Populer Branding di Event Lari dan Cuan Besar Bisnis Olahraga
Suara Pecari, Jakarta – Branding melalui event lari menjadi fenomena yang semakin populer di Jabodetabek sepanjang tahun 2026. Dari 172 event lari yang diselenggarakan hingga Agustus, 79 event mengusung nama merek atau institusi sebagai bagian dari identitas resmi, baik sebagai sponsor utama maupun penyelenggara. Tren ini menunjukkan bahwa event lari bukan hanya aktivitas olahraga, tetapi juga ladang bisnis dan media promosi efektif bagi berbagai merek.
Dominasi Branding di Event Lari
Event lari di Jabodetabek didominasi oleh kategori retail serta makanan dan minuman, dengan kontribusi 18 event. Merek lain menyusul dengan 17 event, dan instansi pemerintah serta partai politik memegang 11 event. Lokasi favorit penyelenggaraan adalah Gelora Bung Karno (GBK) dan Senayan di Jakarta, yang menjadi tempat berlangsungnya 34 event sepanjang tahun, mengungguli BSD City yang hanya menyelenggarakan 13 event.
Keunggulan lokasi ini didukung oleh kemudahan akses transportasi umum seperti LRT, MRT, dan kereta api, memudahkan mobilisasi pelari dari berbagai daerah penopang Jakarta. Bagi peserta, atribut seperti jersei berlogo brand ternama memberikan nilai gengsi sosial dan kompensasi atas biaya pendaftaran yang cukup tinggi.
Biaya dan Potensi Pendapatan dari Event Lari
Anggapan bahwa lari adalah olahraga murah mulai bergeser seiring kenaikan biaya registrasi dan perlengkapan. Biaya pendaftaran mengalami kenaikan sekitar Rp 100 ribu setiap tahun. Saat ini, tiket kategori 10K berkisar antara Rp 500 ribu hingga Rp 800 ribu, sedangkan full marathon mencapai Rp 900 ribu hingga Rp 1 juta.
Pelari yang mengikuti event di luar kota seperti Bandung atau Bali harus mempertimbangkan tambahan biaya transportasi dan akomodasi, sehingga total pengeluaran bisa mencapai Rp 2 juta sampai Rp 5 juta per event. Rata-rata biaya registrasi untuk seluruh kategori di Jabodetabek adalah Rp 266 ribu.
Kategori lari 5K paling populer dengan 150 event, diikuti kategori 6-10K sebanyak 76 event. Satu event besar dengan 27 ribu peserta dapat menghasilkan pendapatan pendaftaran hingga Rp 27 miliar.
Dampak Ekonomi Event Lari
Dampak ekonomi dari event lari meluas melampaui biaya pendaftaran peserta. Contohnya, BTN Jakarta International Marathon (BTN Jakim) 2026 yang diikuti 45 ribu pelari diperkirakan menyumbang perputaran ekonomi daerah lebih dari Rp 200 miliar, naik signifikan dibandingkan Rp 125 miliar pada tahun sebelumnya.
Data ini memperlihatkan bahwa industri olahraga lari memiliki potensi besar sebagai motor penggerak ekonomi dan media branding yang efektif, menjadikan event lari sebagai bisnis yang menguntungkan bagi penyelenggara dan sponsor.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.









