Denpasar Belajar dari Jakarta untuk Perkuat Implementasi Kawasan Rendah Emisi
Suara Pecari, Denpasar mengambil langkah strategis dengan belajar dari pengalaman Jakarta dalam penerapan Kawasan Rendah Emisi (KRE). Tim Penyusun Rencana Aksi Daerah (RAD) KRE Sanur melakukan kunjungan studi ke Kawasan Kota Tua Jakarta pada 15-16 Juli 2026 untuk mempelajari praktik baik Low Emission Zone (LEZ) yang telah berjalan di ibu kota. Kunjungan ini dilakukan di tengah tekanan besar sektor transportasi di Denpasar, yang menjadi penyumbang utama emisi gas rumah kaca di Bali.
Latar Belakang: Krisis Emisi di Denpasar
Data menunjukkan bahwa sebanyak 1,85 juta kendaraan bermotor terdaftar di Kota Denpasar, atau sekitar 33,5 persen dari total kendaraan di Bali. Sektor transportasi menyumbang sekitar 43 persen emisi gas rumah kaca Provinsi Bali, jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 16 persen. Kondisi ini mendorong Pemerintah Kota Denpasar untuk mempercepat implementasi KRE, khususnya di kawasan Sanur yang merupakan destinasi wisata utama.
Kunjungan Studi ke Jakarta: Belajar dari Praktik Terbaik
Selama dua hari, tim mempelajari penerapan LEZ di Kota Tua Jakarta yang membatasi kendaraan pribadi dan didukung transportasi publik seperti TransJakarta dan KRL. Kepala Dinas Perhubungan Kota Denpasar, I Ketut Sriawan, menekankan pentingnya pendekatan sektor transportasi. “Kota Denpasar ingin mengarah pada transportasi berkelanjutan, dan pendekatan paling dekat untuk Kawasan Rendah Emisi Kota Denpasar dirasa lebih cepat intervensinya lewat sektor transportasi. KRE Sanur sebagai destinasi wisata sehingga fasilitas wisata yang aman dan nyaman, perlu didukung dengan kualitas udara yang bagus,” ujarnya.
Kasubag TU UPSPLL Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Irani Handalia, menegaskan bahwa keberhasilan kawasan rendah emisi bergantung pada kolaborasi lintas sektor. “Setiap kawasan yang direncanakan rendah emisi otomatis melibatkan hampir seluruh OPD, dari yang mengurus logistik dan pergudangan, transportasi massal, infrastruktur pejalan kaki, area pedagang UMKM, hingga fasilitas pendukung seperti angkutan umum. Seluruh koordinasi itu berada di bawah satu komando dari mandat, bukan di level dinas teknis semata, serta dimonitoring perkembangannya berdasarkan asas pembangunan dan lingkungan hidup,” jelasnya.
Pembelajaran untuk Sanur: Desain Kawasan Berorientasi Pejalan Kaki
Senior Manager for Resilience Cities Transport WRI Indonesia, I Made Vikananda, menambahkan bahwa pembelajaran dari Jakarta akan menjadi bekal penting dalam menyusun RAD KRE Sanur. “Kami saat ini sedang bekerja sama dengan Pemerintah Kota Denpasar untuk mendorong Perwali Kawasan Rendah Emisi diterjemahkan sebagai rencana-rencana strategis. Ketika penataan kawasan dilakukan dengan baik, hal ini mendukung peralihan kendaraan bermotor ke jalan kaki, sepeda, dan penggunaan shuttle sehingga peralihan mobilitas pengunjung KRE bisa dibantu menjadi semudah mungkin,” ujarnya. Desain kawasan yang mengutamakan pejalan kaki akan membantu menurunkan emisi sekaligus meningkatkan kualitas udara dan kenyamanan mobilitas masyarakat sesuai karakteristik Kota Denpasar.
Perbandingan Data Emisi dan Kendaraan
| Indikator | Denpasar | Jakarta (Kota Tua) | Nasional |
|---|---|---|---|
| Jumlah Kendaraan Terdaftar | 1,85 juta | – | – |
| Kontribusi Emisi Transportasi | 43% | – | 16% |
| Luas Kawasan KRE (ha) | Sanur (dalam perencanaan) | Kota Tua (berjalan) | – |
Dampak dan Implikasi bagi Denpasar
Implementasi KRE di Sanur diharapkan membawa dampak positif bagi lingkungan dan pariwisata. Dengan mengurangi emisi dari kendaraan bermotor, kualitas udara di kawasan wisata akan meningkat, memberikan kenyamanan bagi wisatawan dan warga lokal. Selain itu, peralihan moda transportasi ke jalan kaki, sepeda, dan shuttle akan mengurangi kemacetan dan polusi suara. Implikasi ekonomi juga terlihat, karena kawasan yang lebih bersih dan ramah lingkungan dapat menarik lebih banyak wisatawan yang peduli lingkungan.
Langkah Selanjutnya: Penyusunan RAD KRE Sanur
Pemerintah Kota Denpasar bersama WRI Indonesia akan segera menyusun RAD KRE Sanur berdasarkan hasil studi di Jakarta. Rencana aksi ini akan mencakup pengaturan lalu lintas, pengembangan infrastruktur pejalan kaki dan sepeda, serta penyediaan transportasi umum ramah lingkungan. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci, melibatkan dinas perhubungan, lingkungan hidup, pariwisata, dan UMKM. Target awal adalah mengurangi emisi kendaraan di Sanur sebesar 30% dalam lima tahun pertama.
Penutup
Langkah Denpasar belajar dari Jakarta bukan sekadar meniru, tetapi mengadaptasi praktik terbaik sesuai karakter lokal. Dengan komitmen kuat dan kolaborasi lintas sektor, KRE Sanur berpotensi menjadi model kawasan rendah emisi di Indonesia timur. Jika berhasil, Denpasar tidak hanya akan menikmati udara bersih dan mobilitas berkelanjutan, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata global yang ramah lingkungan. Perjalanan masih panjang, tetapi fondasi telah diletakkan melalui pembelajaran berharga dari Jakarta.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










