Mengenal Flores Back-Arc Thrust dan Kaitannya dengan Gempa M 7,7 yang Guncang NTT

Mengenal Flores Back-Arc Thrust dan Kaitannya dengan Gempa M 7,7 yang Guncang NTT

Suara Pecari, Nusa Tenggara Timur – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu pagi, 15 Agustus 2026. Gempa ini disebabkan oleh aktivitas Flores Back-Arc Thrust, sebuah sesar naik busur belakang yang menjadi sumber utama gempa besar di kawasan tersebut.

Flores Back-Arc Thrust adalah patahan aktif yang terbentuk di belakang busur vulkanik Flores, memanjang dari dasar laut utara Pulau Flores hingga Laut Utara Lombok. Sesar ini merupakan sesar paling aktif di kawasan busur belakang Nusa Tenggara, bahkan aktivitasnya melebihi Java Back-Arc Thrust. Sekitar 90 persen gempa bumi yang terjadi di Kepulauan Nusa Tenggara berasal dari aktivitas sesar ini.

Sejarah dan Karakteristik Gempa Flores

Gempa tahun 2026 ini memiliki kemiripan dengan gempa besar yang terjadi pada tahun 1992, yang juga berasal dari Flores Back-Arc Thrust. Gempa 1992 bermagnitudo 7,9 dan diikuti tsunami yang cukup tinggi akibat longsoran bawah laut. Meski magnitudo gempa 2026 mendekati gempa 1992, para ahli berharap tsunami yang menyertainya tidak setinggi tsunami tahun 1992 karena tidak terjadi longsoran bawah laut yang signifikan.

Secara historis, sesar Flores Back-Arc Thrust telah berulang kali menghasilkan gempa merusak, bahkan beberapa di antaranya memicu tsunami. Contoh kejadian penting termasuk gempa Flores Utara tahun 1961, Flores tahun 1992, Solor tahun 1982, dan Manggarai tahun 2003. Hal ini menunjukkan aktivitas tektonik regional yang harus terus diwaspadai.

Mekanisme dan Dampak Gempa

Gempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026 memiliki kedalaman hiposenter yang dangkal sekitar 15 kilometer dengan mekanisme sesar naik (thrust faulting). Kedalaman yang dangkal ini menyebabkan guncangan tanah terasa sangat kuat dan berpotensi menimbulkan kerusakan hebat serta tsunami minor di pesisir utara Flores dan Kepulauan Selayar.

Akumulasi regangan yang terus terkunci pada segmen Flores Back-Arc Thrust selama bertahun-tahun menyimpan energi besar yang dilepaskan secara mendadak dalam gempa ini. Kerusakan yang timbul meliputi rumah dan infrastruktur yang rusak parah, serta korban jiwa dan luka-luka. Ribuan warga terpaksa mengungsi akibat dampak bencana tersebut.

Faktor Pendukung Kerusakan

Kondisi geologi wilayah terdampak sangat beragam, mulai dari dataran, perbukitan hingga pegunungan dengan litologi batuan gunung api dan batuan sedimen. Tanah di daerah ini berkisar dari sangat padat hingga lunak, yang dapat memperkuat respons guncangan gempa. Wilayah tersebut juga tergolong rawan bencana gempa bumi dengan kategori menengah hingga tinggi.

Penanganan dan Pengawasan

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau aktivitas gempa susulan dan kondisi muka air laut pascagempa. Aktivitas gempa susulan tercatat hingga magnitudo 6,5 yang menambah kewaspadaan di wilayah tersebut. Pemerintah dan lembaga terkait juga bergerak cepat dalam proses evakuasi dan penanganan dampak gempa untuk meminimalkan kerugian lebih lanjut.

Pemahaman terhadap mekanisme Flores Back-Arc Thrust sangat penting untuk kesiapsiagaan bencana di Nusa Tenggara Timur. Mengingat potensi gempa besar dan tsunami yang mungkin terjadi di masa depan, upaya mitigasi dan edukasi masyarakat menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko bencana.

Gempa yang mengguncang Flores pada tahun 2026 bukanlah peristiwa yang terisolasi, melainkan bagian dari aktivitas tektonik yang terus berlangsung di kawasan tersebut. Oleh karena itu, pemantauan dan penelitian ilmiah harus terus dilakukan untuk meningkatkan kesiapan menghadapi gempa dan tsunami di masa mendatang.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *