Serangan Israel ke Iran Kembali Memanas, Rupiah Anjlok ke Rp18.187 per Dolar AS
Suara Pecari | Pasar keuangan Indonesia kembali diguncang eskalasi konflik di Timur Tengah. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan signifikan pada penutupan perdagangan hari ini. Israel Kembali Serang Iran Rupiah Makin Anjlok ke Rp18 187 per Dolar AS LPP RRI menjadi sorotan utama pelaku pasar, di mana rupiah ditutup turun 0,84 persen atau 151 poin ke level Rp18.187 per dolar AS berdasarkan data Bloomberg.
Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kembali memanasnya konflik di Timur Tengah. Zionis Israel tidak hanya melancarkan serangan ke Lebanon, tetapi juga kembali menyerang wilayah Iran. Laporan media menyebutkan terdengar ledakan di Teheran, Tabriz, dan Isfahan. Serangan ini mengikis harapan pasar akan segera berakhirnya perang dan dibukanya kembali Selat Hormuz, jalur vital transportasi minyak dunia.
“Serangan Israel ke Iran telah mengikis optimisme pasar terhadap gencatan senjata. Situasi ini membuat investor beralih ke aset safe haven seperti dolar AS, sehingga menekan rupiah,” ujar Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi, Senin (8/6/2026). Ia menambahkan bahwa Israel Kembali Serang Iran Rupiah Makin Anjlok ke Rp18 187 per Dolar AS LPP RRI mencerminkan betapa rentannya nilai tukar terhadap gejolak geopolitik.
Serangan Israel terjadi meskipun Presiden AS Donald Trump meminta Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menahan diri. Namun, serangan tersebut dibalas dengan serangan intensif Iran ke wilayah pendudukan Zionis Israel. Kondisi ini memperburuk prospek perdamaian dan stabilitas kawasan.
Dari sisi domestik AS, data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan turut mendukung penguatan dolar. Laporan Non-Farm Payrolls (NFP) menunjukkan penambahan 172 ribu pekerjaan pada Mei, jauh di atas estimasi 85 ribu. Sementara tingkat pengangguran AS stabil di 4,3 persen. Data ini memperkuat argumen Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
“Data NFP yang lebih kuat menjadi sinyal bahwa The Fed belum akan melonggarkan kebijakan moneternya. Fokus pasar selanjutnya adalah data inflasi AS yang akan dirilis pada Rabu lusa,” jelas Ibrahim.
Di dalam negeri, Ibrahim menyoroti penggunaan anggaran negara untuk program prioritas pemerintah. Hal ini memicu kekhawatiran akan melebarnya defisit neraca transaksi berjalan, sementara surplus neraca perdagangan terus menyusut. “Pemerintah tampaknya harus menghitung ulang kebutuhan subsidi BBM karena melambungnya harga minyak dunia akibat konflik,” ucapnya.
Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa Indonesia pada Mei 2026 kembali turun menjadi USD 144,9 miliar. Penurunan ini menambah tekanan terhadap rupiah. Israel Kembali Serang Iran Rupiah Makin Anjlok ke Rp18 187 per Dolar AS LPP RRI menjadi pengingat bahwa ketidakstabilan global berdampak langsung pada perekonomian Indonesia.
Para pelaku pasar kini menanti data inflasi AS dan perkembangan konflik di Timur Tengah. Jika situasi tidak mereda, rupiah berpotensi terus tertekan. Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan mengambil langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Kesimpulannya, eskalasi serangan Israel ke Iran telah memicu pelemahan rupiah ke level terendah dalam beberapa waktu terakhir. Kombinasi faktor eksternal (konflik geopolitik dan kebijakan The Fed) serta internal (defisit transaksi berjalan dan penurunan cadangan devisa) membuat rupiah rentan. Pelaku pasar diimbau waspada terhadap volatilitas yang masih berpotensi terjadi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












