Blackout di Sumatra Ganggu Penjualan Toko Oleh-Oleh di Banda Aceh
Suara Pecari | Pemadaman listrik total yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatra, termasuk Banda Aceh, telah berdampak signifikan terhadap usaha kecil, khususnya toko oleh-oleh. Salah satu pemilik toko, Liya, mengungkapkan bahwa penjualannya menurun drastis saat pemadaman berlangsung dari waktu magrib hingga subuh.
Liya menjelaskan bahwa meskipun jalanan di sekitar tokonya ramai, pengunjung tidak berkunjung ke tokonya yang gelap. “Dampak sangat, orang ramai di jalan, tapi di toko saya enggak ada orang,” ujarnya saat ditemui di tokonya pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Selama pemadaman, Liya tetap membuka tokonya meski pelanggan kesulitan melihat barang dagangan. Ia mengaku belum memiliki genset untuk mendukung operasional tokomya, sehingga mengalami kerugian dari segi waktu dan material usaha.
“Dari hampir magrib, magrib lah kira-kira, subuh tadi baru hidup. Waktu, material, semua (terdampak),” tambahnya. Liya juga mencatat bahwa pemadaman listrik di Banda Aceh sebelumnya tidak pernah berlangsung selama itu, biasanya hanya beberapa jam.
Pemadaman listrik yang melanda Sumatra Bagian Utara terjadi akibat gangguan besar pada jaringan kelistrikan pada Jumat malam sekitar pukul 18.44 WIB. Gangguan ini menyebabkan pemadaman di berbagai daerah, termasuk Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Riau.
Akibat pemadaman tersebut, banyak aktivitas masyarakat terganggu, termasuk penggunaan internet dan penerangan rumah. Kegiatan usaha, terutama yang bergantung pada listrik, juga terhenti, menyebabkan kerugian bagi pemilik usaha.
Dalam konteks ini, penting bagi pemerintah dan pihak terkait untuk memperbaiki infrastruktur kelistrikan agar pemadaman serupa tidak terulang di masa mendatang. Hal ini demi mendukung kelancaran aktivitas masyarakat dan keberlangsungan usaha kecil yang sangat bergantung pada pasokan listrik.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.










