Kala Konjen Australia Kepincut Keripik Pisang Warga Desa Lombok Timur, Program INKLUSI Bawa Berkah
Suara Pecari | Kala konjen Australia kepincut keripik pisang warga desa Lombok Timur, momen itu terjadi di Desa Kembang Kerang, Kecamatan Aikmel, Lombok Timur, pada Rabu (10/6/2026). Konsulat Jenderal Australia untuk Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur, Jo Stevens, menyusuri gang sempit perkampungan yang dipenuhi aroma pisang goreng. Ia datang untuk melihat langsung dampak Program INKLUSI, sebuah inisiatif Pemerintah Australia bersama Pemerintah Indonesia yang digerakkan oleh Yayasan Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia (BaKTI) dan Lombok Research Center (LRC).
Di rumah sederhana milik Haeriah, perempuan 50 tahun yang akrab disapa Inaq Haeriah, Jo Stevens tak segan ikut memarut pisang kepok di dapur produksi. Meski tampak kesulitan, ia beberapa kali mencoba mengikuti gerakan Haeriah. Setelah itu, ia mencicipi keripik pisang yang baru diangkat dari penggorengan. “Ini lebih enak dari keripik kentang,” puji Jo Stevens, menggambarkan betapa kala konjen Australia kepincut keripik pisang warga desa Lombok Timur dengan cita rasa autentik.
Usaha keripik pisang Haeriah telah berjalan bertahun-tahun. Setiap hari, ia mengolah sekitar delapan tandan pisang atau 20 kilogram bahan baku menjadi keripik pisang, pisang sale, dan keripik singkong. Produknya dipasarkan melalui BUMDes Bina Sejahtera, toko oleh-oleh Madam Bakery, Santri Mart, hingga media sosial Facebook. Kala konjen Australia kepincut keripik pisang warga desa Lombok Timur menjadi bukti bahwa produk rumahan mampu menembus pasar luas, termasuk menarik perhatian diplomat asing.
Namun, perjalanan usaha Haeriah tidaklah mudah. Kenaikan harga minyak goreng hingga Rp75 ribu per liter sempat mengancam kelangsungan produksi. “Tetap saja produksi walaupun beli minyak Rp75 ribu,” ujarnya. Ia enggan berhenti karena khawatir kehilangan langganan dan pendapatan keluarga. Suaminya, H. Subhan, seorang petani, mengaku hasil bertani tidak cukup untuk membiayai anak mereka yang kuliah di perguruan tinggi swasta. Usaha keripik ini menjadi penopang ekonomi keluarga.
Program INKLUSI yang mendampingi Haeriah berfokus pada pemberdayaan kelompok rentan di desa. Melalui pembentukan Kelompok Konstituen dan dukungan bagi UMKM, program ini membantu Haeriah mengakses pelatihan, pemasaran, dan jaringan bisnis. Dampaknya terlihat: keripik Haeriah kini tidak hanya dijual di lingkungan sekitar, tetapi juga di supermarket dan marketplace. Kala konjen Australia kepincut keripik pisang warga desa Lombok Timur menjadi simbol keberhasilan program tersebut dalam mengangkat ekonomi lokal.
Kunjungan Jo Stevens juga menyoroti pentingnya pemberdayaan perempuan. Haeriah, dengan dapur sempitnya, mampu bertahan dan berkembang di tengah fluktuasi harga bahan baku. Ia bermimpi memiliki rumah produksi yang lebih besar agar bisa memproduksi lebih banyak dan memberdayakan tetangganya sebagai pekerja. “Cita-cita saya bisa memproduksi keripik lebih banyak dan memberdayakan tetangga sebagai pekerja,” tuturnya.
Kisah ini menginspirasi bahwa usaha kecil dapat membawa perubahan besar. Dukungan dari program seperti INKLUSI dan apresiasi dari pihak asing seperti Konjen Australia memberikan semangat baru bagi pelaku UMKM di desa. Di balik keripik pisang yang renyah, tersimpan perjuangan dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












