Hizbullah Pede Lebanon Masuk dalam Kesepakatan Damai AS-Iran, Indonesia Apresiasi

Hizbullah Pede Lebanon Masuk dalam Kesepakatan Damai AS-Iran, Indonesia Apresiasi

Suara Pecari | Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang diumumkan pada Minggu, 14 Juni 2026, membawa angin segar bagi kawasan Timur Tengah. Salah satu poin penting yang mencuat adalah penghentian perang di semua front, termasuk Lebanon. Kelompok Hizbullah pun menunjukkan optimisme bahwa Lebanon akan menjadi bagian dari kesepakatan ini. Hizbullah pede Lebanon masuk dalam kesepakatan damai AS-Iran karena Iran telah menjamin perlindungan terhadap sekutunya tersebut.

Perjanjian yang difasilitasi oleh Pakistan ini akan ditandatangani pada Jumat, 19 Juni 2026, di Swiss. Presiden AS Donald Trump menyebut kesepakatan ini sebagai “Kesepakatan Besar” yang akan membawa perdamaian dan keamanan ke seluruh kawasan. Iran, melalui Wakil Menteri Luar Negeri Kazem Gharibabadi, memuji pencapaian militer negaranya pasca penandatanganan nota kesepahaman. Hizbullah pede Lebanon masuk dalam kesepakatan damai AS-Iran karena klausul penghentian perang di Lebanon menjadi salah satu poin utama dalam MoU tersebut.

Menurut sumber dari IDN Times, kesepakatan ini mencakup penghentian perang di semua pihak, termasuk Lebanon dan Israel. Israel wajib menghentikan serangan terhadap Lebanon, sementara Iran menjamin bahwa kesepakatan damai dengan AS akan melibatkan Lebanon. Hal ini semakin memperkuat keyakinan Hizbullah bahwa Lebanon akan terlindungi. Hizbullah pede Lebanon masuk dalam kesepakatan damai AS-Iran karena Iran tidak ingin Lebanon terus diserang Israel. Serangan terbaru Israel ke Beirut pada Minggu menewaskan tiga orang dan melukai tujuh lainnya.

Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri menyambut baik kesepakatan ini. Dalam pernyataan di media sosial X, Kemlu RI menyatakan bahwa kesepakatan tersebut merupakan perkembangan positif menuju penyelesaian konflik secara damai serta terciptanya perdamaian, keamanan, dan stabilitas di kawasan. “Kami mengapresiasi upaya seluruh pihak dan para mediator yang telah berkontribusi secara konstruktif dalam memfasilitasi dialog dan mendorong penyelesaian perbedaan secara damai,” demikian pernyataan Kemlu RI pada Senin, 15 Juni 2026. Indonesia juga menyerukan seluruh pihak untuk terus menahan diri dan mematuhi komitmen yang telah disepakati.

Namun, di tengah optimisme tersebut, Israel justru menunjukkan sikap sebaliknya. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz pada Senin menegaskan bahwa Israel tidak akan menarik pasukannya dari Lebanon, Suriah, dan Gaza. Katz menyatakan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di zona keamanan tanpa batas waktu. Hal ini tentu menjadi tantangan bagi implementasi kesepakatan damai. Hizbullah pede Lebanon masuk dalam kesepakatan damai AS-Iran meskipun Israel ogah tarik pasukan, karena Iran diyakini akan terus mendorong penghentian agresi Israel terhadap Lebanon.

Kesepakatan AS-Iran juga mencakup pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran, pelepasan aset Iran senilai 25 miliar dolar AS, serta bantuan rekonstruksi wilayah Iran yang rusak akibat perang. Iran bersedia membuka penuh Selat Hormuz, membatasi produksi uranium, dan menghentikan program senjata nuklir sesuai NPT. Poin-poin ini diharapkan dapat memulihkan stabilitas kawasan dan perekonomian global.

Dengan demikian, meskipun masih ada ketidakpastian terkait sikap Israel, Hizbullah pede Lebanon masuk dalam kesepakatan damai AS-Iran menjadi sinyal positif bagi upaya perdamaian di Timur Tengah. Dukungan dari Indonesia dan negara-negara lain diharapkan dapat menjaga momentum de-eskalasi dan mendorong implementasi kesepakatan secara penuh.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan