Sungai Silugonggo di Pati Mengering, Jutaan Ikan Mati dan Warga Panen Ikan Sapu-Sapu

Sungai Silugonggo di Pati Mengering, Jutaan Ikan Mati dan Warga Panen Ikan Sapu-Sapu

Suara Pecari, Pati – Sungai Silugonggo, yang juga dikenal sebagai Sungai Juwana di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mengalami kekeringan total akibat kemarau panjang. Debit air yang menurun drastis menyebabkan jutaan ikan sapu-sapu terdampar dan mati, sementara warga sekitar memanfaatkan kondisi ini untuk memanen ikan sebagai tambahan penghasilan.

Dasar sungai yang biasanya dialiri air kini berubah menjadi hamparan tanah kering dan retak-retak. Lumpur kecokelatan memenuhi dasar sungai, dan bau busuk yang menyengat berasal dari tumpukan bangkai ikan yang membusuk. Kondisi ini terlihat jelas di sekitar Bendungan Karet, Desa Bungasrejo, Kecamatan Jakenan.

Fakta Utama Kekeringan Sungai Silugonggo

  • Sungai Silugonggo mengering total akibat kemarau panjang selama sekitar empat bulan tanpa hujan.
  • Jutaan ikan sapu-sapu mati dan terdampar di dasar sungai yang mengering.
  • Warga memanen ikan sapu-sapu yang terdampar untuk dijual sebagai bahan baku pakan ikan lele dengan harga sekitar Rp2.000 hingga Rp2.500 per kilogram.
  • Bau menyengat dari bangkai ikan menjadi keluhan warga sekitar lokasi.
  • Debit air menurun drastis hingga tidak lagi mengalir ke Sungai Juwana, yang menjadi sumber air penting bagi masyarakat Pati.

Penjelasan dan Dampak Kekeringan

Kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Pati menyebabkan debit air di bendungan karet menurun drastis, hingga aliran sungai berhenti sama sekali. Akibatnya, ikan-ikan yang biasa hidup di sungai tersebut terjebak dan mati karena tidak ada air yang mengalir. Warga sekitar kemudian memanfaatkan situasi tersebut untuk memanen ikan sapu-sapu yang masih hidup maupun yang sudah mati.

Warga seperti Sunardi dari Desa Bungasrejo menyebutkan bahwa dalam satu minggu terakhir, banyak warga yang datang untuk mengambil ikan sapu-sapu dalam jumlah besar, bahkan hingga puluhan ton. Ikan hasil panen tersebut umumnya dijual atau digunakan sebagai pakan lele, sehingga menjadi sumber penghasilan tambahan bagi masyarakat terdampak kekeringan.

Konteks dan Perkembangan

Sungai Silugonggo merupakan salah satu sumber air utama yang membelah wilayah Kabupaten Pati dan sangat vital bagi kebutuhan masyarakat setempat. Kekeringan ekstrem ini menjadi alarm peringatan akan potensi krisis air yang semakin nyata di wilayah tersebut. Kondisi ini juga menjadi perhatian luas karena dampaknya terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Bau busuk dari bangkai ikan yang membusuk di dasar sungai serta kondisi tanah yang retak menambah keprihatinan warga sekitar. Banyak warga bahkan mendatangi lokasi untuk melihat secara langsung kondisi sungai yang biasanya memiliki debit air besar namun kini mengering total.

Dampak terhadap Warga dan Lingkungan

Kekeringan sungai tidak hanya mengancam ketersediaan air bersih bagi warga, tetapi juga menyebabkan kematian massal ikan yang merupakan bagian dari ekosistem sungai. Warga yang biasanya bergantung pada sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kini menghadapi risiko krisis air dan kehilangan mata pencaharian yang berkaitan dengan sumber daya air.

Pengambilan ikan sapu-sapu yang terdampar oleh warga menjadi solusi sementara untuk memanfaatkan sumber daya yang ada, namun juga menandakan dampak serius kemarau panjang terhadap lingkungan dan ekonomi lokal.

Situasi ini menjadi peringatan bagi perlunya langkah-langkah mitigasi dan pengelolaan sumber daya air yang lebih baik agar masyarakat dan lingkungan di Pati dapat menghadapi perubahan iklim dan kondisi cuaca ekstrem di masa depan.

Pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat bekerja sama dalam menjaga kelestarian sumber daya air dan mencari solusi untuk mengatasi dampak kemarau panjang yang semakin sering terjadi.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *