Bina Marga Targetkan 97% Jalan Nasional Mantap pada 2027: Strategi Konektivitas Nasional
Suara Pecari | Jakarta – Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum menetapkan target ambisius: kondisi mantap jalan nasional mencapai 97 persen pada tahun 2027. Target ini diungkapkan Direktur Jenderal Bina Marga Roy Rizali Anwar dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026. Capaian ini tidak hanya sekadar angka, melainkan bagian integral dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 yang bertujuan memperkuat konektivitas jalan nasional dan aksesibilitas ke wilayah tertinggal serta perbatasan.
Latar Belakang: Mengapa 97 Persen?
Kondisi mantap jalan nasional merujuk pada jalan dalam kondisi baik dan sedang, yang mampu memberikan pelayanan optimal bagi pengguna. Saat ini, persentase kondisi mantap jalan nasional berada di kisaran 93-94 persen. Lonjakan menjadi 97 persen dalam dua tahun ke depan membutuhkan percepatan penanganan ruas-ruas kritis. Menurut Roy, program ini didasarkan pada muatan pokok kegiatan prioritas KP Utama yang diampu Dirjen Bina Marga, yaitu peningkatan kolektivitas jalan pada jalur utama dan aksesibilitas daerah tertinggal dan perbatasan.
Target Waktu Tempuh dan Aksesibilitas
Selain kondisi jalan, Bina Marga juga menetapkan target waktu tempuh pada jaringan jalan nasional sebesar 1,80 jam per 100 kilometer. Hal ini berarti perjalanan dari Jakarta ke Surabaya (sekitar 750 km) idealnya ditempuh dalam waktu 13,5 jam. Untuk mencapai efisiensi ini, pembangunan jalan tol menjadi kunci. Roy menyatakan panjang jalan tol beroperasi ditargetkan mencapai 2.353 kilometer secara kumulatif pada 2027, melalui kombinasi investasi swasta dan dukungan APBN.
Tingkat aksesibilitas jalan daerah tertinggal dan perbatasan juga menjadi perhatian. Targetnya adalah 2,67 kilometer per 100 kilometer persegi. Artinya, setiap 100 km² wilayah tertinggal harus memiliki akses jalan sepanjang 2,67 km. Saat ini, angka tersebut masih di bawah 2 km per 100 km², sehingga diperlukan pembangunan jalan baru dan peningkatan kualitas jalan eksisting di kawasan timur Indonesia, Papua, Kalimantan Utara, dan Nusa Tenggara.
Kondisi Jalan Provinsi, Kabupaten, dan Kota
Bina Marga tidak hanya fokus pada jalan nasional. Roy memaparkan target kondisi mantap untuk jalan provinsi sebesar 73 persen, jalan kabupaten 61 persen, dan jalan kota 83,60 persen pada 2027. Perbedaan target ini mencerminkan prioritas dan kapasitas masing-masing tingkat pemerintahan. Jalan kota yang lebih tinggi targetnya karena perannya vital dalam mobilitas perkotaan. Berikut rincian target dalam tabel:
| Jenis Jalan | Target Kondisi Mantap 2027 |
|---|---|
| Jalan Nasional | 97% |
| Jalan Provinsi | 73% |
| Jalan Kabupaten | 61% |
| Jalan Kota | 83,60% |
Pembangunan Infrastruktur Jalan Perkotaan
Selain jalan antar kota, pembangunan infrastruktur jalan perkotaan juga menjadi prioritas. Roy menyampaikan target pembangunan jalan perkotaan mencapai 113 kilometer secara kumulatif pada 2027. Proyek ini mencakup pembangunan flyover, underpass, dan pelebaran jalan di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan Medan. Tujuannya mengurangi kemacetan dan meningkatkan keselamatan.
Peran Jalan Tol dalam Mencapai Target
Pembangunan jalan tol menjadi andalan untuk mempercepat waktu tempuh nasional. Roy menegaskan target waktu tempuh dan jalan tol beroperasi dicapai melalui pembangunan jalan tol yang dilaksanakan melalui investasi dan dukungan APBN. Hingga 2026, panjang jalan tol beroperasi sekitar 2.100 km. Tambahan 253 km hingga 2027 membutuhkan investasi besar. Pemerintah mengandalkan skema Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) dan dukungan penyertaan modal negara (PMN) untuk BUMN karya.
Dampak dan Implikasi
Pencapaian target ini akan berdampak luas:
- Ekonomi: Biaya logistik diperkirakan turun hingga 15% karena waktu tempuh lebih singkat dan jalan lebih mulus. Hal ini meningkatkan daya saing produk Indonesia.
- Sosial: Akses ke daerah tertinggal dan perbatasan membuka peluang pendidikan, kesehatan, dan pasar bagi masyarakat setempat.
- Keselamatan: Jalan mantap mengurangi risiko kecelakaan akibat lubang atau permukaan rusak. Data Korlantas Polri menunjukkan 30% kecelakaan lalu lintas disebabkan faktor jalan.
- Pariwisata: Konektivitas yang lebih baik akan mendorong kunjungan wisatawan ke destinasi-destinasi baru di Indonesia Timur.
Tantangan dan Risiko
Meski optimistis, Roy mengakui ada tantangan: keterbatasan anggaran APBN, pembebasan lahan yang sering molor, serta cuaca ekstrem yang mempercepat kerusakan jalan. Untuk itu, Bina Marga menerapkan teknologi baru seperti aspal karet dan beton serat untuk meningkatkan durabilitas. Pengawasan ketat melalui sistem e-Monev juga dilakukan untuk memastikan proyek tepat waktu dan mutu.
Kronologi Target Bina Marga
- 2025: RPJMN 2025-2029 disahkan, Bina Marga menyusun rencana strategis.
- Juli 2026: RDP dengan Komisi V DPR, Roy memaparkan target 97% kondisi mantap jalan nasional.
- 2027: Target seluruh indikator harus tercapai, termasuk waktu tempuh 1,80 jam/100 km dan jalan tol 2.353 km.
Penutup: Target 97 persen kondisi mantap jalan nasional pada 2027 bukanlah sekadar angka di atas kertas. Ia adalah cerminan komitmen pemerintah untuk menyatukan Indonesia melalui infrastruktur yang handal. Jika berhasil, masyarakat akan merasakan langsung manfaatnya: perjalanan lebih cepat, biaya lebih murah, dan wilayah terpencil tidak lagi terisolasi. Namun, semua itu membutuhkan kerja keras, inovasi, dan sinergi antara pusat dan daerah. Bina Marga telah memasang peta jalan yang jelas, kini tinggal eksekusi yang konsisten.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.






