Muhammad Tahir dan Suara Nelayan Cilincing Melawan Sempitnya Ruang Laut

Muhammad Tahir dan Suara Nelayan Cilincing Melawan Sempitnya Ruang Laut

Suara Pecari | Pagi hari di pesisir Cilincing kini diwarnai dengan suara mesin kapal dan deburan ombak, namun ketenangan nelayan mulai terganggu oleh proyek-proyek pembangunan kawasan industri dan pelabuhan besar. Di area Kalibaru dan Marunda, kapal-kapal besar hilir mudik hampir sepanjang hari, mengubah laut yang dulunya ramah menjadi wilayah yang dipenuhi reklamasi.

Di tengah perubahan ini, Muhammad Tahir, Ketua Paguyuban Nelayan Cilincing, menjadi suara perjuangan bagi nelayan tradisional Jakarta Utara. Bagi Tahir, laut bukan hanya sekadar tempat untuk mencari ikan, tetapi juga sebagai ruang hidup yang menopang tradisi dan keberlangsungan hidup keluarganya.

Tahir mengungkapkan, para nelayan tidak menentang pembangunan, tetapi mereka berharap pembangunan tidak merugikan kehidupan mereka. “Nelayan sebenarnya tidak anti pembangunan, kami paham negara sedang membangun. Tapi jangan sampai pembangunan mematikan kehidupan nelayan yang sudah lama hidup di sini,” ujarnya.

Ia mengenang masa lalu ketika nelayan hanya perlu mendayung beberapa ratus meter dari pantai untuk mendapatkan hasil tangkapan yang melimpah. Kini, nelayan harus berlayar lebih jauh, mengeluarkan biaya operasional yang semakin tinggi, dan kadang melaut hingga beberapa mil saat kondisi air keruh.

Biaya bahan bakar menjadi beban berat bagi nelayan kecil di Jakarta Utara, sementara hasil tangkapan terus berkurang karena semakin sempitnya area tangkap. Selain itu, banyak nelayan yang masih menambatkan perahu mereka di muara sungai yang dangkal, yang seringkali tertutup sedimen saat musim barat, menghambat aktivitas melaut mereka.

Tahir menekankan pentingnya pembangunan pelabuhan nelayan yang layak. Ia membayangkan adanya fasilitas pelelangan ikan, cold storage, dan pusat aktivitas ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan. “Kami butuh pelabuhan yang mendukung aktivitas kami, bukan hanya tempat bersandar,” tambahnya.

Ia juga menyatakan perlunya alat tangkap dan kapal yang lebih modern untuk menyesuaikan dengan area tangkap yang semakin jauh. Akses terhadap BBM subsidi yang lebih mudah juga menjadi salah satu harapan nelayan kecil agar mereka bisa bertahan di tengah tantangan yang ada.

Meski ada tekanan dari pembangunan, Tahir memilih jalan dialog ketimbang konflik. Ia percaya masih ada ruang untuk mencari solusi bersama pemerintah dan pengembang. Bagi para nelayan, Tahir bukan hanya ketua paguyuban, tetapi juga perwakilan suara yang mengingatkan pentingnya menjaga ruang hidup bagi nelayan tradisional.

Kondisi laut yang semakin jauh dari pesisir menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat nelayan di Jakarta Utara. Namun, Muhammad Tahir tetap optimis dan berusaha menjaga harapan agar nelayan tidak hilang di tengah pembangunan kota yang terus berjalan.

Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan