Riset LPEM FEB UI: Lulusan Indonesia Rata-Rata Butuh 19,8 Bulan Cari Kerja, Apa Solusinya?
Suara Pecari | Jakarta – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) baru saja merilis riset yang mengungkap fakta mengejutkan: rata-rata lulusan Indonesia membutuhkan waktu hampir dua tahun untuk mendapatkan pekerjaan pertama setelah lulus. Tepatnya, durasi rata-rata mencapai 19,8 bulan. Temuan ini berdasarkan analisis data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2025 untuk penduduk usia 15 tahun ke atas. Senior Research Assistant LPEM FEB UI, M. Fajar Ramadhan, mengungkapkan bahwa angka ini menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan antara dunia pendidikan dan dunia kerja.
Durasi Pencarian Kerja Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Fajar menjelaskan bahwa lamanya masa transisi sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Lulusan perguruan tinggi cenderung membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan lulusan SMA atau SMK. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk ketidaksesuaian keterampilan yang diajarkan di bangku kuliah dengan kebutuhan industri, serta ekspektasi upah yang lebih tinggi dari lulusan universitas.
| Tingkat Pendidikan | Rata-rata Durasi Cari Kerja (bulan) | Faktor Utama |
|---|---|---|
| SMA/SMK | 12-15 | Ketersediaan lowongan tanpa syarat ketat |
| Diploma (D3) | 16-18 | Keterampilan spesifik namun persaingan tinggi |
| Sarjana (S1) | 19,8 (rata-rata keseluruhan) | Ketidaksesuaian keterampilan dan ekspektasi upah tinggi |
| Pascasarjana (S2/S3) | >24 | Spesialisasi sempit dan lowongan terbatas |
Data di atas menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan. Hal ini menjadi ironi karena investasi pendidikan yang lebih besar tidak serta-merta mempercepat akses ke pasar kerja.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Lama Pencarian Kerja
Ketidaksesuaian Keterampilan dengan Kebutuhan Industri
Salah satu temuan kunci riset LPEM FEB UI adalah adanya kesenjangan antara keterampilan yang dimiliki lulusan dengan yang dibutuhkan oleh industri. Fajar menekankan bahwa banyak lulusan perguruan tinggi yang memiliki pengetahuan teoretis kuat namun kurang dalam keterampilan praktis seperti komunikasi, kerja tim, dan pemecahan masalah. Di sisi lain, lowongan pekerjaan yang tersedia justru banyak yang tidak memerlukan kualifikasi tinggi, sehingga lulusan SMA/SMK lebih cepat terserap.
Ekspektasi Upah yang Tidak Realistis
Faktor lain yang signifikan adalah ekspektasi upah. Lulusan perguruan tinggi cenderung memiliki harapan pendapatan yang lebih besar, sehingga mereka lebih selektif dalam memilih pekerjaan. Hal ini menyebabkan masa pencarian menjadi lebih panjang. Fajar menambahkan, “Mereka sering menolak tawaran dengan gaji di bawah standar yang diharapkan, padahal pengalaman pertama sangat penting untuk membangun karier.”
Dampak dan Implikasi bagi Berbagai Pihak
Fenomena ini membawa dampak luas, tidak hanya bagi individu pencari kerja, tetapi juga bagi perekonomian nasional. Berikut adalah beberapa implikasi utama:
- Bagi Lulusan: Masa transisi yang panjang dapat menyebabkan frustrasi, penurunan motivasi, dan bahkan depresi. Selain itu, keterampilan yang dimiliki bisa menjadi usang selama masa menunggu.
- Bagi Perguruan Tinggi: Hasil riset ini menjadi kritik terhadap kurikulum yang kurang relevan. Perguruan tinggi perlu mereformasi program studi agar lebih sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
- Bagi Pemerintah: Data ini menunjukkan pentingnya kebijakan yang mendorong pelatihan vokasi dan informasi lowongan kerja yang lebih transparan. Pemerintah juga perlu memfasilitasi program magang dan kerja sama dengan industri.
- Bagi Industri: Perusahaan perlu membuka lebih banyak kesempatan bagi lulusan baru, termasuk program pelatihan internal yang tidak mensyaratkan pengalaman.
Kronologi dan Konteks Lebih Luas
Riset LPEM FEB UI ini dirilis pada pertengahan 2026, namun data yang digunakan adalah Sakernas Agustus 2025. Artinya, situasi ini sudah berlangsung setidaknya setahun sebelumnya. Dalam konteks yang lebih luas, masalah pengangguran terdidik bukan hal baru di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) untuk lulusan universitas masih tinggi, bahkan cenderung meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pandemi COVID-19 yang lalu juga memperparah kondisi ini karena banyak perusahaan melakukan efisiensi.
Rekomendasi dan Langkah ke Depan
Fajar mendorong peningkatan pelatihan dan informasi lowongan kerja. “Lembaga pendidikan perlu menyesuaikan program dengan kebutuhan pasar kerja,” ujarnya. Beberapa langkah konkret yang bisa diambil antara lain:
- Mengintegrasikan program magang wajib ke dalam kurikulum.
- Menyediakan pusat karier yang aktif menghubungkan mahasiswa dengan perusahaan.
- Mengadakan pelatihan soft skills secara berkala.
- Mendorong entrepreneur dan startup sebagai alternatif karier.
Selain itu, pemerintah dapat memberikan insentif bagi perusahaan yang merekrut lulusan baru, serta memperluas program Kartu Prakerja yang sudah ada.
Pada akhirnya, data hampir 20 bulan ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari ketidakseimbangan ekosistem pendidikan dan ketenagakerjaan di Indonesia. Diperlukan sinergi antara pemerintah, institusi pendidikan, industri, dan individu untuk memangkas masa transisi yang panjang ini. Jika tidak, bonus demografi yang seharusnya menjadi keuntungan justru bisa berubah menjadi beban. Sudah saatnya kita bergerak bersama menciptakan jembatan yang lebih kokoh antara dunia kampus dan dunia kerja.
Artikel ini dipublikasikan oleh Suara Pecari.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.











