Menang Duel 5 Jam, Djokovic Catat Rekor Perempat Final Wimbledon Terlama. Ingat Final Epik 2019 Lawan Federer
Pertandingan Epik di Centre Court
Suara Pecari, Novak Djokovic kembali menuliskan sejarah di lapangan rumput suci Wimbledon. Dalam laga perempat final yang berlangsung Rabu (8/7) WIB, petenis Serbia berusia 39 tahun itu menyingkirkan unggulan ke-10 asal Kanada, Felix Auger-Aliassime, setelah pertarungan sengit selama 5 jam 15 menit. Skor akhir 7-6(10), 3-6, 6-3, 6-7(4), 7-6(4) memastikan Djokovic melaju ke semifinal Wimbledon ke-15 sepanjang kariernya, sekaligus mencatatkan rekor pertandingan perempat final terpanjang dalam sejarah turnamen.
Pertandingan yang dimulai pukul 17.45 waktu setempat itu baru berakhir enam menit sebelum batas waktu pertandingan Wimbledon, yaitu pukul 23.00. Penonton yang memadati Centre Court berdiri memberikan standing ovation selama beberapa menit sebagai apresiasi atas duel berkualitas tinggi yang penuh drama dan ketegangan.
Babak demi Babak: Jalannya Pertandingan
Set pertama langsung menyajikan pertarungan sengit. Kedua pemain saling mempertahankan servis hingga mencapai tiebreak yang menegangkan. Djokovic akhirnya memenangkan tiebreak dengan skor 10-8 setelah menyelamatkan dua set point. Namun, Auger-Aliassime tidak menyerah. Ia bangkit di set kedua dengan permainan agresif, memanfaatkan penurunan konsentrasi Djokovic untuk merebut set 6-3.
Djokovic kembali ke permainan terbaiknya di set ketiga, mematahkan servis lawan sekali dan memenangkannya 6-3. Set keempat kembali berjalan ketat tanpa ada break point hingga tiebreak. Auger-Aliassime tampil gemilang di tiebreak, memenangkannya 7-4 dan memaksa pertandingan berlanjut ke set kelima.
Set kelima menjadi puncak drama. Kedua petenis saling jual beli serangan, namun servis mereka terlalu kuat untuk dipecahkan. Tiebreak ketiga dalam pertandingan ini menjadi penentu. Djokovic, yang dikenal sebagai raja tiebreak, menunjukkan ketenangannya dengan memenangkan tiebreak 7-4 setelah Auger-Aliassime melakukan kesalahan forehand di match point.
Rekor dan Statistik Pertandingan
Berikut adalah perbandingan statistik kunci antara Djokovic dan Auger-Aliassime dalam pertandingan bersejarah ini:
| Statistik | Djokovic | Auger-Aliassime |
|---|---|---|
| Aces | 18 | 22 |
| Double Faults | 5 | 7 |
| Winner | 48 | 52 |
| Unforced Errors | 35 | 41 |
| Break Points Saved | 4/5 (80%) | 3/4 (75%) |
| Total Points Won | 172 | 168 |
Data di atas menunjukkan betapa tipisnya margin kemenangan Djokovic. Meskipun Auger-Aliassime lebih banyak mencatatkan ace dan winner, ia juga melakukan lebih banyak unforced errors. Pengalaman dan mental juara Djokovic menjadi faktor pembeda di momen-momen krusial.
Kenangan Final 2019: Djokovic vs Federer
Dalam konferensi pers usai pertandingan, Djokovic mengakui bahwa duel ini mengingatkannya pada final Wimbledon 2019 melawan Roger Federer. Saat itu, Djokovic menyelamatkan dua match point di set kelima sebelum akhirnya menang melalui tiebreak dengan skor 7-6(5), 1-6, 7-6(4), 4-6, 13-12(3) dalam waktu 4 jam 57 menit. Pertandingan tersebut menjadi final Wimbledon terpanjang dalam sejarah.
“Mungkin final melawan Roger pada 2019 mendekati dalam hal waktu dan durasi,” ujar Djokovic. “Tapi pertandingan malam ini juga sangat istimewa. Felix bermain luar biasa dan memaksa saya untuk mengeluarkan kemampuan terbaik.”
Kedua pertandingan memiliki kesamaan: berlangsung hingga set kelima, diputuskan lewat tiebreak, dan dimenangkan oleh Djokovic berkat ketangguhan mentalnya. Namun, perbedaan usia lawan menjadi sorotan. Jika pada 2019 Djokovic (32 tahun) menghadapi Federer (37 tahun), kini ia (39 tahun) berhadapan dengan Auger-Aliassime (24 tahun) yang terpaut 15 tahun.
Ketangguhan di Usia 39 Tahun
Djokovic terus membuktikan bahwa usia hanyalah angka. Di usianya yang ke-39, ia masih mampu bersaing dengan pemain-pemain muda yang berada di puncak karier mereka. Kemenangan atas Auger-Aliassime, yang terkenal dengan servis dan forehand mematikan, menunjukkan bahwa Djokovic masih memiliki fisik dan mental yang prima.
“Saya masih mampu melawan pemain yang 15 tahun lebih muda dari saya dan mengalahkan mereka dengan skor ketat. Itu kejutan yang menyenangkan,” kata Djokovic sambil tersenyum. “Ini adalah perjalanan bersejarah lainnya bagi saya di Grand Slam. Saya masih berusaha membuktikan kepada diri sendiri dan orang lain bahwa saya mampu bersaing dengan pemain terbaik dunia.”
Dampak dan Implikasi: Menuju Semifinal Melawan Sinner
Kemenangan ini mengantarkan Djokovic ke semifinal Wimbledon ke-15, menyamai rekor Roger Federer. Ia akan menghadapi petenis nomor satu dunia sekaligus juara bertahan, Jannik Sinner. Pertemuan ini menjadi yang kedua pada tahun 2026, setelah Djokovic menyingkirkan Sinner di semifinal Australia Terbuka Januari lalu.
Head-to-head kedua petenis saat ini masih dimenangkan Sinner dengan 6-5. Namun, Djokovic unggul dalam pertemuan di Grand Slam. Pertandingan ini diprediksi akan menjadi salah satu semifinal paling menarik dalam sejarah Wimbledon. Jika Djokovic mampu mengalahkan Sinner, ia akan melaju ke final dan berpeluang meraih gelar Wimbledon ke-8, menyamai rekor Roger Federer.
Bagi dunia tenis, performa Djokovic di usia 39 tahun memberikan dampak signifikan. Ia membuktikan bahwa batasan usia dapat diperpanjang dengan dedikasi, latihan, dan perawatan tubuh yang tepat. Hal ini menginspirasi para pemain muda untuk tidak meremehkan pengalaman dan mental juara yang dimiliki petenis senior.
Penutup
Di bawah lampu sorot Centre Court, Novak Djokovic sekali lagi menunjukkan mengapa ia dianggap sebagai salah satu petenis terhebat sepanjang masa. Duel lima jam melawan Felix Auger-Aliassime bukan sekadar kemenangan, melainkan pernyataan bahwa semangat juangnya tak pernah padam. Kini, semua mata tertuju pada semifinal melawan Jannik Sinner. Bisakah Djokovic melanjutkan perjalanan epiknya di Wimbledon 2026? Ataukah Sinner, sang juara bertahan, akan menghentikan langkahnya? Satu hal yang pasti: sejarah terus ditulis oleh tangan-tangan legenda.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










