IHSG Tersungkur ke Level 5.594, Rupiah Menguat Tipis: Sinyal Darurat Pasar Modal?
Suara Pecari | Jakarta, 5 Juni 2026 – Pasar modal Indonesia kembali diguncang tekanan jual masif. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tersungkur ke level 5.594, rupiah menguat tipis di tengah kepanikan investor. Pada penutupan perdagangan Jumat, IHSG anjlok 4,20% atau 245,01 poin ke posisi 5.594,77, sementara indeks LQ45 turun 3,99% ke 557,75. Fenomena IHSG tersungkur ke level 5.594, rupiah menguat tipis menjadi sorotan utama pelaku pasar.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, mengungkapkan bahwa tekanan jual dipicu oleh ketidakjelasan kebijakan pemerintah dan rumor negatif yang beredar. “Beberapa ketidakjelasan kebijakan pemerintah dan rumor pasar yang direspons negatif oleh pasar, kembali mendorong tekanan jual pada pasar modal Indonesia,” ujarnya di Jakarta. Salah satu pemicu utama adalah revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) yang memicu kekhawatiran terhadap independensi lembaga keuangan.
Seluruh 11 sektor saham tercatat melemah, dengan sektor transportasi menjadi yang terburuk, turun 5,97%, diikuti sektor energi (-5,73%) dan infrastruktur (-5,3%). Total 626 saham ditutup di zona merah, sementara hanya 108 saham menguat. Volume perdagangan mencapai 37,41 miliar saham dengan nilai transaksi Rp31,46 triliun. Aksi jual asing juga terus berlanjut, dengan net foreign sell sepanjang 2026 mencapai Rp57,63 triliun.
Di tengah kejatuhan IHSG, nilai tukar rupiah justru menunjukkan penguatan tipis ke level Rp18.049 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp18.020. Pelemahan kurs rupiah sebelumnya memicu spekulasi bahwa Bank Indonesia (BI) akan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) Darurat, lebih cepat dari jadwal semula pada 17-18 Juni 2026. Kondisi IHSG tersungkur ke level 5.594, rupiah menguat tipis menjadi sinyal bahwa pasar masih mencari keseimbangan baru.
Dari sisi fundamental, Kementerian Keuangan melaporkan defisit APBN hingga Mei 2026 mencapai Rp180,4 triliun (0,7% PDB), melonjak dari defisit Rp20,9 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Meski masih di bawah target tahunan Rp689,1 triliun (2,68% PDB), angka ini menambah sentimen negatif. Pelaku pasar kini menanti data cadangan devisa Mei (8 Juni), consumer confidence (10 Juni), dan retail sales April (11 Juni) untuk mengukur arah kebijakan BI.
Analis memperkirakan IHSG berpotensi menguji level 5.500 pada pekan depan jika tidak ada katalis positif. “Di tengah minimnya katalis positif dan di bawah tekanan sentimen negatif, diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 5.500 pada pekan depan,” tambah Ratna. Dengan IHSG tersungkur ke level 5.594, rupiah menguat tipis, investor diimbau untuk tetap waspada dan mencermati perkembangan kebijakan pemerintah serta data ekonomi domestik. Pasar modal Indonesia berada dalam fase kritis yang membutuhkan respons cepat dari otoritas terkait untuk memulihkan kepercayaan investor.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












