pasar melihat tekanan inflasi yang tetap tinggi di AS setelah rilis data inflasi pengeluaran konsumsi pribadi. Inflasinya lebih tinggi dari perkiraan, sehingga the Fed kemungkinan masih akan mempertahankan suku bunga tinggi.

Data pertumbuhan ekonomi di AS juga melambat dari perkiraan pada kuartal I 2026. PDB hanya sebesar 1,69 persen, direvisi turun dari perkiraan 2 persen. Selain itu, data klaim pengangguran awal meningkat menjadi 215 ribu, melampaui perkiraan 211 ribu.

Di dalam negeri, Ibrahim mencermati aliran keluar modal asing yang masih tinggi dari negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Para investor cenderung memindahkan asetnya ke instrumen berisiko rendah di AS, misalnya ke obligasi karena imbal hasilnya menarik.

Pasar juga mengkhawatirkan hasil penilaian lembaga pemeringkat global terhadap Indonesia. Diantaranya S&P Global, Moodys, dan Fitch Rating yang akan membebani kepercayaan pasar. Pelemahan rupiah yang terus menerus belakangan ini, menimbulkan tekanan di pasar saham.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan