Masoud Pezeshkian Tegaskan Peningkatan Koordinasi dengan Pemimpin Tertinggi di Tengah Krisis Politik Iran
Suara Pecari, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa akses dan koordinasi dengan Pemimpin Tertinggi, Ayatollah Mojtaba Khamenei, meningkat setiap hari. Pernyataan ini muncul di tengah spekulasi tentang kesehatan Khamenei dan ketegangan politik internal yang semakin memanas pasca-gencatan senjata dengan Amerika Serikat.
Dalam pidatonya pada acara Hari Industri dan Pertambangan Nasional, Masoud Pezeshkian menegaskan, “Sekarang, dengan peningkatan komunikasi dan akses yang lebih besar kepada pemimpin tercinta kami, semua langkah telah diatur berdasarkan instruksinya.” Pernyataan ini dimaksudkan untuk meredam isu perpecahan di tubuh pemerintahan, terutama setelah pemakaman Pemimpin Tertinggi sebelumnya, Ali Khamenei, yang diwarnai protes terhadap Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Sejak menjabat pada Maret 2026, Mojtaba Khamenei belum pernah tampil di publik akibat cedera serius yang dideritanya dalam serangan udara yang menewaskan ayahnya. Kondisi ini memicu perebutan kekuasaan antara faksi moderat yang dipimpin Masoud Pezeshkian dan kelompok garis keras yang menuduh pemerintah “menyerah” pada Amerika Serikat. Kelompok garis keras bahkan mengisyaratkan kemungkinan kudeta jika Pezeshkian dianggap terlalu lemah.
Di tengah gejolak domestik, Iran juga menghadapi tekanan eksternal. Militer AS terus melancarkan serangan ke situs-situs militer Iran, sementara sekutu Iran di Yaman, Houthi, mengklaim serangan terhadap kapal tanker Saudi di Laut Merah. Harga minyak Brent melonjak di atas 95 dolar AS per barel akibat ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz dan Laut Merah.
Masoud Pezeshkian berulang kali menekankan bahwa keputusan pemerintah didasarkan pada arahan Pemimpin Tertinggi. “Tingkat interaksi dengan Pemimpin Tertinggi kami tercinta meningkat hari demi hari dan harus terus meningkat agar kami dapat menyelesaikan masalah dengan bimbingannya,” ujarnya dalam sebuah klip video yang disiarkan media pemerintah. Pernyataan ini menjadi upaya untuk menunjukkan kesatuan komando di tengah spekulasi bahwa Khamenei belum sepenuhnya memegang kendali.
Sementara itu, Pakistan menawarkan diri sebagai mediator untuk meredakan ketegangan di Asia Barat. Perdana Menteri Shehbaz Sharif, dalam pertemuan dengan delegasi Iran yang dipimpin Menteri Dalam Negeri Eskandar Momeni, menyerukan pengendalian diri dan menekankan komitmen Islamabad terhadap perdamaian regional. Pakistan sebelumnya memfasilitasi Nota Kesepahaman Islamabad, sebuah kesepakatan gencatan senjata 14 poin antara Iran dan AS.
Krisis politik di Iran diperparah oleh tuntutan keras dari basis pendukung garis keras yang menolak kebijakan diplomasi Pezeshkian. Para pengamat khawatir bahwa perpecahan internal ini dapat melemahkan posisi Iran dalam negosiasi dengan AS dan sekutunya. Namun, Masoud Pezeshkian tetap optimis bahwa peningkatan koordinasi dengan Pemimpin Tertinggi akan memperkuat stabilitas negara.
Dalam perkembangan terpisah, Garda Revolusi Iran (IRGC) menolak tuduhan Kuwait bahwa serangan Iran melanggar kedaulatan negara tersebut, dengan alasan bahwa pangkalan militer AS di Kuwait adalah “wilayah pendudukan.” IRGC mengklaim telah menghancurkan beberapa aset militer AS di Yordania dan Kuwait sebagai balasan atas serangan Amerika.
Dengan meningkatnya tekanan internal dan eksternal, kemampuan Masoud Pezeshkian untuk mempertahankan kohesi pemerintahan akan menjadi ujian kritis. Pernyataan terbarunya tentang akses yang lebih besar ke Pemimpin Tertinggi diharapkan dapat meredam kritik dari lawan politiknya, namun situasi tetap rapuh. Keberhasilan diplomasi Pakistan dan komitmen semua pihak terhadap gencatan senjata akan menentukan apakah Asia Barat dapat terhindar dari konflik yang lebih luas.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










