Hijaukan Lapas, Pakcoy Hidroponik Lapas Sarolangun Perkuat Ketahanan Pangan
Suara Pecari, Komitmen Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Sarolangun dalam mendukung program ketahanan pangan kembali membuahkan hasil. Melalui kebun hidroponik yang dikelola di lingkungan Lapas, Kalapas bersama petugas dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) berhasil memanen sayur pakcoy segar yang selanjutnya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dapur Lapas. Panen pakcoy ini menjadi bukti bahwa keterbatasan lahan bukan menjadi penghalang untuk menghasilkan pangan yang sehat, berkualitas, dan bermanfaat. Dengan memanfaatkan sistem hidroponik, sayuran tumbuh subur, higienis, serta siap dikonsumsi sebagai bahan makanan bagi Warga Binaan.
Latar Belakang Program Hidroponik di Lapas Sarolangun
Lapas Kelas IIB Sarolangun, yang berlokasi di Provinsi Jambi, memiliki lahan terbatas namun memiliki semangat besar untuk berkontribusi pada ketahanan pangan nasional. Program hidroponik dimulai sebagai solusi kreatif atas keterbatasan lahan, sekaligus sebagai sarana pembinaan kemandirian bagi WBP. Kepala Lapas Kelas IIB Sarolangun, Ibnu Faizal, menjelaskan bahwa program budidaya hidroponik tidak hanya bertujuan mendukung program ketahanan pangan, tetapi juga menjadi sarana pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan agar memiliki keterampilan yang bermanfaat ketika kembali ke masyarakat. “Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen kami dalam mendukung program ketahanan pangan sekaligus memberikan pembinaan keterampilan kepada Warga Binaan. Hasil panen pakcoy hari ini dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dapur Lapas sehingga manfaatnya dapat langsung dirasakan. Harapannya, keterampilan bercocok tanam dengan sistem hidroponik ini menjadi bekal positif bagi Warga Binaan setelah selesai menjalani masa pidana,” ujar Kalapas Ibnu Faizal, Selasa 21 Juli 2026.
Proses Budidaya Hidroponik: Dari Penyemaian hingga Panen
Kegiatan hidroponik di Lapas Sarolangun melibatkan serangkaian tahapan yang dilakukan secara disiplin dan terjadwal. Berikut adalah tahapan utama dalam budidaya pakcoy hidroponik:
| Tahapan | Deskripsi | Durasi |
|---|---|---|
| Penyemaian | Benih pakcoy disemai dalam media rockwool atau spons, ditempatkan di tempat yang teduh dan lembab. | 7-10 hari |
| Pemindahan ke Sistem Hidroponik | Bibit yang telah memiliki 2-4 daun sejati dipindahkan ke pipa atau netpot dengan sistem NFT (Nutrient Film Technique). | 1 hari |
| Perawatan dan Pemberian Nutrisi | Larutan nutrisi AB Mix diberikan secara berkala, pH dan EC dijaga sesuai standar. | Setiap hari |
| Pemanenan | Pakcoy siap panen setelah 30-35 hari sejak penyemaian, dengan kriteria daun segar dan batang kokoh. | 1 hari |
Kepala Seksi Binadik dan Giatja, Mas Bayu Kumara menjelaskan, kegiatan budidaya hidroponik merupakan bagian dari program pembinaan yang dirancang agar Warga Binaan memiliki aktivitas yang produktif sekaligus memperoleh keterampilan praktis. “Kami ingin pembinaan di Lapas benar-benar memberikan manfaat nyata. Melalui kegiatan hidroponik ini, Warga Binaan tidak hanya belajar teknik bercocok tanam modern, tetapi juga dibiasakan untuk disiplin, bekerja sama, dan bertanggung jawab dalam setiap prosesnya. Keterampilan seperti ini diharapkan dapat menjadi bekal ketika mereka kembali ke masyarakat,” kata Mas Bayu Kumara.
Manfaat Langsung dan Dampak Program
Hasil panen pakcoy hidroponik di Lapas Sarolangun memberikan manfaat langsung bagi kebutuhan dapur Lapas. Sayuran segar yang dihasilkan dapat memenuhi sebagian kebutuhan pangan WBP, sehingga mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar. Selain itu, program ini juga memberikan dampak positif dalam berbagai aspek:
- Peningkatan Keterampilan: WBP mendapatkan keterampilan teknis budidaya hidroponik yang dapat menjadi bekal wirausaha setelah bebas.
- Pembinaan Karakter: Kegiatan ini menanamkan nilai-nilai disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan kepedulian terhadap lingkungan.
- Efisiensi Anggaran: Penghematan biaya pengadaan sayur untuk dapur Lapas, sehingga anggaran dapat dialokasikan untuk kebutuhan lain.
- Ketahanan Pangan: Kontribusi nyata terhadap program ketahanan pangan nasional, meskipun dalam skala kecil.
Hal senada disampaikan Kepala Subseksi Bimbingan Kerja (Bimker), Mahfudin. Menurutnya, keberhasilan panen pakcoy merupakan hasil kerja sama antara petugas dan Warga Binaan yang secara konsisten melakukan penyemaian, perawatan, pemberian nutrisi, hingga pemanenan sesuai standar budidaya hidroponik. “Kami terus melakukan pendampingan agar Warga Binaan memahami setiap tahapan budidaya hidroponik dengan baik. Hasil panen hari ini menunjukkan bahwa pembinaan kemandirian dapat menghasilkan produk yang berkualitas sekaligus memberikan manfaat langsung bagi kebutuhan dapur Lapas. Ke depan, kami akan terus mengembangkan jenis tanaman hidroponik lainnya agar program ini semakin produktif,” ujar Mahfudin.
Implikasi dan Rencana Pengembangan
Program hidroponik di Lapas Sarolangun diharapkan dapat menjadi model bagi lapas-lapas lain di Indonesia. Dengan lahan yang terbatas, sistem hidroponik terbukti mampu menghasilkan sayuran berkualitas tinggi secara berkelanjutan. Ke depan, Lapas Sarolangun berencana untuk memperluas jenis tanaman yang dibudidayakan, seperti selada, kangkung, dan sawi, serta meningkatkan kapasitas produksi. Selain itu, program ini juga membuka peluang kerja sama dengan pihak eksternal, seperti dinas pertanian atau perusahaan swasta, untuk pengembangan lebih lanjut.
Dampak dari program ini tidak hanya dirasakan di dalam lapas, tetapi juga memberikan inspirasi bagi masyarakat sekitar tentang pentingnya inovasi dalam ketahanan pangan. Keterbatasan lahan bukan lagi alasan untuk tidak produktif. Dengan teknologi sederhana, siapa pun dapat berkontribusi pada ketersediaan pangan yang sehat dan ramah lingkungan.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan ketidakpastian pangan global, inisiatif seperti yang dilakukan Lapas Sarolangun menjadi contoh nyata bahwa setiap elemen masyarakat, termasuk institusi pemasyarakatan, dapat berperan aktif dalam memperkuat ketahanan pangan. Program ini juga membuktikan bahwa pembinaan di lapas tidak hanya berorientasi pada hukuman, tetapi juga pada pemberdayaan dan reintegrasi sosial.
Keberhasilan panen pakcoy hidroponik ini menjadi momentum untuk terus mengembangkan program serupa. Dengan semangat gotong royong dan inovasi, Lapas Sarolangun menunjukkan bahwa pemasyarakatan bisa menjadi agen perubahan yang positif. Warga Binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga dibekali keterampilan dan karakter yang akan membuat mereka siap kembali ke masyarakat sebagai individu yang produktif dan mandiri.
Melalui kegiatan ini, Lapas Sarolangun terus menunjukkan bahwa pemasyarakatan bukan hanya tempat menjalani pidana, tetapi juga menjadi wadah pembinaan yang produktif, inovatif, dan berorientasi pada pemberdayaan. Dengan demikian, Warga Binaan diharapkan memiliki keterampilan, pengalaman, dan kepercayaan diri untuk kembali berkontribusi secara positif di tengah masyarakat setelah menyelesaikan masa pidananya.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.










