Iran Pastikan Serangan AS Dibalas Satu per Satu, Ingatkan Sejarah Besar Teluk Persia
Suara Pecari | Iran pastikan serangan AS dibalas satu per satu, ingatkan tentang sejarah besar Teluk Persia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Washington melancarkan serangan udara ke sejumlah target di Iran pada Rabu (10/6/2026) malam. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengklaim serangan itu sebagai tindakan defensif, namun Teheran menegaskan akan membalas setiap agresi secara berimbang.
Dalam pernyataan resmi, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan telah menyiapkan 12 rudal balistik yang akan ditembakkan ke Pangkalan Udara Al-Azraq di Yordania, yang menjadi markas jet tempur F-35, F-15, dan F-16 milik AS. Langkah ini merupakan respons langsung atas serangan rudal AS yang menargetkan lokasi rekreasi, kompleks industri, serta kawasan di sekitar Karaj dan Nazarabad di barat Teheran. Iran pastikan serangan AS dibalas satu per satu, ingatkan tentang sejarah besar Teluk Persia, di mana Selat Hormuz pernah menjadi saksi kekuatan maritim Persia.
Serangan balasan Iran tidak hanya terbatas di Yordania. Menurut laporan media pemerintah Iran, IRGC juga menembakkan rudal ke pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait. Bahrain merupakan tuan rumah Pangkalan Angkatan Laut Kelima AS, yang menjadi pusat operasi di Teluk Persia. Sementara itu, Yordania mengklaim berhasil menembak jatuh lima rudal Iran yang menargetkan pangkalan AS di wilayahnya.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sebelumnya menegaskan bahwa serangan terhadap Iran akan terus berlanjut jika Teheran tidak segera menyepakati perjanjian damai. “Kami akan memukul mereka dengan keras malam ini, dan mudah-mudahan Iran membuat keputusan yang baik. Jika kami harus bernegosiasi dengan bom, kami akan bernegosiasi dengan bom,” ujarnya di markas CENTCOM di Tampa, Florida. Namun, sikap keras Washington justru memicu eskalasi lebih lanjut.
Iran pastikan serangan AS dibalas satu per satu, ingatkan tentang sejarah besar Teluk Persia. Juru bicara IRGC menegaskan bahwa setiap serangan akan direspons dengan setimpal, mengacu pada catatan sejarah ketika kekuatan asing pernah terusir dari kawasan tersebut. “Kami tidak akan tinggal diam. Setiap rudal yang diluncurkan ke Iran akan dibalas dengan rudal yang sama,” katanya dalam konferensi pers di Teheran.
Dampak dari konflik ini langsung terasa di pasar global. Harga minyak mentah melonjak hampir 3 dolar AS per barel, karena Selat Hormuz—jalur vital pengangkutan minyak dunia—kembali menjadi sorotan. Hegseth bahkan mengklaim bahwa AS mengendalikan selat tersebut, meskipun tanpa bukti. Iran mengingatkan bahwa sejarah Teluk Persia telah membuktikan bahwa kekuatan lokal mampu mempertahankan kedaulatannya.
Gencatan senjata rapuh yang disepakati pada April lalu kini hancur total. Masyarakat internasional mendesak kedua pihak untuk menahan diri, namun serangan udara terus berlanjut hingga hari kedua berturut-turut. Iran pastikan serangan AS dibalas satu per satu, ingatkan tentang sejarah besar Teluk Persia, sebagai pesan bahwa tekanan militer tidak akan membuat mereka tunduk.
Di tengah krisis, Presiden Iran mengeluarkan pernyataan bahwa negaranya siap berdamai jika AS menghentikan agresi. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda de-eskalasi. Dunia kini menanti langkah selanjutnya dari kedua negara adidaya yang kembali berhadapan di kawasan Timur Tengah.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












