Penyebab Keracunan MBG di SMKN 6 Semarang Terungkap: Tiga Bakteri Jadi Biang Keladi
Suara Pecari, Semarang – Kasus keracunan massal yang menimpa 707 siswa dan guru SMKN 6 Semarang akibat program Makan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya terungkap penyebabnya. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya kontaminasi tiga jenis bakteri pada lauk-pauk MBG yang disajikan, yakni Escherichia coli (E.coli), Salmonella, dan Staphylococcus.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam, menyatakan bahwa bakteri-bakteri tersebut ditemukan pada menu protein seperti rendang ayam dan telur puyuh yang dibagikan pada 31 Juli 2026 lalu. Pemeriksaan mikrobiologi ini menjadi titik terang dalam memahami penyebab keracunan yang melanda ratusan siswa dan guru tersebut.
Fakta Utama dari Pemeriksaan Laboratorium
- Ketiga bakteri, E.coli, Salmonella, dan Staphylococcus, terdeteksi positif pada sampel makanan MBG.
- Bakteri ditemukan khususnya pada lauk berprotein, yaitu rendang ayam dan telur puyuh.
- Pemeriksaan kimia terhadap makanan tidak menemukan zat berbahaya seperti formalin, boraks, atau pewarna berbahaya.
- Keracunan massal ini berdampak pada 707 siswa dan guru yang mengalami gejala keracunan.
Langkah Pemerintah Kota Semarang
Dinkes Kota Semarang menegaskan kesiapan melakukan pemeriksaan mikrobiologi secara rutin pada menu MBG untuk mencegah kejadian serupa terulang. Selama ini, pemeriksaan makanan oleh Dinkes masih bersifat kasuistik dan dilakukan hanya saat terjadi insiden keracunan.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti, telah mendorong penerapan pemeriksaan mikrobiologi harian pada makanan MBG sejak beberapa bulan terakhir. Saat ini, izin dan koordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) menjadi langkah berikutnya untuk mengoptimalkan pengawasan kualitas makanan.
Konteks dan Dampak Kasus
Kasus keracunan MBG di SMKN 6 Semarang ini menjadi sorotan penting karena menyangkut program pemerintah yang bertujuan menyediakan makanan bergizi bagi pelajar. Temuan bahwa kontaminasi mikrobiologi menjadi penyebab utama keracunan menegaskan perlunya pengawasan dan pengujian yang lebih ketat pada proses produksi dan distribusi makanan.
Sejak 2025, kasus keracunan pangan di Kota Semarang mayoritas disebabkan oleh kontaminasi bakteri seperti E.coli dan Salmonella, bukan oleh zat kimia berbahaya. Oleh karena itu, pengambilan sampel makanan secara berkala dan pemeriksaan mikrobiologi menjadi langkah strategis untuk menjaga keamanan pangan di lingkungan sekolah.
Langkah pengawasan yang diusulkan meliputi sampling mikrobiologi setiap hari di dapur MBG dan pengawasan lebih luas terhadap sekitar 180 dapur yang memproduksi makanan program tersebut. Puskesmas setempat juga akan dilibatkan dalam pengambilan sampel secara rutin.
Pemerintah Kota Semarang bersama Dinas Kesehatan berkomitmen untuk meningkatkan standar keamanan makanan demi melindungi kesehatan siswa dan guru sekaligus memastikan program MBG dapat berjalan dengan baik tanpa menimbulkan risiko kesehatan.
Kasus ini menjadi peringatan penting bagi seluruh pihak terkait agar pengawasan mutu dan kebersihan makanan disajikan dalam program-program pemerintah dapat ditingkatkan secara berkelanjutan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










