Kunjungan Wisata Banyuwangi Naik, Namun Retribusi Masih Jauh Dari Target

Ricky Sulivan
Kunjungan Wisata Banyuwangi Naik, Namun Retribusi Masih Jauh Dari Target

Suara Pecari – 14 April 2026 | Kunjungan wisata ke Banyuwangi terus meningkat, namun penerimaan retribusi pariwisata masih jauh di bawah target yang ditetapkan. Data LKPJ Bupati 2025 menunjukkan pertumbuhan signifikan jumlah wisatawan domestik dan mancanegara.

Wisatawan domestik naik dari 3,28 juta pada 2024 menjadi 3,50 juta pada 2025, sementara wisatawan asing meningkat dari 122.90 ribu menjadi 166.99 ribu dalam periode yang sama. Peningkatan tersebut mencerminkan daya tarik alam dan budaya Banyuwangi yang semakin dikenal.

Meskipun kunjungan naik, PAD dari retribusi tempat wisata hanya tercapai 31 persen dari target tahun 2025. Target sebesar Rp 3,4 miliar hanya menghasilkan realisasi sekitar Rp 1,3 miliar.

Angka realisasi yang rendah memicu pertanyaan tentang efektivitas pengelolaan retribusi di destinasi wisata. Anggota DPRD Komisi III, Febri Prima Sanjaya, menilai adanya kemungkinan kebocoran sistemik dalam proses pengumpulan.

"Jika melihat angka kunjungan wisata ke Banyuwangi tahun 2025 sangat luar biasa, namun capaian penerimaan retribusi masih jauh dari target," ujar Febri dalam rapat Banggar Senin (13/4). Ia menekankan perlunya audit menyeluruh untuk mengidentifikasi penyebab selisih.

Salah satu faktor yang disorot adalah sistem e‑ticketing yang belum dimonitor secara optimal. Meskipun platform tersebut terintegrasi online, data real‑time mengenai jumlah pengunjung dan pembayaran retribusi belum sepenuhnya terjamin akurasinya.

Febri menambahkan, "Kita akan cari tahu apakah sistem ini masih efektif atau tidak, apalagi pelaksana tugas kepala dinasnya juga baru." Hal ini menandakan kepedulian terhadap kepemimpinan baru di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.

Untuk menindaklanjuti temuan, Komisi III DPRD berencana menggelar rapat kerja khusus dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta pengelola destinasi wisata. Agenda tersebut akan membahas perbaikan prosedur pencatatan, verifikasi pembayaran, dan mekanisme pelaporan.

Pemerintah Kabupaten diharapkan meningkatkan koordinasi antara unit operasional di lapangan dan sistem digital yang ada. Penyempurnaan prosedur dapat memperkecil selisih antara target PAD dan realisasi serta meningkatkan kepastian fiskal.

Analisis ekonomi lokal menunjukkan bahwa retribusi pariwisata berkontribusi signifikan terhadap pendapatan daerah, terutama untuk mendanai infrastruktur dan promosi destinasi. Kegagalan mengoptimalkan sumber pendapatan ini dapat menurunkan kualitas layanan bagi wisatawan.

Selain faktor teknis, transparansi akuntabilitas menjadi elemen penting dalam mengendalikan kebocoran. DPRD menekankan pentingnya laporan publik yang rutin dan mudah diakses oleh masyarakat.

Dengan langkah-langkah perbaikan yang direncanakan, diharapkan realisasi retribusi dapat mendekati target pada tahun anggaran berikutnya, sekaligus memperkuat posisi Banyuwangi sebagai destinasi wisata unggulan di Indonesia. Penutup menegaskan komitmen bersama untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan dana pariwisata.

Tinggalkan Balasan