Viral! Aksi Polisi Humanis di Bengaluru dan Aizawl Kontras dengan Kekerasan di Delhi

Viral! Aksi Polisi Humanis di Bengaluru dan Aizawl Kontras dengan Kekerasan di Delhi

Suara Pecari, Video viral kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, unggahan di media sosial memperlihatkan perbedaan mencolok antara penanganan aksi protes oleh kepolisian di beberapa daerah. Sejumlah video viral dari Bengaluru dan Aizawl menunjukkan pendekatan humanis aparat, sementara di Delhi dan Patna, bentrokan keras terjadi. Fenomena ini memicu perdebatan tentang metode pengamanan demonstrasi di Indonesia.

Video viral dari Aizawl, Mizoram, memperlihatkan polisi berdiri di tengah-tengah pengunjuk rasa dan pengguna jalan, mengatur lalu lintas dengan tenang. Para demonstran terlihat tertib memegang plakat, sementara petugas membantu kelancaran kendaraan. Unggahan serupa dari Bengaluru juga viral, di mana polisi wanita dengan ramah meminta para pengunjuk rasa pulang karena akan turun hujan. “Ini cara mereka membubarkan massa tanpa menggunakan pentungan,” tulis seorang pengguna Instagram dalam video yang diunggah oleh akun _mabel_zach_william_. Warganet pun memuji pendekatan ini, menyebutnya sebagai contoh penanganan damai yang patut ditiru.

Sementara itu, di Delhi, aksi Cockroach Janta Party (CJP) yang menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan terkait kebocoran soal NEET berujung bentrok. Polisi Delhi dikritik keras karena dianggap brutal, menggunakan lathi charge dan gas air mata yang kedaluwarsa. Namun, di tengah kontroversi, muncul video viral lain yang memperlihatkan mantan juru bicara CJP, Vijeta Dahiya, dipecat setelah videonya makan burger di restoran cepat saji dekat lokasi protes tersebar luas. Dahiya mengaku sakit hati dan merasa dijadikan kambing hitam, sementara ia sebelumnya membela ketua CJP yang juga terekam video viral sedang makan kachori.

Di Patna, video viral memperlihatkan Patna West SP Sanket Kumar berteriak kepada anak buahnya, “Jika kalian mundur, saya tidak akan membuat kalian layak bekerja!” sebelum polisi menyerbu demonstran. Bentrokan tersebut menyebabkan sejumlah polisi dan wartawan terluka, serta kerusakan kendaraan. Aksi ini menjadi kontras dengan pendekatan di Bengaluru dan Aizawl yang justru mendapat apresiasi luas.

Video viral dari berbagai daerah ini menunjukkan bahwa penanganan protes yang humanis bukanlah hal mustahil. Publik berharap aparat keamanan di seluruh Indonesia dapat belajar dari contoh positif tersebut, sehingga aksi demonstrasi dapat berlangsung aman dan damai tanpa kekerasan. Kesimpulannya, perbedaan pendekatan polisi dalam menangani protes menjadi cermin bagi profesionalisme dan empati aparat, yang pada akhirnya menentukan citra institusi di mata masyarakat.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial Suara Pecari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *