Timo Scheunemann Pilih Fokus Bina Pemain Muda, Tolak Melatih Timnas Senior
Suara Pecari, Kudus – Pelatih tim nasional U-16 putri Indonesia, Timo Scheunemann, menegaskan komitmennya untuk tidak melatih tim nasional senior dan lebih memilih fokus membina serta mencari bakat pemain muda. Keputusan ini disampaikannya setelah membawa Garuda Pertiwi menjadi runner-up pada Srikandi Merdeka Cup 2026.
Dalam konferensi pers yang berlangsung di Kudus, Jawa Tengah, Timo menjelaskan bahwa jiwanya lebih terpanggil untuk menciptakan dan mengembangkan pemain muda daripada menangani tim senior yang sudah jadi. Ia menyebutkan keinginannya untuk menjadi “gatekeeper” atau penjaga gawang talenta muda agar dapat menembus level yang lebih tinggi dalam sepak bola nasional.
Fokus pada Pembinaan Pemain Muda
Timo menegaskan bahwa ia tidak memiliki keinginan untuk melatih tim senior Indonesia. Meski demikian, ia masih membuka peluang untuk melatih tim kelompok usia di bawah U-20 karena peran tersebut sejalan dengan ambisinya dalam membina dan mencetak pemain muda berbakat.
“Kalau U-20 masih mau sih, tapi di atas itu enggak mau. Karena saya maunya membina, menciptakan pemain,” ujar Timo. Ia juga menyatakan bahwa setiap generasi pemain yang dilatihnya, baik pria maupun wanita, telah berhasil menembus timnas Indonesia.
Tantangan Melatih Kelompok Usia
Timo mengungkapkan bahwa melatih tim kelompok usia memiliki tantangan tersendiri karena program pengembangan yang harus disiapkan berbeda jauh dibandingkan dengan tim senior. Selain itu, pencarian bakat memerlukan keahlian khusus yang tidak dimiliki semua pelatih.
“Pencarian bakat itu dua hal penting: satu objektivitas, enggak ‘masuk angin’, sama kemampuan. Jadi enggak bisa diremehkan itu, enggak semua pelatih bisa,” jelasnya.
Performa Timnas U-16 Putri di Srikandi Merdeka Cup 2026
Di bawah kepemimpinan Timo Scheunemann, timnas U-16 putri Indonesia menunjukkan performa yang membanggakan dengan menjadi runner-up di ajang Srikandi Merdeka Cup 2026. Pada babak final yang digelar di Supersoccer Arena, Kudus, Garuda Pertiwi kalah tipis 0-1 dari Thailand.
Meski demikian, Timo optimistis bahwa kualitas timnya tidak kalah jauh dengan Thailand. Ia menyatakan bahwa penguasaan bola timnas Indonesia mencapai 51 persen, sebuah capaian yang belum pernah terjadi sebelumnya melawan Thailand. Timo juga mengapresiasi kerja keras pemain yang mampu tampil maksimal meskipun menjalani jadwal pertandingan yang padat.
“Kami tidak jomplang, tidak kalah jauh. Kalau kalah jauh, ya kalah itu lumrah. Tapi kami tipis dengan mereka,” kata Timo menegaskan bahwa timnya memiliki potensi besar untuk berkembang lebih baik lagi di masa depan.
Keputusan Timo untuk fokus pada pembinaan pemain muda dan pencarian bakat menjadi strategi penting dalam pengembangan sepak bola putri di Indonesia. Dengan pendekatan ini, diharapkan talenta-talenta muda dapat terus bermunculan dan memperkuat tim nasional di masa yang akan datang.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










