Ketua DPR: Negara Tidak Boleh Kehilangan Satu Generasi Akibat Putus Sekolah
Suara Pecari, Jakarta – Ketua DPR RI Puan Maharani menegaskan bahwa negara tidak boleh kehilangan satu generasi akibat tingginya angka anak putus sekolah. Pernyataan itu disampaikan menanggapi temuan sekitar 6.000 anak tidak bersekolah di Kota Bogor, Jawa Barat, yang didominasi oleh rendahnya minat belajar.
Temuan 6.000 Anak Putus Sekolah di Bogor
Forum Komunikasi Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (FKBM) Kota Bogor mengungkapkan bahwa dari 141 data Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kelurahan Tegallega, hanya 35 anak yang bersedia kembali ke lembaga pendidikan. Fenomena ini menunjukkan bahwa masalah putus sekolah tidak lagi semata-mata akibat akses atau biaya, melainkan hilangnya motivasi belajar pada anak.
Data Nasional yang Mengkhawatirkan
Berdasarkan data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), jumlah ATS di Indonesia mencapai 3.966.858 orang, hampir 4 juta jiwa. Rinciannya: 1.913.633 anak Belum Pernah Bersekolah (BPB), 986.755 anak Drop Out (DO), dan 1.066.470 anak Lulus Tidak Melanjutkan (LTM). Angka ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk segera bertindak.
Seruan Puan Maharani
Puan menilai penanganan ATS harus menjadi agenda strategis pembangunan nasional, bukan sekadar program pendidikan. Ia mendorong pemerintah menyusun Grand Design Nasional Penuntasan Anak Tidak Sekolah hingga 2045 yang lintas sektor dan terukur. “Negara sedang menghadapi tantangan dalam menjaga mimpi dan cita-cita generasi mudanya. Jika kondisi ini dibiarkan, yang hilang bukan hanya kesempatan belajar seorang anak, tetapi juga kualitas sumber daya manusia yang akan menentukan masa depan Indonesia,” ujarnya.
Pencegahan dan Solusi
Puan meminta pemerintah mengubah pendekatan dari kuratif menjadi preventif, yaitu membangun sistem nasional yang mampu mengidentifikasi anak-anak berisiko putus sekolah sejak dini. Ia juga mendorong integrasi data pendidikan dengan data perlindungan sosial dan kependudukan, serta memberikan insentif fiskal bagi daerah yang berhasil menekan angka ATS. “Setiap anak yang putus sekolah adalah alarm bagi negara untuk hadir lebih cepat dan bekerja lebih terpadu,” tegas Puan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










