Resmi! OJK Umumkan Direksi Baru BEI 2026-2030, Targetkan Bursa Efek Indonesia Jadi Kelas Dunia

Resmi! OJK Umumkan Direksi Baru BEI 2026-2030, Targetkan Bursa Efek Indonesia Jadi Kelas Dunia

Suara Pecari | Resmi! OJK umumkan direksi baru BEI 2026-2030, targetkan Bursa Efek Indonesia jadi kelas dunia. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara resmi menetapkan susunan direksi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2026-2030 setelah melalui proses fit and proper test terhadap 28 kandidat. Pengumuman ini disampaikan oleh Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi Kiki, dalam konferensi pers di Gedung DPR RI, Kamis (18/6/2026).

Jeffrey Hendrik, yang sebelumnya menjabat sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI sejak Januari 2026, resmi ditetapkan sebagai Direktur Utama definitif. Dalam susunan baru ini, terdapat tujuh posisi direksi, bertambah satu jabatan baru yaitu Direktur Pengembangan. Berikut susunan lengkap Direksi BEI periode 2026-2030: Direktur Utama: Jeffrey Hendrik; Direktur Keuangan dan SDM: Umi Kulsum; Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa: Irvan Susandy; Direktur Penilaian Perusahaan: Saidu Solihin; Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan: Yulianto Aji Sadono; Direktur Teknologi Informasi dan Manajemen Risiko: Abdul Munim; serta Direktur Pengembangan: Iding Pardi.

Dalam pernyataannya, Jeffrey Hendrik menegaskan komitmennya untuk melanjutkan reformasi pasar modal, meningkatkan transparansi, tata kelola, serta pendalaman pasar. “Resmi! OJK umumkan direksi baru BEI 2026-2030, targetkan Bursa Efek Indonesia jadi kelas dunia. Kami akan terus melakukan reformasi yang sudah dimulai dalam empat bulan terakhir, serta memperkuat integritas dan kredibilitas bursa,” ujar Jeffrey di kompleks parlemen, Jakarta, Jumat (19/6/2026).

Langkah ini juga merupakan respons terhadap catatan dari penyedia indeks global MSCI dalam laporan MSCI 2026 Global Market Accessibility Review. Meskipun Indonesia tetap mempertahankan status pasar berkembang (Emerging Market), MSCI menyoroti sejumlah hambatan yang perlu dibenahi, termasuk praktik manipulasi perdagangan saham dan orchestrated trading. Jeffrey menegaskan bahwa pengawasan akan diperketat untuk meminimalkan praktik tersebut dan meningkatkan integritas pasar.

“Perbaikan dari sisi pengawasan akan terus kita lakukan, sehingga ke depan pengawasan akan menjadi lebih efektif. Catatan terkait manipulasi dan orchestrated trading akan ditangani lebih baik, namun likuiditas pasar tetap dijaga,” jelas Jeffrey.

Sementara itu, dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada Jumat (19/6/2026), disepakati pengangkatan jajaran dewan komisaris periode 2026-2030. Mantan Dirjen Pajak A Fuad Rahmany diangkat sebagai Komisaris Utama KSEI secara aklamasi. Dua komisaris lainnya adalah Indra Christanto dan Margeret M Tang. Fuad Rahmany memiliki pengalaman luas, termasuk sebagai Ketua Bapepam-LK (2006-2011) dan Dirjen Pajak (2011-2014). Indra Christanto saat ini menjabat Presiden Direktur PT Panin Sekuritas Tbk, sedangkan Margeret M Tang pernah memimpin KSEI sebagai Pjs Direktur Utama dan Direktur Utama.

Dengan kepemimpinan baru ini, BEI menargetkan untuk menjadi bursa kelas dunia yang setara dengan bursa-bursa negara maju. Jeffrey Hendrik optimistis bahwa reformasi yang berkelanjutan akan meningkatkan kepercayaan investor dan memperkuat posisi Indonesia di kancah global. “Resmi! OJK umumkan direksi baru BEI 2026-2030, targetkan Bursa Efek Indonesia jadi kelas dunia. Potensi BEI untuk menjadi bursa kelas dunia dapat segera kita wujudkan,” pungkasnya.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan