Netanyahu Sindir Inggris Sebagai ‘Republik Islam’ dan Klaim Akan Punya Senjata Nuklir Pertama
Suara Pecari – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengeluarkan pernyataan kontroversial dengan menyebut Inggris sebagai “Republik Islam Britania” dalam sebuah podcast yang disiarkan menjelang pemilihan umum Israel pada 27 Oktober 2026. Sindiran ini ditujukan untuk mengkritik pemberitaan media Inggris yang dianggapnya berubah menjadi sangat kritis terhadap Israel, terutama dalam konteks agresi militer di Palestina.
Netanyahu mengaitkan julukan tersebut dengan perubahan demografi di Inggris yang kini memiliki populasi Muslim yang meningkat akibat migrasi. Ia juga menyatakan bahwa Inggris akan menjadi negara “Republik Islam” pertama yang memiliki senjata nuklir, menyindir Iran yang selama ini dikenal sebagai negara Islam dengan persenjataan nuklir.
Perubahan Sikap Media Inggris terhadap Israel
<pDalam pernyataannya, Netanyahu membandingkan pemberitaan media Inggris saat ini dengan masa lampau, khususnya pada era Perdana Menteri Winston Churchill. Ia mencontohkan bagaimana jurnalis Inggris pernah meliput Perang Enam Hari pada 1967 dengan sudut pandang yang positif bagi Israel, menempatkan Tel Aviv di posisi yang menguntungkan, sedangkan negara-negara Arab seperti Arab Saudi lebih banyak mendapat sorotan negatif.
Namun, menurut Netanyahu, kini media Inggris cenderung mendukung negara-negara Islam dan mengkritik Israel, sehingga pemberitaan menjadi lebih negatif dan memuat propaganda anti-Israel. Hal ini yang kemudian memicu sindiran keras dari Netanyahu terhadap Inggris.
Klaim Inggris Sebagai Negara Republik Islam Pertama dengan Senjata Nuklir
Selain kritik terhadap media, Netanyahu secara provokatif menyebut bahwa Inggris akan menjadi “republik Islam pertama yang memiliki senjata nuklir”. Pernyataan ini merupakan sindiran terhadap Iran, yang selama ini dikenal sebagai negara Islam dengan persenjataan nuklir, dan merupakan bagian dari narasi Islamofobia yang kerap muncul di kelompok sayap kanan ekstrem.
Namun, klaim ini keliru secara faktual karena Pakistan, yang secara resmi bernama Republik Islam Pakistan, telah memiliki senjata nuklir sejak tahun 1990-an. Sindiran serupa juga pernah dilontarkan oleh Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, pada 2025, yang sempat menimbulkan ketegangan diplomatik antara AS dan Inggris.
Respons dan Dampak terhadap Hubungan Diplomatik
Pernyataan Netanyahu ini memperburuk hubungan antara Israel dan Inggris yang selama ini dikenal sebagai sekutu dekat. Kelompok Yahudi di Inggris mengkritik pernyataan tersebut sebagai berbahaya dan memecah belah. Hubungan kedua negara memang sedang mengalami ketegangan, terutama sejak pengambilalihan kursi perdana menteri Inggris oleh Andy Burnham yang menunjukkan perubahan sikap terhadap konflik Timur Tengah.
Burnham sebelumnya meminta maaf atas respons Partai Buruh terhadap tindakan militer Israel di Gaza dan menyatakan akan mengambil pendekatan yang berbeda di masa depan, yang mencerminkan perubahan kebijakan Inggris yang lebih kritis terhadap Israel.
Konteks Politik dan Sosial
Pernyataan Netanyahu muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional dan internasional terkait konflik Israel-Palestina. Kenaikan populasi Muslim di Eropa, termasuk Inggris, menjadi bagian dari narasi politik yang digunakan untuk mengkritik perubahan sosial dan kebijakan luar negeri negara-negara Barat.
Selain itu, pernyataan tersebut juga menguatkan narasi Islamofobia yang berkembang di beberapa kalangan, yang menimbulkan kontroversi dan perdebatan terkait hubungan antaragama dan antarnegara.
Penting untuk dicatat bahwa saat ini Inggris belum memiliki senjata nuklir dan pernyataan Netanyahu tidak didukung oleh fakta resmi. Pakistan tetap menjadi satu-satunya negara dengan nama resmi Republik Islam yang memiliki senjata nuklir.
Pernyataan kontroversial ini menambah dinamika politik yang kompleks antara Israel, Inggris, dan negara-negara lain yang terkait dengan isu Timur Tengah dan kebijakan luar negeri masing-masing.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










