Ancaman Trump: AS Hancurkan Jembatan atau Pembangkit Listrik Iran Setiap Serangan di Hormuz
Suara Pecari, Ketegangan di kawasan Teluk semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman terbaru bahwa Amerika Serikat akan menghancurkan satu jembatan atau pembangkit listrik Iran setiap kali Teheran menembaki kapal di Selat Hormuz. Ancaman ini muncul di tengah eskalasi konflik yang telah menewaskan puluhan orang dan mengganggu pasokan energi global. Bahrain, sebagai salah satu negara tetangga, turut merasakan dampak langsung dari situasi ini. Sistem pertahanan udara Bahrain telah diaktifkan setelah peringatan serangan rudal Iran, menambah kekhawatiran akan meluasnya perang.
Dalam sebuah unggahan di media sosial, Trump menegaskan, “Mulai saat ini, setiap kali Republik Islam Iran menembaki kapal di Selat Hormuz, baik menggunakan rudal, roket, drone, atau alat lainnya, Amerika Serikat akan mengebom dan menghancurkan SATU JEMBATAN ATAU PEMBANGKIT LISTRIK.” Ancaman ini merupakan kelanjutan dari strategi AS yang menargetkan infrastruktur sipil Iran sebagai bentuk pembalasan. Sebelumnya, AS telah melancarkan gelombang serangan udara ke-11 berturut-turut ke Iran, yang menurut Kementerian Kesehatan Iran telah menewaskan 53 orang, termasuk enam wanita dan tiga anak-anak, serta melukai hampir 600 orang sejak 27 Juni.
Sementara itu, Iran meluncurkan serangan rudal ke kota Aqaba di Yordania, yang berbatasan langsung dengan Israel. Militer Yordania mengaku berhasil mencegat empat rudal Iran, sementara dua lainnya jatuh di area tak berpenghuni. Peringatan rudal juga terdengar di Bahrain dan Arab Saudi, memicu warga di kota Dammam untuk mencari perlindungan. Otoritas Saudi kemudian menyatakan bahaya telah berlalu tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Situasi ini menunjukkan bahwa konflik tidak hanya terbatas pada Iran dan AS, tetapi juga melibatkan negara-negara tetangga seperti Bahrain yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.
Penutupan Selat Hormuz, yang sebelumnya dilalui seperlima perdagangan minyak dan gas dunia, telah mengguncang ekonomi global. Harga minyak mentah Brent naik menjadi sekitar USD 94 per barel, sementara harga bensin kembali meningkat menjelang pemilu paruh waktu AS. Ancaman baru dari pemberontak Houthi yang didukung Iran di Yaman untuk menargetkan pengiriman Saudi di Laut Merah menambah risiko pada jalur perdagangan utama lainnya. Bahrain, yang ekonominya sangat bergantung pada stabilitas kawasan, menghadapi tekanan besar akibat krisis ini.
Upaya diplomatik tampak menemui jalan buntu. Mediator telah menyampaikan proposal gencatan senjata 10 hari kepada Iran, namun belum ada tanda-tanda kemajuan. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menuduh Iran tidak serius dalam berunding. “Masalahnya saat ini adalah mereka tidak serius tentang perundingan. Jika mereka serius, kami serius. Jika tidak, maka kami akan melakukan apa yang diperlukan untuk melindungi kepentingan kami dan juga kepentingan sekutu kami,” ujar Rubio di Manila. Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni mengunjungi Pakistan, mediator utama konflik, untuk meminta kelanjutan upaya perdamaian.
Krisis ini juga memicu kekhawatiran akan proliferasi senjata nuklir. Trump mengisyaratkan bahwa pasukan AS dapat menargetkan Pickaxe Mountain, sebuah situs nuklir Iran yang sedang dibangun di bawah gunung di selatan fasilitas pengayaan Natanz. Iran terus menggali di lokasi tersebut meskipun Natanz telah dibom AS pada perang 2025. Iran menegaskan program nuklirnya bersifat damai, namun AS dan negara lain meyakini Iran memiliki program senjata nuklir hingga 2003 dan dapat membangunnya kembali.
Di tengah ketegangan yang meningkat, Bahrain berada dalam posisi yang sulit. Sebagai sekutu AS dan tuan rumah pangkalan Angkatan Laut AS, Bahrain menghadapi ancaman langsung dari serangan balasan Iran. Serangan rudal yang mendarat di Bahrain atau perairannya dapat memicu eskalasi lebih lanjut. Pemerintah Bahrain telah meningkatkan kewaspadaan dan bekerja sama dengan koalisi pimpinan AS untuk melindungi wilayahnya. Namun, situasi ini juga menimbulkan pertanyaan tentang keamanan jangka panjang Bahrain di tengah konflik yang tak kunjung reda.
Kesimpulannya, ancaman Trump untuk menyerang infrastruktur sipil Iran menandai eskalasi berbahaya dalam konflik yang telah menelan banyak korban dan mengganggu stabilitas global. Bahrain, sebagai negara kecil di Teluk, terjebak di antara dua kekuatan besar dan harus menghadapi risiko keamanan yang serius. Tanpa adanya terobosan diplomatik, krisis ini berpotensi meluas menjadi perang regional yang lebih besar, dengan dampak yang tak terbayangkan bagi Bahrain dan seluruh dunia.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










