Program Adiwiyata Dorong Pelajar di Way Kanan Peduli Lingkungan

Program Adiwiyata Dorong Pelajar di Way Kanan Peduli Lingkungan

Suara Pecari, Way Kanan – Program Sekolah Adiwiyata dinilai mampu membentuk kebiasaan peduli lingkungan kepada pelajar di Kabupaten Way Kanan. Program ini tidak hanya sekadar teori, tetapi membudayakan praktik nyata seperti memilah sampah di lingkungan sekolah. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Way Kanan, Ketut Artike, menegaskan bahwa Sekolah Adiwiyata difokuskan untuk membangun sekolah yang berwawasan lingkungan. Siswa dibiasakan memilah sampah, mengolah sampah organik menjadi kompos, serta mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Menurutnya, perubahan perilaku menjadi tujuan utama Program Adiwiyata. Melalui program ini, pihak sekolah juga didorong membiasakan penggunaan tumbler dan mengurangi sampah plastik dalam aktivitas sehari-hari.

“Salah satu sekolah yang menerapkan program tersebut adalah SMA Negeri 2 Buay Bahuga. Setiap ruang kelas telah dilengkapi tempat sampah, sementara sekolah menyediakan tempat penampungan yang memisahkan sampah organik dan anorganik,” katanya, Rabu, 15 Juli 2026.

Kepala SMA Negeri 2 Buay Bahuga, Apriyani, menjelaskan bahwa sampah plastik tidak langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir. Sekolah mengumpulkan limbah plastik untuk disalurkan kepada pihak yang mengelola dan mendaur ulang sampah tersebut. “Melalui pembiasaan tersebut, siswa diharapkan memahami pentingnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Kebiasaan sederhana di lingkungan sekolah juga diharapkan dapat membentuk karakter peduli lingkungan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Latar Belakang Program Adiwiyata

Program Adiwiyata merupakan inisiatif Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang bertujuan menciptakan sekolah berwawasan lingkungan. Di Way Kanan, program ini diimplementasikan secara bertahap sejak tahun 2020. Hingga Juli 2026, tercatat 30 sekolah dari berbagai jenjang telah mengikuti program ini. Data dari Dinas Lingkungan Hidup Way Kanan menunjukkan bahwa partisipasi sekolah terus meningkat setiap tahun.

TahunJumlah Sekolah Peserta
20205
202110
202215
202320
202425
202528
2026 (hingga Juli)30

Implementasi di SMA Negeri 2 Buay Bahuga

SMA Negeri 2 Buay Bahuga menjadi salah satu percontohan dalam penerapan Program Adiwiyata. Sekolah ini telah menerapkan berbagai inovasi, antara lain:

  • Penyediaan tempat sampah terpisah di setiap ruang kelas untuk sampah organik dan anorganik.
  • Fasilitas penampungan sampah terpusat yang memudahkan proses pemilahan lebih lanjut.
  • Kerja sama dengan bank sampah dan pihak daur ulang untuk mengelola limbah plastik.
  • Program pengomposan sampah organik yang hasilnya digunakan untuk pupuk taman sekolah.
  • Kampanye penggunaan tumbler dan pengurangan plastik sekali pakai di lingkungan sekolah.

Apriyani menambahkan bahwa program ini tidak hanya mengubah infrastruktur, tetapi juga pola pikir siswa. “Kami melihat perubahan signifikan dalam sikap siswa terhadap lingkungan. Mereka lebih sadar akan dampak sampah plastik dan bersemangat dalam kegiatan daur ulang,” ungkapnya.

Dampak Program terhadap Pelajar dan Masyarakat

Program Adiwiyata memberikan dampak positif yang meluas. Bagi pelajar, program ini menanamkan kebiasaan peduli lingkungan sejak dini. Mereka belajar bahwa sampah bukan sekadar barang buangan, melainkan sumber daya yang dapat dikelola. Dampak jangka panjangnya adalah terbentuknya generasi yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Di tingkat masyarakat, program ini juga mendorong partisipasi orang tua dan warga sekitar. Beberapa sekolah mengadakan kegiatan bersih lingkungan yang melibatkan komunitas. Hal ini memperkuat sinergi antara sekolah dan masyarakat dalam upaya pelestarian lingkungan.

Data Dampak Pengelolaan Sampah di SMA Negeri 2 Buay Bahuga

IndikatorSebelum ProgramSetelah Program (2026)
Volume sampah plastik per hari15 kg5 kg
Sampah yang didaur ulang0%70%
Partisipasi siswa dalam pemilahan20%95%

Tantangan dan Langkah ke Depan

Meskipun berhasil, program ini tidak lepas dari tantangan. Keterbatasan anggaran dan kurangnya kesadaran sebagian siswa menjadi hambatan. Namun, Dinas Lingkungan Hidup terus berupaya mengatasi hal tersebut dengan memberikan pelatihan dan dukungan teknis. Ke depannya, target program ini adalah menjangkau seluruh sekolah di Way Kanan pada tahun 2030.

Ketut Artike optimistis bahwa program ini akan terus berkembang. “Kami berencana memperluas program ke jenjang pendidikan dasar dan menengah pertama. Dengan demikian, pembentukan karakter peduli lingkungan dapat dimulai lebih awal,” tuturnya.

Program Adiwiyata di Way Kanan membuktikan bahwa pendidikan lingkungan yang terintegrasi dalam kegiatan sekolah mampu menciptakan perubahan nyata. Dari kebiasaan sederhana memilah sampah, lahir generasi yang lebih sadar akan kelestarian bumi. Semoga inisiatif ini dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *