Kontroversi Kursi Kosong Warnai Laga Korea Selatan vs Ceko di Piala Dunia 2026

Kontroversi Kursi Kosong Warnai Laga Korea Selatan vs Ceko di Piala Dunia 2026

Suara Pecari | Pertandingan perdana Piala Dunia 2026 antara Korea Selatan vs Ceko di Stadion Akron, Guadalajara, Meksiko, Jumat (12/6) lalu menyisakan polemik. Meski secara resmi FIFA mencatat kehadiran 44.985 penonton, atau hanya 679 kursi kosong dari kapasitas total 45.664, tayangan televisi dan foto-foto memperlihatkan banyak tribun yang tampak lengang. Fenomena ini langsung menjadi perbincangan hangat di media sosial dan media internasional, termasuk di Asia Tenggara.

Dalam laga Korea Selatan vs Ceko, tuan rumah Korea Selatan berhasil menang 2-1. Namun, sorotan justru tertuju pada jumlah penonton yang hadir. Banyak netizen mempertanyakan data resmi FIFA karena gambar yang beredar menunjukkan ribuan kursi kosong. FIFA pun angkat bicara. Mereka menjelaskan bahwa angka kehadiran resmi dihitung berdasarkan tiket yang terpindai, bukan penilaian visual terhadap okupansi tempat duduk pada waktu tertentu. FIFA juga menyebut banyak penonton yang memilih berdiri di lorong atau area konsesi daripada duduk di kursi masing-masing selama pertandingan.

Kontroversi ini semakin memanas setelah media Inggris The Sun mengungkap bahwa masih ada sekitar 180 ribu tiket yang belum terjual melalui portal resmi penjualan ulang FIFA. Hal ini memicu kritik terhadap mahalnya harga tiket. Untuk laga Korea Selatan vs Ceko, tiket tribun bawah dibanderol US$500 (Rp8,8 juta), tribun atas US$400 (Rp7,1 juta), dan VIP mencapai Rp88,8 juta. Banyak pihak menilai harga tersebut tidak terjangkau bagi sebagian besar penggemar sepak bola Meksiko dan global, sehingga berdampak pada tingkat kehadiran.

Di sisi lain, pertandingan Korea Selatan vs Ceko juga menyita perhatian media Vietnam. Media Soha menyoroti gol Republik Ceko yang dicetak melalui lemparan ke dalam jarak jauh oleh Vladimir Coufal, yang kemudian disundul Krejčí. Mereka mengaitkan skema tersebut dengan ciri khas Timnas Indonesia yang sering menggunakan lemparan ke dalam andalan Pratama Arhan. Meski Indonesia gagal lolos ke Piala Dunia 2026, gaya permainan mereka tetap dikenang di kawasan Asia Tenggara.

Terlepas dari kontroversi kursi kosong, pertandingan Korea Selatan vs Ceko tetap berjalan sengit. Korea Selatan tampil dominan dan berhasil membalikkan keadaan setelah tertinggal lebih dulu. Namun, isu transparansi data penonton menjadi sorotan utama. FIFA bersikukuh bahwa data yang dirilis akurat, namun banyak pihak menuntut evaluasi sistem penjualan tiket dan harga yang lebih terjangkau untuk edisi mendatang.

Kesimpulannya, laga Korea Selatan vs Ceko tidak hanya menyajikan aksi sepak bola, tetapi juga memicu diskusi serius mengenai aksesibilitas dan kredibilitas penyelenggaraan Piala Dunia 2026. FIFA diharapkan dapat memperbaiki sistem tiket dan memberikan penjelasan yang lebih transparan agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan