Perkins International Pilih Banyuwangi Jadi Studi Kasus Pendidikan Inklusif Nasional
BANYUWANGI – Komitmen Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dalam membangun pendidikan yang inklusif dan ramah disabilitas kembali mendapat pengakuan internasional. Kali ini, lembaga pendidikan global asal Amerika Serikat, Perkins International, memilih Banyuwangi sebagai studi kasus dalam lokakarya pengembangan pendidikan anak usia dini yang inklusif.
Melalui kegiatan bertajuk Perencanaan Strategis Pengembangan Anak Usia Dini yang Inklusif, Perkins International menghadirkan puluhan peserta dari berbagai kementerian, lembaga nasional, pemerintah daerah, hingga tenaga kesehatan untuk mempelajari praktik baik yang telah diterapkan Banyuwangi dalam memberikan layanan bagi anak-anak, khususnya penyandang disabilitas.
Lokakarya yang digelar di Kecamatan Kabat tersebut dihadiri perwakilan dari Kementerian Pendidikan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Komisi Nasional Disabilitas, serta berbagai perangkat daerah yang menangani sektor pendidikan, kesehatan, dan sosial.
Direktur Program Perkins wilayah Asia Pasifik, Ami Tango Limketkai, menilai Banyuwangi memiliki fondasi kuat dalam mewujudkan layanan publik yang inklusif. Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak lepas dari sinergi antara pemerintah daerah, masyarakat, dan berbagai komunitas yang selama ini berjalan secara konsisten.
“Banyuwangi sangat istimewa. Daerah ini memiliki kepemimpinan yang berpikiran inklusif dan terbuka terhadap perubahan yang berdampak nyata bagi kehidupan keluarga dan anak-anak, khususnya penyandang disabilitas. Kami berharap Banyuwangi dapat menjadi kabupaten percontohan di masa depan,” ujarnya saat membuka lokakarya, Selasa (2/6/2026).
Kerja sama antara Perkins International dan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi telah berlangsung selama beberapa tahun terakhir. Berbagai program peningkatan kapasitas guru dan pendamping anak disabilitas telah dilaksanakan sebagai bagian dari upaya memperkuat layanan pendidikan inklusif di daerah.
Salah satu hasil kolaborasi tersebut adalah program Sekolah Model, yang telah memberikan pelatihan kepada sekitar 170 guru Sekolah Luar Biasa (SLB). Materi yang diberikan mencakup strategi pembelajaran inklusif, pengelolaan kelas, penanganan anak autisme, bahasa isyarat, hingga dasar-dasar fisioterapi.
Dalam lokakarya yang berlangsung pada 3–4 Juni 2026 itu, peserta diajak menyusun strategi bersama guna meningkatkan akses dan kualitas layanan pengembangan anak usia dini secara inklusif. Kegiatan juga diisi dengan diskusi lintas sektor serta kunjungan lapangan ke sekolah model dan fasilitas kesehatan yang telah menerapkan layanan inklusif.
Ami menjelaskan, Banyuwangi dipilih karena dinilai berhasil menerjemahkan konsep inklusi ke dalam program nyata yang menyentuh langsung kebutuhan anak dan keluarga.
“Kami mengajak berbagai sektor untuk bekerja bersama dengan fokus pada pendidikan anak usia dini yang inklusif, intervensi kesehatan sejak dini, serta dukungan menyeluruh bagi anak dan keluarganya. Banyuwangi menjadi contoh praktik baik yang dapat dipelajari bersama,” katanya.
Sementara itu, Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyambut positif kepercayaan yang diberikan Perkins International. Menurutnya, pemilihan Banyuwangi sebagai lokasi sekaligus objek studi kasus menjadi motivasi untuk terus memperkuat kebijakan yang berpihak pada kelompok rentan dan penyandang disabilitas.
“Menjadi kehormatan bagi Banyuwangi dipilih sebagai tuan rumah sekaligus studi kasus dalam lokakarya ini. Kami siap menjadi living lab untuk pengembangan kebijakan pendidikan dan layanan anak usia dini yang inklusif,” ujar Ipuk.
Ia menambahkan, Banyuwangi terus mengembangkan berbagai program untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi seluruh warga tanpa terkecuali. Salah satunya melalui penerapan sekolah inklusi yang membuka akses pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus di seluruh satuan pendidikan.
Selain itu, pemerintah daerah juga menghadirkan ruang-ruang ekspresi bagi penyandang disabilitas melalui berbagai kegiatan, termasuk Festival Kita Bisa, serta memperkuat peran Unit Layanan Disabilitas (ULD) sebagai pusat identifikasi dini, pemeriksaan, pendampingan, dan sistem rujukan bagi penyandang disabilitas.
Melalui kolaborasi lintas sektor dan dukungan berbagai pihak, Banyuwangi terus memperkuat posisinya sebagai daerah yang mengedepankan kesetaraan akses pendidikan dan layanan publik bagi seluruh masyarakat, termasuk anak-anak dan penyandang disabilitas.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.












