Video Viral hingga Ancaman Organ Gagal: Sonam Wangchuk Masuki Hari ke-20 Mogok Makan

Video Viral hingga Ancaman Organ Gagal: Sonam Wangchuk Masuki Hari ke-20 Mogok Makan

Suara Pecari, Sejumlah video yang beredar di media sosial dalam beberapa hari terakhir menunjukkan kondisi mengkhawatirkan aktivis iklim Sonam Wangchuk yang telah memasuki hari ke-20 aksi mogok makannya di Jantar Mantar, Delhi. Dalam video tersebut, Wangchuk tampak sangat lemah, berjalan tertatih-tatih dengan bantuan beberapa orang menuju kamar kecil. Meskipun demikian, ia masih sempat tersenyum dan melambai kepada para pendukungnya yang sebagian besar adalah mahasiswa dan orang tua dari berbagai daerah.

Sonam Wangchuk memulai mogok makan tanpa batas waktu sejak 28 Juni 2026 sebagai bentuk protes terhadap Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan atas serangkaian kebocoran soal ujian, termasuk NEET. Tuntutannya kini didukung oleh Cockroach Janata Party (CJP) yang pendirinya, Abhijeet Dipke, dalam sebuah video emosional menyatakan bahwa Wangchuk berada di ambang kematian. “Tulang-tulangnya sudah terlihat,” ujar Dipke, seraya menambahkan bahwa Wangchuk nyaris jatuh dua kali saat berjalan ke kamar mandi.

Tim dokter yang memantau kesehatannya telah memperingatkan bahwa Wangchuk memasuki fase kritis puasa berkepanjangan yang dapat menyebabkan kegagalan organ. Pengadilan Tinggi Delhi pun memerintahkan pemantauan kesehatan harian. Namun, Wangchuk tetap teguh pada pendiriannya. Dalam video lain yang diunggah Jumat lalu, ia bahkan bercanda akan tetap hidup hingga 20 Juli untuk berbaris ke Parlemen, dan jika gagal, ia akan kembali sebagai hantu.

Sementara itu, di belahan dunia lain, video musik terbaru BTS berjudul “NORMAL” dari album ARIRANG telah dirilis secara eksklusif di Spotify dan akan tayang di YouTube pada 19 Juli 2026. Video tersebut menampilkan ketujuh anggota BTS—RM, Jin, Suga, J-Hope, Jimin, V, dan Jungkook—dalam visual sinematik yang menggambarkan kompleksitas hidup di bawah sorotan publik. Dengan latar tangga kayu gelap, kamar mandi mewah, dan pesta yang ramai, video ini secara ironis mengeksplorasi tema normalitas di tengah kekacauan ketenaran.

Di sisi lain, hubungan Filipina-China memanas setelah China Daily merilis video buatan AI yang menggambarkan warga Filipina sebagai monyet. Video yang diunggah pada 10 Juli itu menunjukkan seekor monyet berpakaian tradisional Filipina yang diarahkan oleh lengan Amerika Serikat dan Jepang untuk menyanyikan lirik tentang penghargaan arbitrase Laut China Selatan. Menteri Pertahanan Filipina Gilberto Teodoro mengecam video tersebut sebagai propaganda rasis dan penghinaan terhadap kepemimpinan regional. Pemerintah Filipina mendesak agar video itu segera dihapus.

Kembali ke dalam negeri, sebuah video amatir memperlihatkan kebakaran yang terjadi di Paras Tierea Society, Noida, akibat korsleting AC di lantai tujuh. Tim pemeliharaan kompleks berhasil mengendalikan api sebelum pemadam kebakaran tiba. Belum ada laporan korban jiwa, namun kerugian material masih dalam penyelidikan.

Di Amerika Serikat, Menteri Pertahanan Pete Hegseth membela latihan terbang rendah pesawat tempur Angkatan Laut setelah video viral menunjukkan jet Blue Angels melintas sangat rendah di atas pantai Florida yang padat. Video yang direkam ponsel itu menuai kritik dari warga yang khawatir akan keselamatan dan kebisingan. Hegseth menyatakan bahwa latihan tersebut penting untuk kesiapsiagaan tempur.

Kesimpulannya, dari aksi mogok makan yang mengancam jiwa hingga kontroversi diplomatik dan fenomena budaya pop, video telah menjadi medium yang kuat dalam menyampaikan pesan dan memengaruhi opini publik. Setiap video yang beredar membawa dampak tersendiri, baik dalam skala lokal maupun global.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *