Krisis Marcus Rashford: Gagal di Barcelona, Terpinggirkan di Piala Dunia, dan Kembali ke Pelukan Setan Merah
Suara Pecari, Marcus Rashford, pemain sayap Manchester United yang sempat bersinar bersama Barcelona musim lalu, kini menghadapi masa depan yang tidak pasti setelah gagal mempermanenkan statusnya di Camp Nou. Pemain berusia 28 tahun itu kembali ke Old Trafford setelah Barcelona memilih untuk tidak mengaktifkan opsi pembelian senilai €30 juta dan malah mendatangkan Anthony Gordon dari Newcastle United. Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi karier Marcus Rashford yang sebelumnya tampil impresif dengan 14 gol dan 14 assist dalam 49 pertandingan di semua kompetisi bersama Barcelona musim 2025/26.
Namun, masalah Marcus Rashford tidak berhenti di situ. Di Piala Dunia 2026 yang sedang berlangsung, perannya di timnas Inggris semakin terpinggirkan. Setelah tampil sebagai pemain pengganti dan mencetak satu gol melawan Kroasia, Rashford hanya mendapat waktu bermain singkat melawan Ghana dan starter saat melawan Panama tanpa memberikan dampak signifikan. Puncaknya, ia ditarik keluar pada menit ke-61 saat Inggris tertinggal 0-1 dari Kongo di babak 32 besar, dan penggantinya, Anthony Gordon, justru menjadi pahlawan dengan dua assist yang membawa kemenangan 2-1. Sejak saat itu, Marcus Rashford tidak pernah lagi menjadi starter dan bahkan menjadi pemain cadangan yang tidak dimainkan dalam dua pertandingan berikutnya melawan Meksiko dan Norwegia.
Keputusan pelatih Thomas Tuchel untuk tidak menggunakan Marcus Rashford meskipun tim sedang membutuhkan gol menuai kritik dari mantan bek Inggris, Stuart Pearce. Dalam wawancara dengan talkSPORT, Pearce menyatakan keheranannya karena Rashford tidak dimainkan saat Inggris mengejar ketertinggalan. “Saya merasa aneh ketika kami mengejar gol dan butuh inspirasi, tidak ada tanda-tanda Marcus Rashford. Dia juga tidak tampil melawan Meksiko. Kami melewatkan dua pertandingan di mana kami butuh ketajaman dan seseorang yang bisa mencetak gol dengan kecepatan dalam serangan balik,” ujar Pearce.
Di sisi lain, Manchester United di bawah asuhan Michael Carrick telah membuka pintu untuk mengintegrasikan kembali Marcus Rashford ke dalam skuad utama setelah Piala Dunia. Fabrizio Romano, pakar transfer ternama, mengonfirmasi bahwa Rashford akan melapor untuk pramusim bersama Manchester United setelah turnamen. Namun, klub masih mempertimbangkan opsi penjualan mengingat statusnya sebagai produk akademi yang memberikan keuntungan bersih di neraca keuangan. Arsenal dan Tottenham Hotspur dikabarkan tertarik, meskipun belum ada tawaran resmi.
Kebuntuan transfer ini memperlihatkan dilema yang dihadapi Manchester United dalam kebijakan transfer mereka. Klub enggan mengeluarkan dana besar untuk pemain bintang setelah pengalaman pahit dengan kontrak mahal yang sulit dijual. Keputusan untuk tidak merekrut Harry Kane dan Declan Rice di masa lalu menjadi contoh bagaimana United kini lebih berhati-hati. Jika Marcus Rashford dijual, dana yang diperoleh kemungkinan akan digunakan untuk mendatangkan pemain sayap kiri baru seperti Crysencio Summerville atau Iliman Ndiaye.
Kesimpulannya, masa depan Marcus Rashford masih menggantung. Meskipun ada kemungkinan bertahan di Manchester United, performanya yang menurun di Piala Dunia dan ketatnya persaingan di lini depan membuat situasinya rumit. Keputusan akhir akan sangat bergantung pada hasil diskusi dengan manajer dan tawaran yang masuk. Satu hal yang pasti, karier Marcus Rashford kini berada di persimpangan jalan, dan langkah selanjutnya akan menentukan apakah ia bisa bangkit kembali atau justru tenggelam dalam pusaran ketidakpastian.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










