Iran Sebut Sanksi Baru AS Sebagai Deklarasi Perang, Ancaman Balasan Setara Meningkat
Suara Pecari – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat seiring dengan pengumuman sanksi baru oleh AS yang dianggap Iran sebagai bentuk deklarasi perang terhadap seluruh dunia. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa sanksi tersebut melampaui perang ekonomi ilegal dan melanggar prinsip kedaulatan negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Baghaei menilai sanksi sekunder yang diberlakukan AS tidak memiliki dasar hukum dalam hukum internasional dan bertentangan dengan Pasal 2 Ayat 1 Piagam PBB yang menjamin kesetaraan kedaulatan antarnegara. Ia mengutuk tindakan tersebut sebagai pelanggaran internasional dan memperingatkan bahwa penggabungan sanksi dengan blokade angkatan laut dapat mengurangi kedaulatan negara lain menjadi sementara dan bergantung pada kehendak kekuatan lain.
Ancaman Balasan Iran Jika AS Gunakan Senjata Nuklir
Di tengah ketegangan tersebut, Iran juga mengeluarkan peringatan keras terkait potensi penggunaan senjata nuklir oleh AS. Kepala Staf Iran Mayor Jenderal Ali Abdollahi menegaskan bahwa negara-negara Teluk yang memfasilitasi militer AS akan dianggap terlibat langsung dalam konflik. Setiap pergerakan pasukan AS di wilayah tersebut selalu dalam pengawasan Teheran, dan dukungan dari negara tuan rumah terhadap pasukan AS akan dipandang sebagai bentuk keterlibatan langsung.
Anggota parlemen Iran, Fada Hossein Maleki, menyatakan kesiapan Iran memberikan balasan setara, atau bahkan melampaui, jika AS menggunakan senjata nuklir dalam serangan. Maleki juga menyinggung strategi ofensif Iran yang kini mengandalkan alutsista rahasia yang belum dipublikasikan. Dia menilai Presiden AS Donald Trump berpotensi mengambil keputusan gegabah, namun meragukan keberanian Trump untuk menanggung risiko perang terbuka global.
Perselisihan Diplomasi dan Komitmen yang Belum Terpenuhi
Dalam ranah diplomasi, Iran menolak melanjutkan perundingan dengan AS sebelum Washington memenuhi komitmen yang tercantum dalam nota kesepahaman yang dimediasi oleh Pakistan pada Juni 2026. Isu utama yang menjadi kendala adalah jalur pelayaran vital di Selat Hormuz serta penolakan Iran terhadap keterlibatan AS dalam dialog bilateral dengan Oman. Iran memperingatkan AS untuk tidak memperluas langkah militer karena Tehran memiliki berbagai opsi balasan yang siap dikerahkan.
Konteks dan Dampak Konflik
Ketegangan ini terjadi di tengah rivalitas militer yang terus berlanjut antara Iran dan AS, dengan masing-masing pihak berupaya menunjukkan kekuatan militer mereka. Pengumuman sanksi baru serta ancaman balasan militer menunjukkan eskalasi yang dapat memengaruhi stabilitas kawasan Teluk dan hubungan internasional secara luas. Peningkatan tekanan ekonomi dan militer ini juga berpotensi memperumit upaya diplomasi yang tengah berjalan untuk meredakan konflik di wilayah tersebut.
Situasi ini menuntut perhatian serius dari komunitas internasional mengingat potensi dampak luas yang dapat timbul, terutama jika penggunaan senjata nuklir menjadi opsi dalam konflik. Sementara itu, Iran menegaskan sikapnya yang tegas dalam mempertahankan kedaulatan dan haknya untuk membalas setiap tindakan agresif dengan proporsionalitas yang sesuai.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










