UEFA Lawan FIFA: Kontroversi VAR, Kompensasi Rekor, dan Politik Piala Dunia 2026
Suara Pecari, Uni Sepak Bola Eropa (UEFA) kembali menjadi pusat perhatian dunia sepak bola dengan serangkaian kebijakan kontroversial yang memengaruhi jalannya Piala Dunia 2026. Dalam beberapa pekan terakhir, UEFA mengeluarkan instruksi tegas kepada wasit VAR untuk tidak menggunakan aturan ‘kesalahan identifikasi pemain’ sebagai alat menghukum aksi diving, sebuah langkah yang secara langsung menentang praktik yang diterapkan FIFA di Piala Dunia. Keputusan ini memicu perdebatan sengit di kalangan penggemar dan pelaku sepak bola, terutama setelah dua insiden kontroversial di turnamen yang melibatkan pemain Amerika Serikat dan Swiss.
Aturan ‘kesalahan identifikasi’ pertama kali diterapkan pada laga Amerika Serikat versus Paraguay, di mana kartu kuning yang semula diberikan kepada bek AS, Tim Ream, dibatalkan dan dialihkan ke penyerang Paraguay, Miguel Almirón, dengan alasan akting. Namun, kasus yang paling mencolok terjadi pada perempat final antara Swiss dan Argentina. Penyerang Swiss, Breel Embolo, diusir keluar lapangan pada menit ke-72 setelah VAR meninjau insiden yang melibatkan Leandro Paredes. Padahal, Paredes-lah yang pertama kali mendapat kartu kuning karena tekel keras, namun tayangan ulang menunjukkan Embolo yang sengaja melakukan kontak. Keputusan ini mengubah jalannya pertandingan, di mana Argentina akhirnya menang 3-1 setelah perpanjangan waktu. UEFA menilai bahwa penggunaan VAR untuk menghukum diving merupakan keputusan ‘diskresioner dan tidak jelas’, sehingga memerintahkan wasit di kompetisi Eropa untuk membatasi intervensi hanya pada kasus kesalahan identifikasi yang jelas.
Di sisi lain, UEFA justru menunjukkan komitmennya terhadap pengembangan sepak bola Eropa dengan mengumumkan kompensasi finansial rekor bagi klub yang melepas pemain internasional untuk EURO 2028. Total dana sebesar EUR 244 juta atau sekitar Rp4,64 triliun akan didistribusikan kepada klub-klub peserta, dengan rincian EUR 104 juta untuk babak kualifikasi dan UEFA Nations League, serta EUR 140 juta untuk putaran final. Klub-klub besar seperti Barcelona, Real Madrid, dan Paris Saint-Germain diprediksi menjadi penerima manfaat terbesar karena memiliki banyak pemain tim nasional. Langkah ini diambil UEFA untuk memperkuat hubungan dengan Asosiasi Klub Eropa (ECA) dan memastikan klub-klub tidak dirugikan ketika melepas pemainnya.
Sementara itu, politik global turut mewarnai gelaran Piala Dunia 2026. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dijadwalkan menyerahkan trofi kepada pemenang final antara Argentina dan Spanyol. Namun, hubungan Trump dengan Spanyol sedang memanas akibat perselisihan soal belanja pertahanan NATO dan kebijakan luar negeri. Trump bahkan menyebut Spanyol sebagai ‘mitra NATO yang buruk’ dan mengancam akan menghentikan perdagangan. Ironisnya, jika Spanyol juara, Trump harus menyerahkan piala kepada negara yang sering ia kecam. Hal ini menambah dimensi politik dalam turnamen yang seharusnya menjadi ajang pemersatu.
Di tengah hiruk-pikuk Piala Dunia, Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, justru memuji toleransi dan euforia sepak bola di Sulawesi Utara. Dalam kunjungannya, Chaibi takjub melihat banyaknya bendera peserta Piala Dunia, termasuk Argentina, berkibar di sepanjang jalan. Ia juga mengapresiasi kerukunan antarumat beragama di daerah tersebut. Pernyataan ini menunjukkan bahwa sepak bola tetap menjadi alat diplomasi yang efektif, meskipun di level global UEFA dan FIFA kerap berseteru.
Kesimpulannya, UEFA terus memainkan peran krusial dalam menentukan arah sepak bola Eropa, baik melalui kebijakan teknis maupun finansial. Penolakan terhadap aturan VAR ala FIFA menunjukkan independensi UEFA, sementara kompensasi rekor untuk klub membuktikan keseriusan mereka dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan klub dan tim nasional. Di sisi lain, politik dan diplomasi tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari panggung sepak bola dunia, seperti yang terlihat dalam perseteruan Trump-Spanyol dan pujian Dubes Uni Eropa terhadap Indonesia. Uni Sepak Bola Eropa, dengan segala dinamikanya, tetap menjadi pilar utama dalam ekosistem sepak bola global.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.









