Pesawat Tempur TNI Sambut PM India, Rusia dan Inggris Semakin Tegang di Eropa
Suara Pecari, Pesawat tempur menjadi pusat perhatian dalam dua peristiwa besar yang terjadi pada Senin, 6 Juli 2026. Di Jakarta, dua unit Sukhoi dan dua unit F-16 milik TNI Angkatan Udara melintas di atas Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma untuk menyambut kedatangan Perdana Menteri India Narendra Modi. Sementara itu, di Eropa Utara, dua jet tempur F-35 Inggris dikerahkan untuk mencegat pesawat patroli Rusia yang mendekati kapal induk HMS Prince of Wales di Laut Norwegia. Dua kejadian ini menunjukkan betapa pentingnya peran pesawat tempur dalam diplomasi dan pertahanan negara.
Kunjungan PM India Narendra Modi ke Indonesia pada 6-8 Juli 2026 disambut dengan upacara kenegaraan yang megah. Presiden Prabowo Subianto secara langsung menunggu di bawah tangga pesawat di Lanud Halim Perdanakusuma. Setelah Modi turun, keduanya berjabat erat dan berpelukan hangat. Prosesi dilanjutkan dengan pasukan jajar kehormatan, dentuman meriam, dan tarian tradisional Betawi None Kemayoran. Saat Prabowo dan Modi menyaksikan tarian, pesawat tempur Sukhoi dan F-16 melintas dua kali di langit Jakarta Timur, memberikan sambutan udara yang spektakuler. Modi tampak terpukau dan memberikan tepuk tangan. Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda bilateral yang akan berlangsung di Istana Merdeka dan dilanjutkan ke Yogyakarta.
Di sisi lain, ketegangan antara NATO dan Rusia kembali memanas. Kementerian Pertahanan Inggris melaporkan bahwa sebuah pesawat patroli Rusia Bear-F melakukan aktivitas tidak aman di dekat kapal induk HMS Prince of Wales yang tengah memimpin operasi pertahanan udara NATO di lepas pantai Islandia. Pesawat Rusia tersebut mendekati kapal induk pada ketinggian rendah dan menjatuhkan perangkat sonar di dekatnya. Sebagai respons, dua pesawat tempur F-35 Inggris segera dikerahkan dari kapal induk untuk mencegat dan mengawal pesawat Rusia hingga pergi. Insiden ini terjadi di Laut Norwegia pada Kamis pekan lalu. Menteri Pertahanan Inggris Dan Jarvis menegaskan bahwa aktivitas Rusia tidak aman dan tidak profesional, serta menunjukkan pentingnya pengerahan pesawat tempur sebagai alat pencegahan.
Sementara itu, Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) III Letjen Lucky Avianto mengungkapkan bahwa sepanjang semester satu 2026, armada pesawat tempur TNI berulang kali berhasil mencegah masuknya pesawat asing tanpa izin di wilayah Papua dan perairan Indonesia timur. Operasi udara ini merupakan bagian dari upaya penegakan hukum terpadu yang melibatkan TNI, Bea Cukai, dan instansi terkait. Keberhasilan ini menunjukkan bahwa pesawat tempur tidak hanya berperan dalam sambutan kenegaraan, tetapi juga vital dalam menjaga kedaulatan wilayah udara Indonesia.
Di kancah global, pengadaan pesawat tempur juga menjadi sorotan. Iran dikabarkan telah menerima dua unit pertama Sukhoi Su-35SE dari Rusia, yang akan memperkuat angkatan udaranya. Pesawat tempur generasi 4.5 ini memiliki kemampuan superioritas udara dan multiperan, dengan radar Irbis-E yang mampu mendeteksi target hingga 400 km. Pengiriman ini merupakan bagian dari pesanan 48 unit Su-35 oleh Iran, yang diproduksi oleh Pabrik Penerbangan Komsomolsk-on-Amur (KnAAZ) Rusia.
Kesimpulannya, peristiwa pada 6 Juli 2026 menunjukkan bahwa pesawat tempur memiliki peran ganda: sebagai alat diplomasi yang mempererat hubungan bilateral, sekaligus sebagai instrumen pertahanan yang menjaga kedaulatan dan stabilitas keamanan. Dari sambutan meriah di Jakarta hingga insiden tegang di Eropa, pesawat tempur tetap menjadi ujung tombak kekuatan udara suatu negara.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










