Gelar Sosialisasi, DWP Gunungsitoli Bentuk Generasi Berkarakter di Era Digital

Gelar Sosialisasi, DWP Gunungsitoli Bentuk Generasi Berkarakter di Era Digital

Latar Belakang: Urgensi Literasi Digital Sejak Dini

Suara Pecari, Di tengah derasnya arus informasi digital, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terpapar dampak negatif media sosial. Data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) pada 2025 menunjukkan bahwa 70% anak Indonesia usia 6–12 tahun telah memiliki akses terhadap gawai dan internet. Tanpa pendampingan yang tepat, mereka bisa terjebak dalam konten tidak pantas, perundungan siber, hingga pencurian data pribadi. Menyadari hal tersebut, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Gunungsitoli mengambil inisiatif untuk menggelar sosialisasi edukasi media sosial bagi anak usia dini. Kegiatan ini merupakan wujud nyata dalam bidang pemberdayaan pendidikan, ekonomi, dan sosial budaya, sekaligus menjawab kebutuhan mendesak akan literasi digital di kalangan pelajar.

Kronologi dan Pelaksanaan Kegiatan

Acara berlangsung pada Selasa, 21 Juli 2026, bertempat di Aula UPTD SD Negeri 075018 Afilaza, Kecamatan Gunungsitoli. Kegiatan dipimpin langsung oleh Ketua DWP Kota Gunungsitoli, Ny. Pitha Andhika Laoly. Sebanyak tiga sekolah dasar menjadi peserta, yaitu:

  • UPTD SDN 075018 Afilaza (sekolah tuan rumah)
  • UPTD SDN 070976 Gunungsitoli
  • UPTD SDN 070977 Gunungsitoli

Mengusung tema “Edukasi Bijak Bermedia Sosial Mewujudkan Generasi Cerdas, Aman, dan Berkarakter di Era Digital”, sosialisasi ini dihadiri oleh puluhan siswa perwakilan dari masing-masing sekolah, para guru pendamping, serta jajaran pengurus DWP.

Sambutan Ketua DWP: Media Sosial sebagai Pisau Bermata Dua

Dalam sambutannya, Ny. Pitha Andhika Laoly menekankan pentingnya menanamkan pemahaman bermedia sosial yang aman dan bertanggung jawab kepada peserta didik guna menghadapi pesatnya perkembangan teknologi. Ia mengibaratkan media sosial seperti pisau bermata dua — sangat berguna jika dipakai dengan benar, namun berbahaya jika disalahgunakan. “Gawai dan internet telah menyatu dengan kehidupan sehari-hari anak-anak. Kehadiran teknologi membawa banyak dampak positif sebagai media belajar, interaksi, kreativitas, serta pengembangan diri. Namun, kemudahan ini datang bersama tantangan yang menuntut kewaspadaan,” ujarnya. Ketua DWP juga mengimbau para siswa untuk tidak mudah memercayai informasi hoaks, menjaga kerahasiaan data pribadi, serta menjauhi segala bentuk cyberbullying. Ia turut menyoroti dampak negatif media sosial terhadap kesehatan mental anak, seperti kecemasan dan depresi akibat penggunaan berlebihan.

Pemaparan Materi oleh Ahli

Acara dilanjutkan dengan agenda pemaparan materi oleh Kepala Bidang Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak (P3A) DP5A Kota Gunungsitoli, Betty Novriani Waruwu, S.K.M. Materi yang disampaikan mencakup empat pilar utama literasi digital:

TopikDeskripsi
Bijak Bermedia SosialMemahami etika berkomentar, membedakan fakta dan opini, serta menghindari penyebaran konten negatif.
Keamanan DigitalMengenali ancaman seperti virus, phishing, dan malware; cara melindungi perangkat.
Proteksi Data PribadiTidak membagikan alamat, nomor telepon, password, dan foto pribadi secara sembarangan.
Pencegahan Perundungan SiberMengidentifikasi bentuk cyberbullying, cara melapor, dan membangun empati di dunia maya.

Sepanjang sesi, para peserta didik tampak antusias menyampaikan pertanyaan dalam diskusi interaktif. Beberapa siswa bertanya tentang cara membedakan berita hoaks dan bagaimana merespons ketika melihat teman di-bully di media sosial. Narasumber menjawab dengan jelas dan memberikan contoh konkret yang sesuai dengan usia mereka.

Dampak dan Implikasi bagi Pendidikan dan Masyarakat

Kegiatan sosialisasi ini memiliki dampak yang luas. Pertama, dari segi pendidikan, para siswa mendapatkan bekal pengetahuan praktis yang dapat langsung diterapkan dalam keseharian mereka. Kedua, pihak guru dan orang tua diingatkan kembali akan pentingnya peran pendampingan. Ketua DWP menegaskan, “Sinergi kuat antara sekolah, orang tua, dan masyarakat merupakan kunci utama dalam menciptakan ruang digital yang aman, positif, dan ramah anak.” Implikasi jangka panjangnya, jika sosialisasi serupa dilakukan secara berkelanjutan, akan tercipta generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga memiliki karakter kuat dalam menghadapi tantangan digital. Pemerintah daerah pun diharapkan dapat mengadopsi model kegiatan ini sebagai program prioritas di seluruh sekolah dasar di Kota Gunungsitoli.

Apresiasi dan Penutup

Sebelum resmi ditutup, panitia membagikan bingkisan kepada para peserta sebagai bentuk apresiasi. Momen ini disambut dengan riang gembira oleh anak-anak. Melalui kegiatan seperti ini, DWP Gunungsitoli telah menunjukkan komitmen nyata dalam membangun ekosistem digital yang sehat dan berkarakter. Anak-anak bukan hanya diajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga dibekali nilai-nilai moral yang akan menuntun mereka menjadi warga digital yang bertanggung jawab. Dengan semangat gotong royong antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan organisasi perempuan, harapan akan generasi emas Indonesia yang melek digital dan berakhlak mulia bukanlah sekadar angan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *