Menekraf Dorong Ekonomi Kreatif Perkuat Daya Saing ASEAN
Suara Pecari | Jakarta – Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa ekonomi kreatif memiliki peran strategis dalam menjaga otonomi dan daya saing Asia Tenggara di tengah gejolak global. Dalam sambutannya di Asia Economic Summit (AES) 2026, ia menyebut sektor ini bukan hanya sebagai penggerak pertumbuhan, tetapi juga sebagai instrumen diplomasi budaya dan penciptaan lapangan kerja.
Ekonomi Kreatif: Mesin Baru Pertumbuhan Nasional
Presiden Prabowo Subianto telah menempatkan ekonomi kreatif sebagai salah satu prioritas utama dalam strategi pembangunan nasional. Menurut Riefky, sektor ini mampu menjadi motor pertumbuhan yang tangguh, terbukti dari data tahun 2025 di mana Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif tumbuh 6,86 persen, melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya mencapai 5,11 persen. Angka ini berarti sektor ini tumbuh 1,75 poin lebih tinggi dari rata-rata nasional.
Pencapaian tersebut ditopang oleh nilai ekspor ekonomi kreatif yang mencapai USD31,94 miliar dan realisasi investasi sebesar Rp183 triliun. Tak hanya itu, sektor ini juga berhasil menyerap lebih dari 27 juta tenaga kerja, dengan mayoritas berasal dari kalangan generasi muda produktif. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi kreatif tidak hanya berkontribusi terhadap angka makro, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.
Peran Kekayaan Intelektual dalam Daya Saing
Menekraf menekankan bahwa kekayaan intelektual (KI) merupakan aset ekonomi yang strategis. Dalam jangka panjang, KI mampu menciptakan nilai tambah, mendorong investasi, dan memperkuat daya saing. “Dengan melindungi dan mengoptimalkan KI, kita dapat membangun ekosistem yang lebih terhubung, terintegrasi, dan inovatif di seluruh Asia Tenggara,” ujar Riefky. Ia juga mengajak negara-negara ASEAN untuk memperkuat kerja sama regional, kemitraan lintas batas, serta dukungan bagi para pencipta dan inovator.
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| Pertumbuhan PDB Ekonomi Kreatif 2025 | 6,86% |
| Pertumbuhan Ekonomi Nasional 2025 | 5,11% |
| Nilai Ekspor Ekonomi Kreatif | USD31,94 miliar |
| Realisasi Investasi | Rp183 triliun |
| Tenaga Kerja Terserap | 27 juta orang |
Kolaborasi Regional Semakin Mendesak
Terence Lee, Overall Lead dan Editor-in-Chief Tech in Asia, menilai bahwa kolaborasi regional menjadi semakin krusial. Menurutnya, negara-negara ASEAN perlu berkoordinasi dalam menghadapi tantangan global yang terus berkembang, seperti ketahanan ekonomi, pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), serta aliran modal di tengah ketidakpastian. “Kerja sama lintas batas diperlukan untuk memastikan daya saing kawasan tetap terjaga,” ujarnya dalam forum yang sama.
AES 2026 merupakan forum tingkat tinggi tertutup yang dihadiri oleh 250 pemimpin pemerintahan, CEO, investor, dan pembuat kebijakan. Forum ini bertujuan untuk menghasilkan kolaborasi nyata antara sektor publik dan swasta. Salah satu hasil konkret yang diharapkan adalah terbentuknya ekosistem ekonomi kreatif yang lebih solid di Asia Tenggara.
WCCE 2026: Ajang Lanjutan untuk Ekonomi Kreatif
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Riefky juga mengundang seluruh delegasi AES 2026 untuk hadir dalam World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 yang akan berlangsung di JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 21-23 Oktober 2026. Acara ini akan mengangkat isu-isu krusial seperti platform digital, AI, dan kekayaan intelektual. WCCE 2026 menjadi kelanjutan penting dari pembahasan di AES 2026, terutama dalam merumuskan agenda global serta memperkuat ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif dan berkelanjutan di masa depan.
Beberapa poin penting yang akan dibahas di WCCE 2026 antara lain:
- Pemanfaatan platform digital untuk memperluas pasar produk kreatif.
- Integrasi AI dalam proses kreatif dan produksi.
- Perlindungan hak kekayaan intelektual di era digital.
- Pengembangan talenta muda sebagai ujung tombak inovasi.
Dampak dan Implikasi
Dorongan terhadap ekonomi kreatif diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi berbagai pihak. Bagi masyarakat, sektor ini membuka peluang kerja baru, terutama bagi generasi milenial dan Gen Z yang kreatif dan melek teknologi. Bagi industri, adanya investasi dan perlindungan KI akan mendorong inovasi dan daya saing produk lokal di kancah global. Sementara bagi pemerintah, pengembangan ekonomi kreatif dapat menjadi sumber pertumbuhan baru yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat diplomasi budaya Indonesia di mata dunia.
Namun, tantangan tetap ada. Diperlukan regulasi yang mendukung, infrastruktur digital yang merata, serta peningkatan literasi KI di kalangan pelaku ekonomi kreatif. Kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat menjadi kunci untuk mengatasi hambatan tersebut.
Dengan semangat gotong royong dan visi yang jelas, ekonomi kreatif Indonesia berpotensi menjadi tulang punggung daya saing ASEAN. Ajang seperti AES dan WCCE menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama. Seperti diungkapkan Menekraf, “Kita dapat berkontribusi pada fondasi yang lebih luas untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif yang terhubung, terintegrasi, dan inovatif di seluruh Asia Tenggara.” Kini, saatnya tindakan nyata mengikuti kata-kata.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












