Tragedi Lahan Tebu Terbakar di Kediri: Pemilik Ditemukan Meninggal dalam Keadaan Sujud

Tragedi Lahan Tebu Terbakar di Kediri: Pemilik Ditemukan Meninggal dalam Keadaan Sujud

Suara Pecari, Kediri, Jawa Timur – Sebuah tragedi memilukan terjadi di Dusun Jatimalang, Desa Kedawung, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, pada Senin (6/7/2026). Kebakaran lahan tebu yang diduga dipicu oleh aktivitas pembakaran sisa daun tebu kering (daduk) oleh pemiliknya, Sakrum (55), justru berujung pada kematiannya. Korban ditemukan dalam keadaan meninggal dunia di lokasi kebakaran, bahkan diduga dalam posisi sujud. Peristiwa ini menjadi pengingat pahit akan bahaya pembakaran lahan di musim kemarau.

Kronologi Kejadian

Berdasarkan keterangan Pelaksana Tugas (PLT) Kepala Satpol PP Kabupaten Kediri, Kaleb Untung Satrio Wicaksono, insiden bermula sekitar pukul 10.30 WIB. Sakrum diketahui membakar daduk di lahannya tanpa mengindahkan peringatan dari warga sekitar, Kholil, yang mengingatkan kondisi cuaca panas dan angin kencang. Namun, peringatan tersebut diabaikan.

Beberapa jam kemudian, sekitar pukul 13.00 WIB, Kholil kembali ke lokasi dan mendapati lahan tebu telah terbakar luas. Sepeda motor korban masih terparkir, tetapi Sakrum tidak terlihat. Warga bersama perangkat desa melakukan pencarian dan menemukan korban dalam kondisi meninggal dunia di area lahan tebu. Laporan diterima petugas pemadam kebakaran Pos Ngadiluwih pukul 13.45 WIB. Satu unit armada dengan empat personel tiba di lokasi sepuluh menit kemudian dan berhasil memadamkan api pada pukul 15.35 WIB.

Analisis Penyebab dan Risiko Pembakaran Lahan

Kebakaran lahan tebu di musim kemarau bukanlah hal baru di wilayah Kediri dan sekitarnya. Kombinasi suhu tinggi, kelembaban rendah, dan angin kencang menciptakan kondisi yang sangat mudah terbakar. Pembakaran daduk yang lazim dilakukan petani untuk membersihkan lahan seringkali menjadi pemicu. Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri, sepanjang tahun 2025 terjadi sedikitnya 12 kebakaran lahan tebu, dengan kerugian mencapai miliaran rupiah.

TahunJumlah Kebakaran Lahan TebuKerugian (Rp)
20238500 juta
202410750 juta
2025121,2 miliar

Faktor Risiko Utama

  • Cuaca ekstrem: Suhu mencapai 35°C dengan kecepatan angin 20-30 km/jam pada saat kejadian.
  • Kurangnya kesadaran: Banyak petani mengabaikan imbauan untuk tidak membakar lahan sembarangan.
  • Keterbatasan akses air: Lokasi lahan yang jauh dari sumber air menyulitkan pemadaman dini.

Dampak dan Implikasi

Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga kerugian ekonomi yang signifikan. Lahan tebu seluas sekitar 2 hektar hangus terbakar, menghancurkan hasil panen yang seharusnya dipanen dalam waktu dekat. Selain itu, kebakaran juga mengancam keselamatan warga sekitar dan merusak kualitas udara akibat asap tebal.

Kamid, seorang warga Kediri, mengungkapkan kekhawatirannya, “Kami dan tetangga sekitar rumah saling mengingatkan, agar mereka yang punya kebiasaan membakar lahan menghindarkan hal tersebut. Sebab, kerugian tidak hanya dialami diri sendiri tapi bisa membahayakan orang lain.”

Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Satpol PP dan BPBD telah mengeluarkan imbauan larangan membakar lahan. Namun, penegakan hukum masih lemah. Kaleb Untung Satrio Wicaksono menegaskan, “Kami akan meningkatkan patroli dan sosialisasi, serta menindak tegas pelaku pembakaran lahan yang melanggar aturan.”

Langkah Pencegahan

Untuk mencegah tragedi serupa, berikut langkah yang dapat diambil:

  1. Hindari membakar lahan saat cuaca panas dan berangin.
  2. Gunakan metode pengolahan lahan tanpa bakar, seperti pemotongan dan pengomposan.
  3. Siapkan alat pemadam api ringan (APAR) atau sumber air di dekat lokasi pembakaran.
  4. Laporkan segera kepada petugas jika melihat kebakaran.

Tragedi di Kediri ini menjadi pengingat bahwa kelalaian sekecil apa pun dapat berakibat fatal. Semangat gotong royong dan kewaspadaan bersama harus terus digalakkan agar musibah serupa tidak terulang. Di balik duka, ada pelajaran berharga tentang pentingnya keselamatan dan kepatuhan terhadap aturan. Mari jadikan peristiwa ini sebagai momentum untuk lebih peduli terhadap lingkungan dan sesama.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *