Iran Tegas Tolak Rencana Trump Deklarasikan Selat Hormuz Sebagai Wilayah AS
Suara Pecari – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak setelah Presiden AS Donald Trump mengancam akan mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat. Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Jumat, 14 Agustus 2026, di sebuah akademi kepolisian di New York, menyatakan bahwa setelah mengalahkan Iran, AS akan segera mengklaim jalur strategis tersebut sebagai wilayahnya.
Selat Hormuz merupakan jalur perairan sempit di antara Teluk Persia dan Teluk Oman, yang sangat vital bagi perdagangan minyak dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati selat ini, sehingga kendali atas jalur tersebut memiliki dampak besar terhadap pasar energi internasional.
Respons Keras Iran
Iran menanggapi ancaman Trump dengan tegas. Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, melalui akun media sosial X, menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak dapat direbut hanya dengan pernyataan politik, ancaman militer, ataupun unjuk kekuatan. Ia menegaskan bahwa keputusan terkait pembukaan atau penutupan selat tersebut sepenuhnya berada di tangan Iran.
Gharibabadi menambahkan bahwa Iran tidak takut pada ancaman atau tekanan dari Amerika Serikat dan akan mempertahankan kendalinya atas Selat Hormuz selama Washington belum mengakui kekalahan strategisnya di kawasan tersebut.
Situasi di Selat Hormuz dan Dampaknya
Konflik antara AS dan Iran yang telah berlangsung hampir enam bulan ini menyebabkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz nyaris lumpuh. Data menunjukkan hanya dua kapal yang melintasi jalur tersebut pada Jumat, jauh menurun dari rata-rata lebih dari 130 kapal per hari sebelum ketegangan meningkat. Kondisi ini turut mendorong kenaikan harga minyak Brent sebesar 0,7 persen menjadi 87,68 dolar AS per barel, akibat kekhawatiran akan blokade berkepanjangan dan gangguan pasokan energi global.
Perundingan dan Prospek Kedepan
Negosiasi damai antara AS dan Iran masih menemui jalan buntu. Iran menuntut agar blokade laut AS dicabut, pasukan AS ditarik dari sekitar wilayahnya, kompensasi perang diberikan, dan sanksi ekonomi dilonggarkan. Sementara itu, pemerintahan Trump mengklaim telah menguasai jalur strategis tersebut melalui blokade dan tekanan militer, meskipun kenyataannya lalu lintas kapal tetap sangat terbatas.
Perang retorika antara kedua negara ini memperlihatkan bahwa kendali atas Selat Hormuz menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik yang berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dan politik regional maupun global.
Dengan sikap tegas Iran dan ancaman dari AS, situasi Selat Hormuz masih menjadi perhatian utama dunia internasional, khususnya terkait keamanan jalur perdagangan energi yang vital bagi perekonomian global.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










