Pertama Sejak Krisis 1997, Korsel Longgarkan Aturan Perdagangan Won 24 Jam
Langkah Bersejarah: Perdagangan Won 24 Jam Resmi Berlaku
Suara Pecari, Korea Selatan memasuki babak baru dalam sejarah pasar keuangannya. Sejak 6 Juli 2026, perdagangan mata uang won resmi dibuka selama 24 jam penuh. Kebijakan ini merupakan pelonggaran terbesar terhadap kontrol mata uang negara tersebut sejak krisis keuangan Asia 1997. Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya Seoul untuk meraih status pasar maju dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Selama puluhan tahun, pemerintah Korea Selatan membatasi perdagangan won hanya pada jam kerja domestik sebagai strategi menjaga stabilitas nilai tukar pasca-krisis 1997 yang sempat membuat ekonomi negara itu nyaris kolaps. Kini, pembatasan tersebut mulai dilonggarkan agar won lebih mudah diperdagangkan investor global dan meningkatkan daya tarik pasar keuangan Korea Selatan.
Latar Belakang Krisis 1997 dan Pembatasan Won
Krisis keuangan Asia 1997 menjadi titik balik bagi Korea Selatan. Saat itu, nilai tukar won ambruk drastis, cadangan devisa hampir habis, dan negara terpaksa meminta bantuan Dana Moneter Internasional (IMF). Sebagai respons, pemerintah menerapkan kontrol ketat terhadap pergerakan won, termasuk membatasi jam perdagangan hanya pada jam kerja domestik (09:00-15:30 waktu Korea). Tujuannya untuk mengurangi spekulasi dan menjaga stabilitas nilai tukar. Kebijakan ini bertahan selama hampir tiga dekade, meskipun ekonomi Korea Selatan telah pulih dan menjadi salah satu kekuatan ekonomi global.
Namun, seiring dengan globalisasi dan meningkatnya integrasi pasar keuangan, pembatasan tersebut mulai dianggap sebagai hambatan. Investor asing kesulitan melakukan transaksi won di luar jam kerja Korea, sehingga mengurangi likuiditas dan daya saing pasar Korea. Oleh karena itu, pemerintah memutuskan untuk melakukan reformasi besar-besaran dengan membuka perdagangan 24 jam.
Dampak terhadap Nilai Tukar Won dan Pasar Modal
Meskipun kebijakan ini disambut positif oleh banyak pihak, implementasinya terjadi di tengah pelemahan won. Mata uang Korea Selatan itu sempat menyentuh level terendah dalam 17 tahun dan menjadi mata uang dengan kinerja terburuk di Asia sepanjang paruh pertama 2026. Nilai tukar won terakhir diperdagangkan pada kisaran 1.540 won per dolar AS, atau melemah lebih dari 6 persen sepanjang tahun ini. Ironisnya, pelemahan mata uang terjadi ketika fundamental ekonomi Korea Selatan justru menunjukkan kinerja kuat. Indeks Kospi melonjak sekitar 90 persen sepanjang tahun ini, didorong euforia kecerdasan buatan (AI) yang mengangkat saham perusahaan teknologi seperti Samsung Electronics dan SK Hynix. Ekspor juga mencetak rekor tertinggi, sementara surplus transaksi berjalan mencapai sekitar USD 28 miliar pada April 2026, salah satu yang terbesar dalam sejarah Korea Selatan.
Namun, derasnya arus modal keluar menjadi penyebab utama tekanan terhadap won. Dalam empat bulan pertama tahun ini, Korea Selatan membukukan surplus transaksi berjalan sebesar USD 102,7 miliar. Akan tetapi, sebagian besar dana mengalir kembali ke luar negeri, termasuk lebih dari USD 60 miliar untuk investasi langsung ke luar negeri dan pembelian surat berharga asing oleh investor domestik. Di sisi lain, investor global juga menarik sekitar USD 43,6 miliar dari pasar saham Korea Selatan.
| Indikator | Nilai | Periode |
|---|---|---|
| Nilai Tukar Won/Dolar | 1.540 | Juli 2026 |
| Pelemahan Won (YTD) | >6% | 2026 |
| Kenaikan Kospi (YTD) | ~90% | 2026 |
| Surplus Transaksi Berjalan | USD 28 miliar | April 2026 |
| Arus Modal Keluar (Investasi Langsung) | >USD 60 miliar | Jan-Apr 2026 |
| Penarikan Investor Asing dari Saham | USD 43,6 miliar | 2026 |
Reaksi dan Analisis Para Ahli
Kebijakan ini mendapat tanggapan beragam dari para analis dan pelaku pasar. Senior Asia Macro Strategist Amundi Asset Management, Claire Huang, menyatakan bahwa perpanjangan jam perdagangan merupakan langkah yang diperlukan untuk meningkatkan kehadiran Korea di pasar keuangan global. “Memfasilitasi transaksi won hingga setara dengan mata uang negara G10 membutuhkan likuiditas yang tersedia selama jam perdagangan yang lebih panjang,” ujarnya. Sementara itu, Senior Investment Manager Pictet Asset Management, Ali Bora Yigitbasioglu, menilai reformasi ini menunjukkan komitmen Korea Selatan terhadap standar internasional. “Meskipun prospek won masih bergantung pada siklus ekspor semikonduktor, penghapusan berbagai hambatan operasional akan membuat aset Korea secara struktural menjadi lebih menarik bagi investor,” katanya.
Namun, tidak semua pihak optimistis. Ekonom Barclays, Bumki Son, mengingatkan bahwa keterbukaan pasar yang lebih besar kemungkinan akan disertai volatilitas yang lebih tinggi. “Hal itu perlu menjadi perhatian para pembuat kebijakan,” tegasnya. Kekhawatiran ini beralasan mengingat pengalaman negara lain yang menerapkan perdagangan 24 jam, seperti Jepang dan Inggris, di mana volatilitas nilai tukar cenderung meningkat pada jam-jam perdagangan yang sepi.
Implikasi bagi Pasar Keuangan Indonesia dan Regional
Langkah Korea Selatan ini juga berpotensi berdampak pada pasar keuangan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Dengan likuiditas won yang meningkat, investor global mungkin akan mengalihkan sebagian portofolionya ke aset Korea, yang bisa mengurangi minat terhadap mata uang regional lainnya. Di sisi lain, jika kebijakan ini berhasil meningkatkan status Korea menjadi pasar maju, hal itu dapat menjadi preseden bagi negara-negara Asia lainnya yang ingin mereformasi pasar keuangannya. Bank Indonesia dan otoritas pasar modal Indonesia perlu mencermati perkembangan ini sebagai bahan evaluasi kebijakan domestik.
Kronologi Kebijakan Perdagangan Won
- 1997: Krisis keuangan Asia memaksa Korea Selatan menerapkan kontrol ketat terhadap won, termasuk pembatasan jam perdagangan.
- 2000-2025: Pasar keuangan Korea berkembang pesat, namun regulasi perdagangan won tetap ketat.
- 2024: MSCI kembali menunda kenaikan status Korea Selatan menjadi pasar maju, salah satunya karena akses pasar yang terbatas.
- Januari 2026: Pemerintah Korea mengumumkan rencana pelonggaran aturan perdagangan won.
- 6 Juli 2026: Perdagangan won 24 jam resmi dimulai.
- Juli 2026: Pasar merespons dengan volatilitas tinggi, namun volume perdagangan meningkat signifikan.
Masa Depan Won dan Pasar Keuangan Korea
Pemerintah Korea Selatan menegaskan bahwa pembukaan perdagangan won selama 24 jam bukan sekadar perubahan regulasi, melainkan infrastruktur penting yang memungkinkan pasar modal Korea mencapai tingkat aksesibilitas dan kemudahan yang diharapkan dari negara dengan status pasar maju. Wakil Menteri Keuangan Korea Selatan, Moon Jisung, menyatakan bahwa langkah ini adalah fondasi untuk menjadikan Korea sebagai pusat keuangan global. Namun, tantangan ke depan adalah menjaga stabilitas nilai tukar di tengah peningkatan volatilitas. Bank of Korea kemungkinan akan lebih aktif melakukan intervensi di pasar valas untuk meredam gejolak yang berlebihan.
Kebijakan perdagangan won 24 jam merupakan tonggak sejarah bagi Korea Selatan, yang berani melepas kebiasaan lama demi meraih status pasar maju. Meskipun risiko volatilitas mengintai, langkah ini menunjukkan keseriusan Seoul dalam berintegrasi dengan pasar global. Bagi investor, ini adalah peluang baru untuk mengakses aset Korea dengan lebih fleksibel. Namun, seperti kata pepatah, “ada harga yang harus dibayar untuk setiap kebebasan.” Kini, Korea Selatan harus siap menghadapi dinamika pasar yang lebih kompleks, sambil terus memperkuat fundamental ekonominya. Hanya waktu yang akan membuktikan apakah langkah berani ini akan membawa berkah atau justru malapetaka.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










