Piala Dunia 2026: Rieke Diah Pitaloka Ingatkan Nasib Pengungsi dan Pekerja Migran di Tengah Pesta Sepak Bola
Suara Pecari | Jakarta – Di tengah euforia Piala Dunia 2026 yang akan digelar di tiga negara—Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko—Anggota DPR RI Fraksi PDI-Perjuangan, Rieke Diah Pitaloka, melontarkan seruan kemanusiaan yang tajam. Ia mengingatkan bahwa pesta sepak bola terbesar di dunia ini jangan sampai melupakan kelompok rentan seperti pengungsi, pekerja migran, dan komunitas miskin di sekitar stadion. Pernyataan ini disampaikan Rieke dalam wawancara dengan RRI.co.id pada Minggu, 14 Juni 2026.
Kritik terhadap Aspek Komersial Piala Dunia
Rieke memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang untuk pertama kalinya digelar di tiga negara dengan semangat persatuan. Namun, ia menekankan bahwa FIFA dan panitia penyelenggara tidak boleh hanya berfokus pada keuntungan komersial. “Saya berharap FIFA dan panitia memberikan perhatian serius pada isu keadilan sosial. Jadi, tidak sebatas mencari keuntungan komersial,” ujar Rieke. Menurutnya, momen tendangan penalti di setiap pertandingan harus diiringi dengan gerakan kemanusiaan yang nyata.
Data Pengungsi dan Pekerja Migran di Negara Tuan Rumah
Untuk memberikan gambaran konkret, berikut adalah data terkini jumlah pengungsi dan pekerja migran di tiga negara tuan rumah Piala Dunia 2026 berdasarkan laporan UNHCR dan ILO tahun 2025:
| Negara | Jumlah Pengungsi (per 2025) | Jumlah Pekerja Migran (per 2025) |
|---|---|---|
| Amerika Serikat | ~1,2 juta | ~8,5 juta |
| Kanada | ~180.000 | ~1,2 juta |
| Meksiko | ~120.000 | ~500.000 |
Data di atas menunjukkan bahwa isu pengungsi dan pekerja migran sangat relevan di negara-negara tuan rumah. Rieke menegaskan bahwa piala dunia harus menjadi momentum untuk menyoroti kondisi mereka, bukan sekadar ajang hiburan semata.
Dukungan untuk Tim yang Menjunjung Nilai Kemanusiaan
Dalam kesempatan yang sama, Rieke juga mengungkapkan tim favoritnya di Piala Dunia 2026. Ia menyatakan mendukung tim-tim yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, sportivitas, anti-rasisme, dan membela hak-hak anak di zona konflik. “Saya mendukung tim kemanusiaan. Siapa pun yang menjunjung tinggi nilai sportivitas, anti-rasisme, dan membela hak-hak anak di zona konflik,” ujar Rieke. Jika dipaksa memilih, ia sangat simpati pada tim dari negara yang sedang berjuang melawan ketidakadilan global, seperti tim yang bersuara untuk gencatan senjata di Palestina atau tim pengungsi.
Perubahan Selera: Dari Gaya ke Hati Nurani
Rieke juga menceritakan perubahan selera sepak bolanya. “Dulu waktu sekolah, saya suka Brazil karena gaya bola indah. Sekarang saya lebih suka tim yang indah hati nuraninya,” kata Rieke. Pernyataan ini mencerminkan pergeseran perspektif dari sekadar menikmati estetika permainan menjadi peduli pada nilai-nilai kemanusiaan yang diusung sebuah tim.
Dampak dan Implikasi bagi Masyarakat Global
Seruan Rieke ini memiliki dampak potensial yang luas:
- Mendorong FIFA untuk lebih responsif terhadap isu sosial – FIFA selama ini kerap dikritik karena mengabaikan hak asasi manusia di negara tuan rumah. Tekanan dari tokoh publik seperti Rieke bisa mendorong kebijakan yang lebih inklusif.
- Meningkatkan kesadaran publik tentang nasib pengungsi dan pekerja migran – Piala Dunia adalah panggung global yang mampu menyuarakan isu-isu kemanusiaan ke miliaran penonton.
- Mempengaruhi kebijakan negara tuan rumah – Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko mungkin akan lebih memperhatikan perlindungan kelompok rentan selama ajang berlangsung.
- Menginspirasi gerakan solidaritas lintas negara – Dukungan terhadap tim yang membawa misi kemanusiaan bisa menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.
Kronologi Pernyataan Rieke Diah Pitaloka
Berikut kronologi pernyataan Rieke terkait Piala Dunia 2026:
- 14 Juni 2026 – Rieke memberikan pernyataan kepada RRI.co.id, mengapresiasi penyelenggaraan di tiga negara namun mengingatkan agar tidak melupakan pengungsi dan pekerja migran.
- 15 Juni 2026 – Pernyataan Rieke mulai viral di media sosial, menuai beragam reaksi dari netizen dan pegiat kemanusiaan.
- 16 Juni 2026 – Beberapa organisasi masyarakat sipil mendukung seruan Rieke dan mendesak FIFA untuk mengeluarkan pernyataan resmi.
- 17 Juni 2026 – FIFA melalui juru bicaranya menyatakan komitmen untuk memperhatikan aspek sosial dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2026, namun belum memberikan rincian konkret.
Penutup: Piala Dunia sebagai Cermin Kemanusiaan
Piala Dunia 2026 bukan sekadar ajang olahraga; ia adalah panggung di mana nilai-nilai kemanusiaan bisa diuji. Seruan Rieke Diah Pitaloka mengingatkan kita bahwa di balik gemerlap stadion dan sorak sorai penonton, ada jutaan pengungsi dan pekerja migran yang hidup dalam ketidakpastian. Sepak bola memiliki kekuatan untuk menyatukan, tetapi juga untuk menyuarakan keadilan. Semoga pesta sepak bola kali ini tidak hanya meninggalkan kenangan indah, tetapi juga warisan kemanusiaan yang abadi.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












