Bayi Gajah Sumatera Terjerat Perangkap di Jambi: Kaki Terlilit 2 Minggu, Tim BKSDA Bertindak Cepat
Suara Pecari | Seekor bayi gajah sumatera berusia sekitar 15 bulan menjadi korban jerat sling baja yang diduga dipasang oleh perambah hutan di kawasan Bentang Alam Bukit Tigapuluh, Kabupaten Tebo, Jambi. Satwa bernama Sakda itu berhasil diselamatkan setelah kondisinya terpantau petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi. Kejadian ini mengungkap ancaman serius terhadap populasi gajah sumatera yang kian terdesak oleh aktivitas manusia.
Kronologi Penemuan dan Penyelamatan
Kepala BKSDA Jambi, Himawan Sasongko, menjelaskan bahwa Sakda diduga terkena jerat setelah melewati pagar listrik yang dipasang di kawasan hutan. Saat berusaha melepaskan diri, sling baja putus, tetapi sebagian kawat tetap melilit kaki kiri depannya. “Jadi, sling atau jerat itu sudah terlilit di kakinya selama dua minggu,” kata Himawan pada Senin (29/6).
Petugas mengetahui kondisi Sakda saat melakukan patroli rutin. Anak gajah tersebut terlihat berjalan pincang sehingga tim melakukan pemantauan lebih lanjut. “Kita lihat bahwa ada anak gajah yang berjalan dengan pincang. Kita kemudian monitoring, dan benar kita temukan anak gajah yang sedang cedera di bagian kaki,” ujarnya.
Tim BKSDA kemudian mengevakuasi Sakda, melepaskan jerat baja, dan memberikan penanganan medis. Meski mengalami luka terbuka pada kaki kirinya, kondisi tulang Sakda dipastikan tidak mengalami kerusakan sehingga satwa itu dapat kembali bergabung dengan kelompoknya. “Beruntung, tulangnya belum remuk, baru luka terbuka dan sudah kembali pada kelompoknya,” kata Himawan.
Identitas dan Status Kelompok Sakda
Sakda merupakan bagian dari kelompok Wardani yang beranggotakan sekitar 20 ekor gajah. Kelompok tersebut menjadi satu dari enam kelompok gajah sumatera yang masih dipantau di Provinsi Jambi. Menurut data BKSDA Jambi, saat ini terdapat sekitar 120 ekor gajah sumatera yang hidup di wilayah Jambi. Populasi tersebut tersebar dalam lima kelompok gajah betina dan satu kelompok gajah jantan yang terus dipantau menggunakan perangkat GPS. “Nah, itu baru yang kita pantau dari GPS. Kalau gajah jantan memang berpindah-pindah,” ujar Himawan.
Data Populasi Gajah Sumatera di Jambi
Berikut adalah data kelompok gajah sumatera yang dipantau BKSDA Jambi:
| Nama Kelompok | Jumlah Individu | Wilayah Jelajah |
|---|---|---|
| Wardani | 20 | Bentang Alam Bukit Tigapuluh |
| Kelompok Betina Lainnya | ±80 | Tersebar di Jambi |
| Kelompok Jantan | ±20 | Berpindah-pindah |
Sumber: BKSDA Jambi, 2026
Ancaman Jerat bagi Satwa Liar
Jerat sling baja seperti yang menimpa Sakda merupakan ancaman mematikan bagi satwa liar. Jerat ini biasanya dipasang oleh perambah hutan untuk menangkap hewan buruan atau melindungi ladang dari gangguan gajah. Namun, dampaknya seringkali meluas: gajah yang terluka bisa mengalami infeksi, kelaparan, atau bahkan kematian jika tidak segera ditolong. Kasus Sakda berakhir baik karena tim BKSDA sigap, tetapi tidak semua satwa seberuntung itu.
Dampak dan Implikasi
Peristiwa ini menyoroti beberapa isu krusial:
- Konflik Manusia-Gajah: Perluasan lahan pertanian dan pemukiman mendorong gajah masuk ke area yang dipagari atau dipasangi jerat. Diperlukan solusi jangka panjang seperti koridor satwa dan mitigasi konflik.
- Penegakan Hukum: Pemasangan jerat di kawasan konservasi melanggar Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Pelaku dapat dihukum penjara hingga 5 tahun dan denda maksimal Rp100 juta.
- Konservasi Populasi: Dengan hanya sekitar 120 ekor gajah sumatera di Jambi, setiap individu sangat berharga. Kematian satu gajah betina produktif bisa berdampak pada struktur sosial kelompok.
Upaya BKSDA dan Harapan ke Depan
BKSDA Jambi terus melakukan patroli rutin dan pemantauan menggunakan GPS untuk melacak pergerakan gajah. Tim juga bekerja sama dengan masyarakat sekitar untuk mengurangi konflik. Edukasi tentang bahaya jerat dan alternatif pengusiran gajah yang manusiawi perlu digalakkan. Sakda kini telah kembali ke kelompok Wardani, tetapi ancaman jerat masih mengintai. Keberhasilan penyelamatan kali ini menjadi pengingat bahwa kolaborasi antara petugas, masyarakat, dan pemerintah sangat penting untuk melindungi gajah sumatera dari kepunahan.
Di tengah kabar menyedihkan, selamatnya Sakda memberi secercah harapan. Namun, perjuangan konservasi belum usai. Setiap jerat yang dipasang adalah bom waktu bagi satwa liar. Sudah saatnya kita semua, dari pemerintah hingga masyarakat, bergerak bersama memastikan bahwa hutan tetap aman bagi penghuninya yang paling rentan.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.










![Heboh Paket Kulkas Diantar ke Rumah Taufik Si Penyekap dan Penganiaya Wanita [titlebase]](https://suarapecari.com/wp-content/uploads/2026/06/heboh-paket-kulkas-diantar-ke-rumah-taufik-si-penyekap-dan-penganiaya-wanita-titlebase-80x80.webp)
