Mengapa Kalimantan Dipenuhi Titik Karhutla Sedangkan Malaysia Nyaris Bebas Asap?

Mengapa Kalimantan Dipenuhi Titik Karhutla Sedangkan Malaysia Nyaris Bebas Asap?

Suara Pecari – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan pada Agustus 2026 kembali meningkat tajam, dengan ribuan titik panas terdeteksi terutama di Kalimantan Barat, Tengah, dan Selatan. Fenomena ini menimbulkan kabut asap yang bahkan sampai menembus negara tetangga seperti Malaysia. Namun, mengapa Kalimantan yang berada dalam satu pulau dengan Malaysia justru dipenuhi titik karhutla, sementara Malaysia hampir tidak terdampak kebakaran serupa?

Faktor utama yang membedakan kondisi ini adalah dominasi lahan gambut di Kalimantan. Gambut adalah tanah yang tersusun dari akumulasi sisa tumbuhan dalam kondisi basah dan minim oksigen selama ribuan tahun. Tanah gambut memiliki porositas tinggi dan menyimpan air seperti spons. Saat basah, gambut membantu menyimpan karbon dan sulit terbakar. Namun, ketika mengering, gambut menjadi sangat mudah terbakar dan api dapat menjalar di bawah permukaan tanah selama berhari-hari, bahkan setelah api permukaan padam.

Karakteristik Lahan Gambut dan Kesulitan Pemadamannya

Gambut yang mengering akan kehilangan kandungan airnya, sehingga lebih mudah terbakar. Api pada gambut sering terjadi pembakaran smouldering combustion, yaitu pembakaran lambat tanpa nyala api yang berlangsung di bawah tanah dan sulit dipadamkan. Hal ini diperparah oleh aktivitas manusia seperti pembukaan lahan dengan pembakaran, pengeringan gambut akibat kanal drainase, dan ekspansi pertanian yang menurunkan muka air tanah. Kondisi kemarau panjang dan fenomena El Niño juga menyebabkan curah hujan sangat rendah sehingga meningkatkan risiko kebakaran.

Peran Kondisi Iklim dan Fenomena Alam

BMKG mencatat bahwa pada Agustus 2026, iklim kering akibat El Niño dengan intensitas sangat kuat dan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD) menyebabkan sebagian besar wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan, mengalami musim kemarau dengan curah hujan di bawah normal. Sekitar 76,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, dan 90,79 persen wilayah mengalami curah hujan rendah. Kondisi kering ini membuat lahan dan vegetasi sangat rentan terbakar.

Perbedaan Antara Kalimantan dan Malaysia

Walaupun Kalimantan dan Malaysia berada pada pulau yang sama, perbedaan penanganan dan kondisi lahan sangat signifikan. Malaysia memiliki pengelolaan lahan gambut dan hutan yang lebih ketat serta sistem pengendalian kebakaran yang lebih efektif. Selain itu, wilayah gambut di Malaysia relatif lebih sedikit dan tidak mengalami pengeringan ekstrem seperti di Kalimantan. Oleh karena itu, Malaysia nyaris tidak mengalami kebakaran lahan yang luas seperti di Kalimantan.

Dampak dan Penanganan Karhutla di Kalimantan

Kebakaran lahan gambut di Kalimantan menyebabkan kabut asap yang mengganggu kualitas udara, mempersempit jarak pandang hingga di bawah 1 km, dan meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga 30 persen, terutama pada anak-anak dan lansia. Pemerintah Indonesia telah mengerahkan sumber daya besar untuk penanggulangan karhutla, termasuk ribuan personel TNI dan BNPB yang melakukan pemadaman dan pencegahan di titik-titik kritis.

BMKG juga mengonfirmasi bahwa asap karhutla yang menembus negara tetangga seperti Malaysia disebabkan oleh pola pergerakan angin musiman regional, sehingga penanganan bersama antarnegara sangat diperlukan untuk mengurangi dampak transboundary haze.

Upaya menjaga muka air gambut tetap tinggi, pengendalian pembukaan lahan dengan pembakaran, serta mitigasi dampak iklim kering menjadi kunci utama dalam mengurangi risiko kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan ke depan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *