OJK dan ILO Luncurkan Sistem Digital, Perluas Akses Pembiayaan Peternak Sapi Perah
Suara Pecari | Malang – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama International Labour Organization (ILO) meluncurkan sistem Enterprise Resource Planning (ERP) yang dirancang untuk memperluas akses pembiayaan formal bagi peternak sapi perah di Jawa Timur. Peluncuran yang berlangsung di Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung, Kabupaten Malang, pada Kamis, 11 Juni 2026 ini menjadi tonggak baru dalam upaya digitalisasi dan keberlanjutan sektor peternakan nasional.
Latar Belakang: Hambatan Akses Pembiayaan Formal
Selama bertahun-tahun, peternak sapi perah skala kecil dan menengah di Indonesia menghadapi hambatan signifikan dalam mengakses pembiayaan formal dari lembaga keuangan. Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto OJK, Adi Budiarso, mengungkapkan bahwa asimetri informasi menjadi kendala utama. “Kami mendapatkan laporan para peternak yang kerap menghadapi hambatan dalam mengakses pembiayaan formal akibat asimetri informasi. Yakni keterbatasan data valid, ketidakjelasan profil usaha, kapasitas produksi simpang siur, dan kondisi keuangan peternak yang belum terdokumentasi baik,” jelasnya.
Kondisi ini menyebabkan banyak peternak harus bergantung pada rentenir atau lembaga keuangan informal dengan bunga tinggi, yang justru memperburuk kondisi ekonomi mereka. Data dari Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa lebih dari 70% peternak sapi perah di Jawa Timur adalah peternak rakyat dengan kepemilikan 2-5 ekor sapi, sehingga sangat rentan terhadap fluktuasi harga susu dan biaya pakan.
Sistem ERP: Solusi Digital untuk Data Terpadu
Sistem ERP yang diluncurkan ini memungkinkan data produksi, keuangan, dan operasional koperasi terdokumentasi secara sistematis dan real-time. Dengan demikian, lembaga keuangan dapat memperoleh gambaran yang lebih akurat mengenai kapasitas usaha dan kondisi keuangan peternak. Adi Budiarso menambahkan, “Melalui data yang dihasilkan oleh sistem ERP ini, pemeringkat kredit alternatif dapat membangun profil kredit peternak secara lebih objektif, akurat, dan inklusif.”
Sistem ini telah terintegrasi dengan dua layanan utama: Pemeringkat Kredit Alternatif (PKA) dan Penyelenggara Agregasi Jasa Keuangan (PAJK). Integrasi ini diharapkan dapat menjembatani peternak dengan industri jasa keuangan formal, termasuk bank dan perusahaan pembiayaan.
| Komponen | Fungsi | Manfaat bagi Peternak |
|---|---|---|
| Sistem ERP | Mendokumentasikan data produksi, keuangan, dan operasional secara real-time | Menyediakan data valid untuk penilaian kredit |
| Pemeringkat Kredit Alternatif (PKA) | Membangun profil kredit berdasarkan data ERP | Penilaian kredit yang lebih objektif dan inklusif |
| Penyelenggara Agregasi Jasa Keuangan (PAJK) | Menjembatani peternak dengan lembaga keuangan | Akses lebih mudah ke berbagai produk pembiayaan |
Dukungan ILO dan Mitra Internasional
Direktur ILO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Simrin Singh, menekankan pentingnya digitalisasi dalam meningkatkan produktivitas dan ketahanan usaha. “Digitalisasi dapat meningkatkan produktivitas, memperluas akses terhadap pembiayaan, memperkuat ketahanan usaha, dan menciptakan peluang kerja yang lebih baik,” ujarnya. ILO telah lama mendukung pengembangan ekonomi inklusif di Indonesia, dan program ini merupakan bagian dari kerjasama dengan pemerintah Swiss.
Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Olivier Zehnder, menyoroti peran penguatan pelaku usaha lokal sebagai fondasi pembangunan ekonomi berkelanjutan. “Ketika peternak memiliki akses terhadap informasi, teknologi, dan layanan keuangan yang lebih baik, mereka memiliki kapasitas yang lebih besar untuk berinvestasi, meningkatkan produktivitas, dan berkontribusi pada pembangunan ekonomi daerah,” kata Zehnder.
Dampak dan Implikasi bagi Sektor Peternakan
Peluncuran sistem ERP ini diharapkan membawa dampak positif yang luas, tidak hanya bagi peternak, tetapi juga bagi industri susu nasional dan perekonomian daerah. Berikut beberapa implikasi yang diprediksi:
- Peningkatan Akses Pembiayaan: Dengan data yang terdokumentasi baik, peternak dapat mengajukan kredit ke bank dengan lebih mudah dan mendapatkan suku bunga yang lebih kompetitif.
- Efisiensi Operasional: Digitalisasi manajemen koperasi melalui ERP akan mengurangi biaya administrasi dan meningkatkan transparansi.
- Keberlanjutan Usaha: Dengan akses pembiayaan yang lebih baik, peternak dapat berinvestasi pada pakan berkualitas, bibit unggul, dan teknologi peternakan modern, sehingga meningkatkan produktivitas dan daya saing.
- Pertumbuhan Ekonomi Daerah: Sektor peternakan sapi perah di Jawa Timur menyerap ribuan tenaga kerja dan menjadi penggerak ekonomi pedesaan. Peningkatan akses pembiayaan akan memperkuat rantai nilai susu nasional.
Menurut data Dinas Peternakan Jawa Timur, produksi susu segar di provinsi ini mencapai 500.000 ton per tahun, atau sekitar 40% dari total produksi nasional. Namun, sebagian besar peternak masih menjual susu melalui tengkulak dengan harga rendah. Dengan sistem ERP, koperasi dapat mengelola pemasaran secara lebih efisien dan meningkatkan posisi tawar peternak.
Kronologi Peluncuran dan Tahapan Implementasi
Proses pengembangan sistem ERP ini telah berlangsung selama dua tahun terakhir, melibatkan OJK, ILO, Kementerian Pertanian, dan pemerintah Swiss. Berikut kronologi singkatnya:
| Tahun | Kegiatan |
|---|---|
| 2024 | Studi kelayakan dan identifikasi kebutuhan peternak di Jawa Timur |
| 2025 | Pengembangan sistem ERP dan uji coba di KAN Jabung |
| Juni 2026 | Peluncuran resmi sistem ERP di KAN Jabung, Kabupaten Malang |
| 2026-2027 | Ekspansi ke koperasi peternak lain di Jawa Timur dan provinsi lainnya |
Setelah peluncuran, OJK dan ILO akan melakukan pendampingan intensif kepada koperasi dan peternak untuk memastikan adopsi sistem berjalan lancar. Pelatihan penggunaan sistem dan literasi keuangan digital juga akan diberikan secara berkala.
Penutup: Menuju Peternakan yang Berdaya dan Berkelanjutan
Inisiatif OJK dan ILO ini bukan sekadar peluncuran teknologi, melainkan sebuah langkah strategis untuk mentransformasi sektor peternakan sapi perah yang selama ini terpinggirkan. Dengan sistem ERP, peternak tidak lagi buta akan data usahanya sendiri, dan lembaga keuangan pun memiliki jembatan untuk menyalurkan pembiayaan secara tepat sasaran. Harapannya, ke depannya peternak sapi perah di Indonesia tidak hanya menjadi pemasok susu, tetapi juga pengusaha yang mandiri, sejahtera, dan berdaya saing global. Inilah momentum untuk membangun ekosistem peternakan yang inklusif dan berkelanjutan, sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












