Kritik Tajam untuk Broos: Jayden Adams dan Lini Tengah Bafana Bafana Jadi Sorotan Usai Kekalahan dari Meksiko
Suara Pecari | Jakarta — Kembalinya Bafana Bafana ke panggung Piala Dunia FIFA 2026 berakhir dengan kekecewaan setelah takluk 2-0 dari Meksiko di laga pembuka Grup A, Kamis (11/6/2026) waktu setempat. Namun, kekalahan tersebut tidak hanya menyisakan skor, melainkan juga perdebatan sengit mengenai taktik pelatih Hugo Broos. Salah satu nama yang mencuri perhatian adalah gelandang muda Jayden Adams, yang menjadi bagian dari lini tengah yang dikritik habis-habisan oleh analis sepak bola.
Dalam analisisnya di SABC TV, mantan pelatih Mamelodi Sundowns, Manqoba Mngqithi, melontarkan kritik pedas terhadap pendekatan Broos. Mngqithi menyoroti keputusan Broos yang menggunakan formasi tiga bek dengan lima pemain bertahan, serta trio gelandang bertahan yang terdiri dari Jayden Adams, Sphephelo Sithole, dan Teboho Mokoena. Menurutnya, susunan ini justru menghilangkan kreativitas tim.
“Saya pikir kita tidak datang ke pertandingan ini untuk bermain. Kita tidak menunjukkan kemampuan Afrika Selatan yang sesungguhnya. Saat Anda bermain dengan lima bek, dan memiliki striker jangkung tanpa pemain kreatif, karena tiga gelandang semuanya bertahan, itu masalah,” ujar Mngqithi.
Ia secara spesifik menyebut Jayden Adams sebagai salah satu gelandang yang kesulitan beradaptasi dengan tekanan tinggi Meksiko. “Jayden Adams, Sithole, dan Mokoena—dan yang lebih parah, Sithole berada di tengah-tengah mereka. Di situlah kami terekspos, karena secara teknis ia sangat rentan di posisi itu,” tambah Mngqithi. Meski demikian, Adams tetap dianggap sebagai pemain muda berbakat yang perlu mendapat dukungan lebih baik dari sistem tim.
Keputusan Broos untuk tidak menurunkan pemain sayap seperti Oswin Appollis dan Tshepang Moremi, serta playmaker Relebohile Mofokeng dan Themba Zwane, juga menuai kritik. Formasi 3-5-2 yang dipilih Broos dinilai terlalu defensif dan gagal memanfaatkan kecepatan sayap. Hal ini diperparah dengan kartu merah yang diterima Sithole dan Zwane, membuat Bafana Bafana harus menyelesaikan laga dengan sembilan pemain.
Meskipun hasil akhir mengecewakan, beberapa pengamat menilai bahwa kehadiran Jayden Adams di lini tengah merupakan investasi jangka panjang. Usianya yang masih muda dan kemampuannya dalam mengatur ritme permainan dianggap sebagai aset berharga. Namun, untuk bisa bersaing di level tertinggi, Adams dan rekan-rekannya membutuhkan dukungan taktik yang lebih fleksibel dari sang pelatih.
Pertandingan ini menjadi pelajaran berharga bagi Bafana Bafana. Mereka harus segera bangkit karena masih ada dua laga penyisihan grup melawan lawan-lawan tangguh. Publik sepak bola Afrika Selatan berharap Broos dapat mengevaluasi strateginya dan memberikan peran yang lebih tepat bagi pemain seperti Jayden Adams agar potensi tim dapat tergali maksimal.
Kekalahan dari Meksiko memang pahit, namun perjalanan masih panjang. Jika Broos mampu beradaptasi dan memaksimalkan talenta muda seperti Jayden Adams, bukan tidak mungkin Bafana Bafana masih bisa memberikan kejutan di Piala Dunia 2026.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












