Rupiah Makin Amblas ke Posisi Rp17.903 per Dolar AS pada Pembukaan Perdagangan
Suara Pecari | Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat makin tak terkendali. Menurut data terbaru, rupiah merosot tajam sejak pembukaan perdagangan Rabu 3 Juni 2026. Pada pukul 09.30 WIB, rupiah terpantau berada pada level Rp17.903 per dolar AS, turun 0,36 persen atau 64 poin.
Analisis pasar uang dari Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana, memprakirakan apresiasi tipis pada rupiah. Menurut dia, masih ada sejumlah sentimen positif yang dapat mendorong penguatan rupiah. Namun, lanjut dia, Iran menyatakan telah menghentikan negosiasi dengan AS. Kondisi tersebut sulit diterima Washington dan kembali menimbulkan ketidakpastian tinggi di kawasan Timur Tengah.
Dalam beberapa hari terakhir, neraca perdagangan Indonesia masih membukukan surplus hingga April 2026, meski nilainya berkurang. Dengan demikian, neraca perdagangan Indonesia sudah mengalami surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Rupiah masih sulit terapresiasi, penguatan pada awal Juni masih rapuh. Ekonom Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menuturkan bahwa nilai tukar rupiah masih rentan terhadap pembalikan aliran dana asing dan tekanan baru di pasar valas.
Imbal hasil obligasi Pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun turun menjadi 4,44 persen dari 4,68 persen. Hal ini didorong oleh harapan akan tercapainya kesepakatan damai dengan Iran, meski kondisinya jauh dari harapan.
Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS makin memperburuk kondisi ekonomi Indonesia. Apabila tren ini terus berlanjut, maka dapat diprediksi bahwa rupiah akan terus menurun dalam beberapa hari ke depan.
Untuk mengatasi keadaan ini, pemerintah Indonesia perlu mengambil langkah-langkah yang jelas untuk meningkatkan nilai tukar rupiah. Salah satu cara adalah dengan meningkatkan ekonomi domestik dan mengurangi ketergantungan pada ekspor.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












